Featured

Studi di Jawa Barat: pandemi berimbas pada kesehatan mental para tenaga kesehatan

Kasus COVID-19 yang begitu banyak dalam dua tahun terakhir mengakibatkan sejumlah tenaga kesehatan harus terus menerus merawat pasien COVID dengan gejala parah di rumah sakit.

Di fasilitas kesehatan, pasien datang dan pergi, baik karena sembuh atau tidak berhasil diselamatkan nyawanya. Sementara, tenaga kesehatan tetap bekerja di sana.

Riset yang kami lakukan selama Mei-September 2020 dengan data dari 200 responden di Jawa Barat menunjukkan bahwa tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan COVID-19 memiliki status kesehatan mental lebih rendah. Para dokter mengalami gejala gangguan stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) yang lebih parah.

Kesehatan mental yang memburuk berhubungan dengan status kesehatan dan kondisi kesehatan keseluruhan yang dirasakan para tenaga kesehatan. Level stres yang tinggi dan masalah kesehatan mental ini bisa menyebabkan berkurangnya kepuasan pada pekerjaan, penurunan kesehatan dan kualitas hidup dalam jangka panjang, dan berisiko menurunkan kualitas pelayanan.

Masalah ini perlu mendapat perhatian serius dari para pengelola fasilitas kesehatan, pemerintah, dan pembuat kebijakan agar keadaannya tidak terus memburuk. Apalagi, pandemi ini belum menunjukkan tanda – tanda akan selesai dalam waktu dekat.

Sumber kekhawatiran

Riset meneliti peran kesehatan mental dan kepuasan kerja terhadap kualitas hidup di kalangan tenaga kesehatan yang merawat pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan. Studi dilakukan dengan survei online. Mayoritas dari responden adalah perawat, apoteker, dokter umum, dokter spesialis dan asisten laboratorium.

Ada lima hal yang menjadi kekhawatiran pekerja kesehatan yakni (1) takut penularan dan infeksi virus, (2) dampak COVID pada keluarga, (3) meninggal dan isolasi, (4) keamanan pribadi, dan (5) stigma sosial. Kehawatiran itu masuk akal karena kenyataanya ada peningkatan tekanan pekerjaan semasa pandemi.

Selain itu, banyak pula tenaga kesehatan yang meninggal akibat COVID. Per Oktober 2021, secara global ada sekitar 180 ribu tenaga kesehatan meninggal dunia. Sekitar 2.000 kasus di antaranya dari Indonesia. Itu terjadi saat cakupan vaksinasi di Indonesia masih rendah.

Riset-riset serupa di negara lain juga menunjukkan temuan yang hampir serupa. Studi yang meninjau 13 riset dan melibatkan 33,062 responden menunjukkan kelaziman tenaga kesehatan mengalami kecemasan dan depresi mencapai 23,2 persen dan 22,8 persen. Sekitar 38,9% responden dari lima riset menunjukkan mereka mengalami insomnia.

Sebuah riset di Cina juga menunjukkan insiden gejala stres pasca-trauma (PTSS) di kalangan tenaga kesehatan yang berhadapan pasien COVID mencapai 28,7%. Sedangkan pekerja kesehatan yang tidak merawat pasien COVID yang mengalami hal serupa kurang dari separuhnya, yaitu 13%. Artinya, para tenaga kesehatan yang merawat pasien COVID memiliki risiko dua kali lipat lebih mengalami stres setelah trauma.

Studi-studi serupa saat wabah SARS dan MERS menunjukkan sepertiga dari tenaga kesehatan mengalami sindrom kelelahan. Ini sangat mungkin terjadi selama pandemi COVID.

Selain level kelelahan, ada juga masalah kepuasan terkait kerja dan pekerjaan yang menjadi sumber motivasi penting untuk mencegah kelelahan selama wabah. Menjaga kepuasan kerja tetap pada level tinggi di kalangan tenaga kesehatan merupakan hal penting untuk mencapai kualitas tinggi dari layanan medis.

