Keagamaan

PA 212 Demo 2503;  Mau Apa Lagi? | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212 hari ini  Jumat (25/3) kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara.  Aksi PA 212 demo ini diberi tema  ‘Bela Islam 2503’.

Yang dalam rilisnya di beberapa media, PA 212 demo 2503 ini menuntut penangkapan penista agama. Yang salah satunya menyasar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Yang beberapa waktu lalu viral pernyataannya terkait suara adzan. 

Terkait hal ini, sungguh amat disayangkan, umat Islam Nusantara menjadi “kagetan”. Ketika terjadi fenomena, tanpa crosscheck terlebih dahulu, lantas mencaci maki. Harusnya jika ada yang diperselisihkan atau tidak setuju, eloknya disampaikan dengan yang baik. Amar bil ma’ruf itu harus dengan cara yang ma’ruf, jangan kotori amar bil ma’ruf dengan mekanisme yang munkar. 

Budaya seperti ini hampir mengakar, seluruh khalayak langsung geram ketika terjadi fenomena tertentu, padahal mereka belum bertabayyun dengan yang bersangkutan. Terlebih dalam kasus Gus Menag, yang mana beliau dicap sebagai penista agama, hanya karena pernyataan kontroversialnya. 

Sebenarnya ini harus dilihat dengan jeli, pernyataannya Gus menag itu arahnya ke Tamsil (memberikan permisalan), bukan tasybih (menyerupakan). Namun sebaiknya memang harus berhati-hati dalam beretorika, sebab takutnya ada yang salah paham. Ala kulli hal, Peraturannya yang dibuat pun sesuai dengan fikih, literatur klasik dan kontemporer banyak yang membahasnya. 

Aturan Pengaturan Suara Toa Sesuai Syariat

Terlebih peraturan pengerasan suara adzan hanya tertentu pada daerah yang multi agama, bahkan dalam fikih pun, jika dengan dzikir keras bisa mengganggu orang lain yang beribadah, maka juga tidak diperbolehkan. Mari simak keterangan berikut:

(مسألة ك) لايكره فى المسجد الجهر بالذكر بأنواعه ومنه قراءة القران إلا إن شوش على مصل أو آذى نائما بل إن كثر التأذى حرم فيمنع منه حينئذ.

Fatwa Syekh Sulaiman Al-Kurdi: dzikir dengan segala macam jenisnya (termasuk juga adzan), dan membaca al-quran di masjid dengan suara yang keras itu tidak makruh. Hanya saja, ketika dzikir kerasnya bisa mengganggu orang yang sholat atau orang yang tidur, maka dihukumi makruh. 

Namun jika kerasnya suara tersebut sampai pada taraf menyakiti, maka hukumnya haram.  Maka tidak diperbolehkan untuk mengeraskannya. (Sayyid Abdurrahman Ba’alawi, Bughyat Al-Mustarsyidin, h. 66).

Pentingnya Literasi 

Jadi, perbanyaklah membaca, kurangi mencela. Dudukkan perkara pada konteksnya, serta jangan serampangan dalam berbicara. Takut seperti konteks ini, mengatasnamakan umat Islam untuk menyerang Menag, padahal isi peraturannya sesuai fikih. Ini justru berpotensi membuat malu diri sendiri.  

Seyogianya tingkatkan literasi, biar tidak ingkar sana-sini. Seharusnya bertabayyun dulu, harus bijak dalam menyikapi permasalahan, tidak elok jika terburu-buru menyalahkan. 

Mirisnya, masyarakat kita sudah terjangkit vonis justifikasi, bahkan sindrom caci maki. Ketika tidak sesuai dengan yang diketahui, lantas menyerang dari segala lini. Bahkan tak segan untuk mencaci maki. Agaknya hadis ini harus sampai pada mereka:

الْكَبِيرَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّمَانُونَ وَالتِّسْعُونَ وَالْحَادِيَةُ وَالتِّسْعُونَ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ: سَبُّ الْمُسْلِمِ وَالِاسْتِطَالَةُ فِي عِرْضِهِ … إلى أن قال… عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «سِبَابُ الْمُسْلِمِ فِسْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ».

