Serbaserbi

Kisah Sayyidina Ali Bersedekah 6 Dirham Dibalas Kontan 300 Dirham

Keutamaan bersedekah tidak diragukan lagi keajaibannya. Apa yang dilakukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha layak kita jadikan teladan.

Di tengah keterbatasan mereka tetap ikhlas berbagi membantu orang lain. Uang 6 Dirham yang mereka infakkan di jalan Allah dibalas kontan 600 Dirham. Berikut kisahnya diceritakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury dalam Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ia berkata kalau Ali bin Abi Thalib memberitahunya: “Suatu ketika, Ali pulang dari menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) dan menuju rumahnya sampai ia menemui Fathimah , putri Rasulullah SAW.

Ali melihatnya tengah duduk sambil memintal bulu dan Salman Al-Farisi berada di depannya sambil mengulurkan bulu kepadanya. “Hai wanita mulia! Apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk makanan untamu?” tanya Ali.

“Demi Allah! Aku tidak memiliki apa-apa. Tetapi ini ada 6 (enam) Dirham yang aku dapatkan dari Salman karena memintal bulu dan aku berencana menggunakannya membeli makanan untuk Hasan radhiyallahu ‘anhu dan Husain radhiyallahu ‘anhu,” jawab Fathimah.

“Hai wanita mulia! Berikanlah 6 Dirham itu kepadaku,” pinta Ali Karramallahu Wajhah.

Kemudian Fathimah memberikan 6 dirham itu di telapak tangan Ali. Kemudian Ali pergi keluar membeli makanan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Siapa yang akan mengutangi Allah Yang Maha Mengatur Segala Urusan dan Yang Memenuhi Janji?” Kemudian Ali mendekati laki-laki itu dan memberikan 6 Dirham itu kepadanya.

Ali pun kembali pulang ke rumah Fathimah dengan tangan kosong. Ketika Fathimah melihatnya tanpa membawa apa-apa, ia pun menangis. “Wahai wanita mulia! Apa yang membuatmu menangis?” tanya Ali.

“Mengapa kamu datang kembali dengan tangan kosong?” tanya Fatimah.

“Wahai wanita mulia! Aku telah mengutangkan 6 Dirham itu kepada Allah,” jawab Ali.

“Sungguh kamu telah diberi taufik,” kata Fathimah.

Kemudian Ali keluar rumah hendak pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada seorang Baduwi yang sedang menuntun unta. Kemudian Ali mendekatinya. “Hai bapak Hasan! Belilah untaku ini!”

“Aku tidak punya harta buat membelinya.”

“Aku menjual unta ini kepadamu dengan transaksi jual beli ta’khir (membayar belakangan).”

“Berapa harganya?” “100 Dirham.”

“Baiklah! Aku beli.” Setelah unta itu terbeli, tiba-tiba ada Baduwi lain mendatangi Ali dan berkata: “Hai bapak Hasan! Apakah kamu menjual untamu?” “Iya! Aku menjualnya.”

“Berapa harganya?” “300 Dirham.” “Baiklah! Aku membeli untamu.”

Kemudian Baduwi itu membayar kontan 300 Dirham kepada Ali.

Kemudian Ali memegang tali kendali yang terpasang pada unta dan menyerahkannya kepada Baduwi. Setelah menerima 300 Dirham, Ali kembali ke rumah Fathimah.

Sesampai di rumah, Fathimah melihatnya dan ia tersenyum sembari berkata: “300 Dirham apa ini hai bapak Hasan!”

“Hai putri Rasulullah! Aku membeli unta dengan membayar belakangan dengan harga 100 Dirham. Kemudian aku menjual unta itu dengan harga 300 Dirham dan dibayar kontan,” jelas Ali.

“Sungguh kamu diberi taufik,” lanjut Fathimah.

Setelah itu, Ali keluar hendak menemui Rasulullah SAW. Ketika ia sampai di pintu masjid, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Ketika saling berhadapan, beliau berkata: “Hai bapak Hasan! Akankah kamu yang bercerita kepadaku atau aku yang bercerita kepadamu?”

“Anda yang bercerita kepadaku wahai Rasulullah!” jawab Ali.

Rasulullah bertanya: “Hai bapak Hasan! Apakah kamu mengenal orang Baduwi yang menjual unta kepadamu dan orang Baduwi yang membeli unta darimu?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” jawab Ali.

Rasulullah menjelaskan: “Beruntung sekali kamu hai Ali! Kamu mengutangi Allah 6 Dirham. Kemudian Allah memberimu 300 Dirham sebagai ganti dari masing-masing 6 Dirham adalah 50 Dirham. Baduwi yang pertama itu adalah Malikat Jibril ‘alaihissalam dan Baduwi yang kedua adalah Isrofil ‘alaihissalam.”

Dalam riwayat lain disebutkan “Baduwi yang kedua adalah Mikail ‘alaihissalam.”

Demikian kisah Ali yang sangat mengagumkam dan membuat Rasulullah SAW bangga padanya. Inilah keutamaan orang yang suka bersedekah. Barang siapa yang meminjami atau menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan pinjaman yang baik disertai niat yang ikhlas, maka Allah melipatgandakan ganti atau balasan yang berlipat kepadanya.

مَنۡ ذَا الَّذِىۡ يُقۡرِضُ اللّٰهَ قَرۡضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضۡعَافًا کَثِيۡرَةً 

Artinya: “Barang siapa mengutangi Allah dengan utang yang baik maka Allah akan melipatgandakan ganti yang banyak baginya…” (QS Al-Baqarah Ayat 245)

rhs)

Rusman H Siregar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.