Perbedaan risiko di tempat kerja

Di Indonesia, studi ini merupakan riset pertama yang mengeksplorasi kesehatan mental, gejala PTSD, kepuasan kerja, dan kualitas hidup di kalangan tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19.

Dari riset ini, tampak bahwa status kesehatan menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan tempat kerja. Sementara, gejala PTSD berbeda pada dokter umum, dokter spesialis, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.

Tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 memiliki status kesehatan yang lebih rendah dibanding dengan tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan non-rujukan.

Tenaga kesejahatan yang bekerja secara aktif berhubungan pasen COVID mungkin terpapar lebih banyak tekanan fisik dan mental karena beban kerja yang lebih tinggi. Risiko terinfeksi COVID juga tinggi karena tenaga kesehatan berada lebih lama di rumah sakit untuk merawat pasien.

Dokter umum dan dokter spesialis mengalami gejala PTSD yang lebih parah dibandingkan dengan perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Pada saat wabah COVID-19, banyak tenaga kesehatan terinfeksi, yang dapat meningkatkan tekanan psikologis rekan-rekan mereka.

Selain risiko infeksi tenaga kesehatan mungkin mengalami stres eksistensial dan rasa sakit kehilangan pasien dan rekan kerja. Menyaksikan rekan-rekan yang kehilangan nyawa karena pandemi bisa menjadi pengalaman yang traumatis dan dehumanisasi.

Dari riset ini, kami menemukan masalah kesehatan mental di antara tenaga kesehatan akan meningkatkan kemungkinan berkembangnya gejala PTSD. Lingkungan yang keras, suasana yang menyedihkan, pengalaman melihat kematian, dan tekanan beban kerja selama pandemi dapat mengancam kehidupan dan menimbulkan trauma psikologis tenaga kesehatan. Hal-hal tersebut turut meningkatkan kerentanan mereka terhadap PTSD.

Masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi sangat berkorelasi dengan gejala PTSD pada tenaga kesehatan yang bekerja langsung dengan pasien COVID-19. Situasi kerja mereka akan terus-menerus menempatkan mereka dalam situasi yang menantang dan penuh tekanan.

Melihat lonjakan jumlah pasien yang terinfeksi, kematian tanpa ampun, dan keadaan yang terisolasi lantaran COVID-19, kurangnya sumber daya manusia serta kendala teknis lainnya berpotensi membuat PTSD di kalangan tenaga kesehatan semakin berkembang.

Walau merasa khawatir, para responden riset di Jawa Barat juga punya sumber kekuatan dan semangat. Di antaranya adalah religiusitas, sistem pendukung sosial yang kuat, tanggung jawab moral profesi, protokol keselamatan dan kesehatan COVID, penerimaan dan perilaku positif menuju masa depan.

Dukungan sosial yang diterima oleh tenaga kesehatan membuat mereka merasa lebih tenang, dimengerti, dan diperhatikan oleh orang-orang terdekatnya.

Hasil ini sejalan dengan riset sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan sosial berkorelasi negatif dengan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, kesepian, dan masalah tidur selama COVID-19.

Rekomendasi

Riset ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang dapat menurunkan dan meningkatkan kualitas hidup para tenaga kesehatan. Hasil ini bisa digunakan oleh para pengelola fasilitas kesehatan, pemerintah, dan pembuat kebijakan untuk membuat regulasi pengaturan kerja bagi para tenaga kesehatan. Misalnya pengaturan dan pembagian tugas serta mekanisme kerja yang lebih aman, nyaman dan proporsional.

Selain itu, hasil riset ini juga bisa digunakan untuk merancang penyediaan layanan psikologis untuk mengatasi masalah psikologis yang muncul akibat pandemi COVID 19, misal kecemasan, depresi, stres dan lainnya agar tidak berkembang menjadi lebih parah.

Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menjaga kondisi kesehatan mental, kualitas hidup, dan kualitas kerja para tenaga kesehatan.


Artikel ini terbit atas kerja sama The Conversation Indonesia dan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.