Keagamaan

Imam Abdurrahim al-Qursyi; Ulama Mazhab Syafi’iyah yang Alim di Usia 6 Tahun | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Berikut adalah biografi salah satu ulama yang sejak usia masih sangat balita sudah mampu memahami hingga mampu menghafal Kitab Al-Qur’an dan banyak kitab-kitab lainnya, seperti fiqih, nahwu, tauhid dan semacamnya. Ia adalah Imam Abdurrahim al-Qursyi 

Namanya mungkin tidak terlalu dikenal sebagaimana nama Imam Nawawi dalam mazhab Syafi’iyah, nama Syekh Abu Yusuf dalam mazhab Imam Abu Hanifah, nama Imam Syamsuddin ara-Rau’ini dalam mazhab Malikiyah, dan seperti nama Imam ar-Rahibani dalam mazhab Hanabilah, namun, namanya juga masuk daftar penting di balik perkembangan ajaran Islam.

Bagaimana tidak? Dalam diskursus ilmu hadits, ia tumbuh menjadi ahli hadits yang sangat mendalam keilmuannya, hingga diberi gelar muhaddits, dalam ilmu fiqih juga sangat luas, hingga para ulama menyebutnya sebagai ahli fiqih pada masanya (ahadu fuqahai ‘asrihi), begitu juga dalam ilmu tafsir, keilmuannya sangat luas dan mampu menjelaskan Al-Qur’an dengan gampang dan mudah, hingga pada akhirnya diberi gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).

Nama dan Kelahirannya

Imam Abdurrahim al-Qursyi, begitulah namanya populer (popular) sejagat maya, khususnya dalam literatur kitab-kitab muktabarah (klasik) dan mu’ashirah (kontemporer). Para ulama sering menyebut nama itu, sebagai bukti bahwa statmen yang disampaikan olehnya bukanlah pendapat kaleng-kaleng yang tidak kuat, namun semua yang disampaikannya sangat kuat dengan data dan referensi yang jelas.

Nama lengkapnya adalah Imam Abdurrahim bin Nashrullah bin Sa’dullah bin Abu Hamid bin Abu Thahir bin Umar bin Khalifah bin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ali asy-Syaraf bin Karimuddin Abil Makarim bin Kamaluddin Abu Abdillah bin Sa’duddin bin Khatib Jamaluddin al-Qursyi al-Bakri as-Shiddiqi al-Jarahi asy-Syirazi asy-Syafi’i.

Abdurrahim dilahirkan pada malam Kamis tanggal 3 Shafar tahun 744 Hijriah di kota Syiraz, salah satu perkotaan yang ada di Iran bagian barat dan di kota itu pula ia dimakamkan. Hanya saja, tidak ada catatan pasti perihal tahun wafatnya ulama yang satu ini.

Ia terlahir dari sosok kedua pasangan yang sangat taat dan ahli ibadah. Ayah dan ibunya sangat istiqamah dalam melakukan shalat malam. Selain untuk berdoa keselamatan dirinya, tentu keduanya tidak pernah lupa untuk mendoakan anaknya agar kelak bisa tumbuh sebagai sosok hebat dan bisa bermanfaat bagi ajaran Islam.

Selain ahli ibadah yang sangat taat, sang ayah (Syekh al-Ghayyas Abu Muhammad) juga menjadi salah satu ulama tersohor pada masanya. Ia menguasai banyak ilmu, termasuk cabang-cabangnya (furu’iyah). Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat wirai (tidak senang dunia), semua hidupnya hanya untuk Allah dan ajaran dari-Nya.

Rihlah Intelektualitasnya

Kota Syiraz bagi Imam Abdurrahim menjadi salah satu kota yang sangat bersejarah dalam hidupnya, selain sebagai kota kelahiran, di kota itu juga menjadi awal mula perjalanan intelektualitasnya dalam mendalami sebuah ilmu.

Sebagai anak yang terlahir dari kedua orang tua yang taat, tentu pendidikan dan pengetahuannya menjadi perhatian yang sangat khusus sejak usianya masih balita. Sebab, sanga ayah tidak menginginkan semua ilmu yang ada dalam dirinya hilang begitu saja, tanpa diteruskan oleh putra semata wayangnya.

Sejak masih sangat balita, Abdurrahim kecil mendapatkan didikan yang sangat ketat, ayahnya benar-benar mendidiknya agar kelak menjadi anak yang bisa tumbuh sebagai ahli ilmu, dan benar saja, ia sangat cerdas dan tangkas.

Semua pelajaran yang diajarkan ayahnya berhasil dihafal dengan sangat sempurna dengan tempo waktu yang sangat sebentar.

Syekh Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Abdurrahman as-Sakhawi (wafat 902 H) pernah merekam masa kecil Imam Abdurrahim dalam kitab biografi miliknya yang berjudul adl-Dlau’u al-Lami’ li Ahli al-Quruni at-Tasi’. Dalam kitab itu disebutkan,

حَفِظَ الْقُرْآنَ وَهُوَ اِبْنُ سِتٍّ وَأَخَذَ عَنْ أَبِيْهِ رِوَايَةً وَدِرَايَةً

Artinya, “(Imam Abdurrahim) telah menghafal Al-Qur’an di usia enam tahun, dan mengambil (belajar) dari ayahnya perihal riwayat dan pelajaran (Al-Qur’an).” (Imam as-Sakhawi, adl-Dlau’u al-Lami’ li Ahli al-Quruni at-Tasi’, [Maktabah al-Hayat], juz II, halaman 311).