Dosa besar selanjutnya adalah mencaci seorang  muslim dan mencemarkan nama baiknya. Berdasarkan sabdanya Rasulullah saw yang berbunyi ” Mencela orang muslim itu merupakan perbuatan yang fasik, dan membunuhnya (tanpa ada legitimasi syar’i) merupakan perbuatan yang menyebabkan kafir”. (Al-Zawajir An Iqtiraf al-Kabair, II/92)

Etika Menyampaikan Aspirasi di Depan Umum 

Dengan demikian, melakukan tindakan yang berpotensi menyakiti orang muslim itu tidak diperbolehkan. Contohnya sering kita lihat dalam demonstrasi, semisal mencaci maki, membakar fotonya, menginjak fotonya, atau bahkan mengedit fotonya dengan gambar yang tidak elok. Maka dari itu, mari saling menjaga sesama muslim. 

Namun, jika memang tidak setuju dengan orang lain, maka kritiklah dengan bijak. Tempuhlah mekanisme yang telah disediakan, demonstrasi itu riskan mengundang mudarrat. Membela agama harus dengan cara yang terhormat, sebab jika tidak, maka justru akan mencemarkan agama Islam sendiri.

Syaikh Prof. Dr. Wahbah Zuhaili menjelaskan:

“Ketika kaum muslimin membaiat seorang pemimpin, maka kita wajib mentaatinya (selama tidak melanggar syariat). Maka dari itu, perundang-undangan dan peraturan yang berasak darinya, wajib bagi rakyat untuk mentaati dan melaksanakannya.

Namun jika seorang pemimpin salah dalam mengambil kebijakan, meski tidak bersinggungan dengan syariat, maka wajib bagi rakyat untuk menasehatinya dengan baik. Adapun ketika pemimpin membuat peraturan yang maksiat atau melanggar syariat, maka tidak wajib mentaatinya”. (Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu,VIII/6192)

Dalam konteks Gus Menag, maka agaknya harus dikaji ulang justifikasinya, serta mengurungkan niat untuk demonstrasi. Sebab tidak sesuai dengan keterangan-keterangan yang telah disebutkan. Sebagai closing statement, marilah kita menjadi warga yang baik sebagaimana keterangan berikut:

أولو الأمر:هم الذين وكل إليهم القيام بالشؤون العامة والمصالح المهمة. فيدخل فيهم كل من ولي أمرا من أمور المسلمين: من ملك ووزير ورئيس ومدير ومأمور وعمدة وقاض ونائب وضابط وجندي وقد أوجب الرسول صلى الله عليه وسلم على كل مسلم السمع لأوامر هؤلاء، والمبادرة إلى تنفيذها سواء آ كانت محبوبة له أم بغيضة إليه وَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ. فإذا دعونا إلى الحرب وبذل المال في سبيلها لبّينا الطلب. وإذا طالبونا بالضرائب المشروعة دفعناها. وإن طلبوا منا المساعدة على حفظ الشواطىء والمزارع من المياه الطاغية أجبنا … إلى أن قال… وهكذا نسمع كل ما أمروا به وننفذه، سواء وافق رغباتنا وميولنا أو خالفها، وسواء شق علينا أم سهل ما دام في المصلحة العامة، وما دام في دائرة الحلال المشروع. 

Yang dimaksud dengan ulil amri adalah pihak yang diserahi pekerjaan umum dan maslahat bersama. Maka termasuk di dalamnya, yaitu orang yang mengurus urusan kaum muslimim. Semisal Presiden, raja, menteri, direktur, penanggung jawab umum, hakim, wakil, elemen keamanan.

 Sungguh Rasulullah SAW memerintahkan ummat Islam untuk mendengarkannya, bersegera melaksanakan perintahnya. Baik yang memerintahkan itu kita sukai atau tidak, namun boleh jadi ia lebih baik dari kalian dalam berbagai segi. 

Ketika mereka mengajak untuk perang (defensif),dan dimintai donasi, maka kita harus mengabulkannya. Ketika mereka menarik pajak pada kita, niscaya kita akan membayarnya. Ketika kita diajak untuk menjaga fasilitas umum, maka kita harus menurutinya, semua perintahnya kita ikuti, baik sesuai dengan keinginan kita atau tidak. 

Bahkan ketika memberatkan kita, selagi dalam konteks kemaslahatan bersama dan tidak melanggat syariat, maka kita harus mentaatinya. (Al-adab Al-Nabawi h. 97) 

Maka dari itu, mari bijak menjadi seorang rakyat. Memang perlu melakukan kontrol sosial, namun harus dijiwai dengan nilai intelektual dan spiritual. Semoga Nusantara ini senantiasa dijaga oleh Allah Swt, Allahumma Aizzil islam wal muslim, Amin Ya Rabb.

Demikian penjelasan terkait PA 212 demo 2503, yang terkesan “mau apa lagi?” (Baca juga: Benarkah Klaim Shalat PA 212 di Tengah Jalan untuk Menghormati Waktu Shalat?)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.