Keagamaan

Belantika Banser dan Humor-Humor Tak Bertepi – Alif.ID

Ketika membaca buku Kisah-kisah Banser yang Mendebarkan ini, saya menerka-nerka akan menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan. Selesai menuntaskan semua kisah dalam buku ini, akhirnya rasa penasaran itu terbayarkan. Kisah-kisah di dalamnya ternarasikan dengan baik oleh penulis.

Nadhief Shidqi atau biasa akrab disapa Gus Nadhif berhasil memuaskan pembaca dengan kisah-kisah sederhanya ini. Kisah-kisah Banser, selama ini tak terkuak oleh elemen publik karena tak begitu tercatat oleh sejarah itu sendiri.

Lantas di dalamnya apakah kita akan  menemukan historiografis Banser? Mulai dari awal tercetusnya, hingga kiprah dan sepak terjangnya hingga kini. Tentu hal itu tidak akan kita temukan dalam buku setebal 137 halaman ini.

Buku ini memuat kisah-kisah Banser yang sering terpinggirkan oleh khalayak luas. Banser yang memiliki dedikasi besar untuk menjaga ulama dan pengaman berbagai ritus keagamaan. Melalui beberapa perjalanan yang Gus Nadhief lakukan, ia mencatat potongan-potong kisah Banser itu dari mulut ke mulut. Pula pengalaman pribadinya sendiri, terlebih ia aktif ikut dalam organisasi yang menaungi Banser. Dan kisah-kisah ini, ia juga peroleh melalui penuturan langsung dari para pelaku kisah tersebut.

Tentu Gus Nadhief menulis kisah-kisah di dalamnya ini untuk merepresentasikan karakter Banser yang berperilaku polos dan berhati tulus. kisah yang singkat atau pendek bukanlah kisah yang dipendek-pendekkan. Apalagi kisah-kisah tersebut berbalut humor. Artinya, bila kisah tersebut tidak mengundang gelak tawa dari pembacanya, maka secara fundamental kisah itu gagal membidik sasarannya.

Meskipun demikian, kadang humor yang baik juga tak selalu menimbulkan gelak tawa. Justru, humor yang garing namun tak menyinggung perasaan orang lain, akan memberi kesan bahwa lulucon yang dibuat bukanlah untuk merendahkan dan menyakiti perasaan orang. Namun hendak menjalin keakraban dari masing-masing personalnya.

Melaui kejeniusan Gus Nadhief, selipan-selipan humor itu mengalir begitu lancar tak terbendung. Tanpa mengurangi esensinya, kadang humor bersanding dengan agama. Kadang pula humor bersejajar dengan politik dan negara.

Dengan bakat kreativitasnya ini, Gus Nadhief benar-benar mempertaruhkannya untuk menuliskan kisah-kisah pendek ini secara serius. kepadatan, keringkasan, serta kesederhanaan yang dipertaruhkan bukanlah perkara gampang. Eskperimental yang kuat diperlukan sebagai elemen penyokong pada setiap derai kalimat, paragrafnya.

Karakter Banser yang polos melahirkan kelucuan-kelucuan yang tak terduga arahnya. Kepolosan bukanlah sebuah ketololan atau kebodohan dalam berperilaku. Justru berperilaku polos adalah cara terampuh mempertegas kita, bahwa kita adalah manusia yang menyukai kesantunan, menghormati sesama, dan memperhambat ketersitegangan atas yang lain.

Jiwa muda adalah jiwa yang menggebu-gebu. Tak terkecuali jiwa muda Banser yang senantiasa mereka pupuk untuk siaga mengawal keutuhan NKRI. Segala gelak tawa yang mengisi belantika kegiatan Banser, adalah kesediaan mereka untuk menanggung beban-beban kesadisan kaum radikalis yang suka menimbulkan konflik horisontal berkepanjangan.

Membaca Kisah-kisah Banser yang Mendebarkan memungkinkan kita benar-benar masuk dalam panorama kisah-kisah yang lucu, menggelikan, dan penuh dengan ketidak terdugaan. Sampai akhir halaman pun, tak henti-hentinya saya terkekeh bahagia menikmati sajian-sajian kisah yang ada.

Kisah-kisah lain pun turut andil mengekplorasikan sisi humoris dari beberapa ulama kenamaan. Seperti kisah dari Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Yahya, bahkan juga Pimpinan Tertinggi Banser, Gus Cholil Qoumas.

Seperti salah satu kisah berjudul “Banser Masuk Sorga Duluan,” yang menceritakan keunggulan Banser yang dapat masuk surga mendahului yang lain.

Dalam sebuah pengajian, Gus Muwafiq Jogjakarta bercerita bahwa anggota-anggota Banser kelak akan masuk sorga lebih dahulu daripada para kiai.

“Kok bisa?” tanya Gus Wumafiq retoris. Lanjutnya, “karena kan sudah jadi tugasnya Banser untuk cek lokasi.” (halaman 71).

Humor yang begitu mengena, dan tak menimbulkan konflik apapun. sekaligus menjadi motivasi Banser untuk terus khidmah pada Agama dan pengajar agama.

Kisah menarik lain yang tak kalah lucunya lagi adalah kisah berjudul “Ketinggalan di Masjid”. Kisah ini menceritakan kecerobohan sopir Gus Yahya yang tak sengaja meninggalkan kiainya di Masjid. Sopir Gus Yahya yang juga Banser itu mendapatkan perintah untuk menjemput Gus Yahya di bandara Ahmad Yani Semarang dan mengantarkan beliau pulang kembali ke kediamannya di Leteh, Rembang.

Di dalam mobil hanya ada dua orang, yakni sopir dan Gus Yahya. Saat Gus Yahya masuk mobil, waktu sudah larut malam dan beliaupun tertidur pulas di belakang. Sopir Banser itupun melajukan kendaraan dengan cepat supaya segera sampi ke kediaman.

Sampai di daerah Kudus, sopir Banser itu kebelet pipis hingga harus menambatkan kendaraan di tepian jalan, di depan masjid. Selesainya itu, saat si sopir masuk lagi ke mobil, ia melajukan kendaraannya lagi  dan satu jam kemudian sampai di halaman rumah.

Namun tak disangka, justru ketika membukakan pintu ternyata Gus Yahya tiada lagi di dalam mobil. Dengan penuh kepanikan, akhirnya ia melajukan kembali kendaraannya ke kudus, menemui Gus Yahya di sebuah masjid yang tadi ia parkirkan mobilnya di sana.

Sambil merokok di depan masjid, Gus Yahya menamati sopirnya yang datang kembali. Si Sopir tergopoh-gopoh meminta maaf kepada Gus Yahya yang telah menunggu lama. Si sopir membuntut di belakang Gus Yahya untuk masuk ke dalam mobil.

Ketika di dalam mobil, Gus Yahya berkata datar, “Tadi saya terbangun dan ternyata mobil sedang berhenti di masjid. Jadi saya sekalian turun dan salat. Usai salat, mobilnya sudah hilang. Untung di saku ada rokok dan korek.” (halaman 76).

Sungguh polos Banser yang barusan terceritakan. Namun ketulusannya untuk berkhidmat kepala ulama tak diragukan. Dengan kesantunan yang dimiliki, meminta maaf adalah hal paling penting ketika kita berbuat suatu kesalahan. Juga adalah agar tidak tergesa-gesa dalam menjalankan tugas sebuah pekerjaan.

Seyogyanya seperti itulah kita semua ini! Penuh cinta, damai, santun, saling toleran, as human being, dan peduli terhadap sesama.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.