Tidak beberapa lama hidup bersama ayahnya, ia harus rela pergi untuk mengembara dan memperdalam ilmu dengan berguru kepada ulama-ulama lain yang lebih masyhur dan lebih luas ilmunya. Sebab, ilmu yang ada dalam diri ayahnya sudah berhasil dikuras oleh Abdurrahim kecil di usianya yang masih enam tahun.

Di usia yang masih sangat balita itu, ia melanjutkan rihlah intelektualitasnya dengan berguru kepada Imam Fakhru Ahmad bin Muhammad  as-Samarqandi tentang ilmu fiqih, dan belajar ilmu ushul fiqih kepada Imam Abul Mahasin bin Muhammad asy-Syirazi.

Di bawah bimbingan kedua ulama tersohor itu, Abdurrahim tumbuh sebagai pelajar yang sangat tangkas, tingkat penguasaan keilmuannya melebihi teman sebayanya. Ia benar-benar cerdas dan mampu bersaing dengan pelajar yang lebih tua darinya.

Selain itu, ia juga belajar hadits kepada ulama-ulama tersohor dalam ilmu hadits, di antaranya Imam Ahmad at-Tibrizi, Ismail asy-Syirazi, Imam Mas’ud al-Balyani, Abul Fattah at-Thawushi, Imamuddin ash-Shiddiqi dan beberapa ulama ahli hadits lainnya.

Setelah beberapa tahun hidup di kota Syiraz, dan mengembara sebagai pelajar di tempat tersebut hingga namanya tumbuh sebagai anak dengan penguasaan ilmu yang sangat luas, akankah ia berhenti belajar? Maka jawabannya tidak. Ia terus mengembara sebagai pelajar dan tidak pernah mengenal lelah.

Dari Syiraz menuju Makkah

Sebagai anak yang sangat haus akan ilmu pengetahuan, tentu ia tidak mencukupkan ilmu yang hanya ada di kotanya sendiri, namun juga mencari ilmu-ilmu baru yang ada di luar. Misalnya di kota Makkah, selain sebagai tempat ibadah penyempurna rukun Islam kelima, yaitu Hajji, di tempat itu juga tidak kalah saing perihal keilmuan.

Tepat di usianya yang masih sangat balita, ia pergi mengembara menuju kota Makkah. Di kota itu Imam Abdurrahim berguru kepada ulama-ulama tersohor, misalnya Imam ‘Afifain al-Yafi’i, Abul Fadl an-Nawiri, Abul Hasan, Imam Afif Abdullah, dan ulama tafsir yang juga sangat terkenal, yaitu Imam ath-Thabari, serta beberapa ulama Makkah lainnya pada masa itu.

Setelah semua ilmu berhasil ia kuasai dari ulama-ulama Makkah, Imam Abdurrahim melanjutkan rihlah intelektualitasnya menuju kota sebelah Makkah, yaitu kota Madinah al-Musyarrafah.

Di kota Madinah Imam Abdurrahim berguru kepada Imam Zain al-Iraqi, hanya saja tidak begitu lama di tempat tersebut, hanya beberapa bulan saja kemudian melanjutkan rihlahnya menuju kota Palestina, tepatnya di Baitul Maqdis, salah satu tempat bersejarah dalam Islam.

Di Baitul Maqdis ia berguru kepada banyak ulama-ulama tersohor pada masa itu, di antaranya Imam Jalal Abdul Mun’im al-Anshari, Imam Afif al-Basthami, Yahya an-Nadrami, Ruslan bin Ahmad ad-Dzahabi, Ahmad Abdul Ghalib al-Makisini, dan beberapa ulama terseohor lainnya.

Prestasi Keilmuan Imam Abdurrahim

Jika kota Syiraz Iran menjadi sejarah permulaan intelektualitasnya, maka kota Palestina menjadi akhir sejarah pengembaraannya sebagai pelajar sebelum ia menjadi ulama tersohor dan mengeluarkan fatwa.

Bagaimana tidak, di Palestina ia tidak hanya belajar, namun juga mengajar. Pasalnya, banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk menimba ilmu kepadanya, sekaligus meminta nasihat-nasihat sebagai pedoman hidup kepadanya.

Di saat itu pula, guru-guru Imam Abdurrahim memberikan izin resmi untuk mengajari masyarakat perihal keilmuan. Izin tersebut tentu menjadi mandat khusus sekaligus sebagai amanah yang harus ia emban dan ia laksanakan dengan sangat hati-hati.

Dari situlah awal mula prestasi keilmuan Imam Abdurrahim al-Qursyi dimulai. Saat itu ia tidak hanya bisa menjawab persoalan yang disampaikan kepadanya, lebih dari itu juga bisa menggabungkan beberapa pendapat para ulama yang dianggap ta’arud (kontradiksi), kemudian dikombinasikan menjadi satu kaedah yang lebih mudah untuk dipahami.

Dari beberapa kisah di atas, bisa menjadi sebuah teladan, perihal bagaimana perjuangan dan perjalanan Imam Abdurrahim sebelum dirinya sukses menjadi seorang ahli ilmu dengan kapasitas yang tidak diragukan lagi.

Di kota kelahirannya, ia sudah semangat untuk mencari ilmu, kemudian dilanjut dengan berguru kepada ulama-ulama tersohor di kota itu. Tidak berakhir sampai di situ, ia juga melanjutkan rihlahnya menuju kota-kota lain dengan jarak yang sangat jauh. Namun, apa arti jarak jika keinginan dan cita-cita sudah setinggi langit?

Oleh karenanya, tidak heran jika di akhir rihlahnya ia bisa mengkombinasikan pendapat para ulama sekaligus bisa menghafal beberapa kitab-kitab klasik. (Baca: Imam Fakhruddin ar-Razi; Ulama Pakar Tafsir yang Alim di Usia Balita)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.