Keagamaan

Restu Rasulullah atas Pernikahan Sayyidah Nafisah dengan Sayyid Ishaq | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Artikel ini adalah lanjutan dari yang sebelumnya. Yang menceritajan Sayyidah Nafisah. Seorang yang alim.  Sosok wanita yang taat dan berbudi luhur.  (Baca: Biografi Sayyidah Nafisah, Keturunan Rasulullah yang Hafal Al-Qur’an di Usia 7 Tahun)

Wanita salehah dan taat dalam beragama, patuh pada semua yang diperintahkan kepadanya, merupakan wanita yang sangat dicari oleh setiap laki-laki. Setiap laki-laki, pasti memiliki harapan untuk bisa hidup dan berjodoh dengan wanita salehah. 

Memiliki istri salehah yang taat dalam beragama tentu hal yang sangat diinginkan oleh setiap laki-laki, sebab dengan ketaatannya dalam beragama, menunjukkan bahwa ia juga taat kepada suaminya.

Sayyidah Nafisah adalah sosok wanita yang memenuhi kriteria di atas. Ia cantik, salehah, baik, memiliki keturunan mulia, berbudi pekerti luhur, berbicara dengan lemah lembut, ahli Al-Qur’an, berilmu, sangat takwa kepada Allah swt dan rasul-Nya.

Intinya, berbagai sifat kesempurnaan ada pada dirinya, hal itu sangat tampak dari semua tindakannya yang tidak pernah meninggalkan kewajibannya.

Dalam kitab Mursyiduz Zuwar ila Quburil Abrar, Syekh ‘arifbillah Muwaffiquddin menceritakan ihwal ketika Sayyidah Nafisah hendak dilamar oleh seorang laki-laki. Tepat pada umurnya yang ke enam belas, banyak laki-laki dari kalangan bangsawan, dan ulama yang senang kepadanya dan bahkan hendak melamarnya.

Hal itu mereka lakukan tidak ada alasan lain selain karena Sayyidah Nafisah merupakan wanita yang sangat baik dalam beragama, sehingga, bukan hanya satu dua dan tiga, laki-laki yang hendak melamarnya untuk dijadikan istri, bahkan sangat banyak. Hanya saja, harapan para lelaki saat itu tidak mendapatkan respon dari ayahnya, Sayyid Hasan al-Anwar.

Perasaan yang sama ternyata juga dirasakan oleh laki-laki yang juga memiliki nasab sama dengannya, ia adalah Sayyid Ishaq al-Mu’taman bin Sayyid Ja’far Shadiq bin Sayyid Muhammad Baqir bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali bin Sayyid Zainal Abidin bin Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali dan Sayyidah Siti Fatimah az-Zahra binta Rasulillah.

Keduanya sama-sama memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah. Hanya saja, Sayyidah Nafisah melalui jalur Sayyidina Hasan, sedangkan Sayyid Ishaq melalui jalur Sayyidina Husain.

Sayyid Ishaq langsung menyampaikan niat baiknya kepada kedua orang tuanya, kemudian di musyawarahkan dengen pembesar-pembesar keturunan Sayyid Husain. Dan Alhamdulillah, semua keluarga Sayyid Ishaq menyepakatinya untuk melamar Sayyidah Nafisah.

Sejurus kemudian, ia siap-siap untuk berangkan menuju rumah wanita yang hendak ia lamar bersama dengan ayah dan beberapa pembesar Bani Husain lainnya.

Sesampainya mereka di rumah Sayyidah Nafisah, mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat oleh keluarga Bani Hasan.

Pembicaraan ringan dimulai sebelum sejurus kemudian membahas lebih inti tentang maksud dan tujuannya melakukan silaturrahim. Setelah pembicaraan ringan itu selesai, ayah Sayyid Ishaq berkata perihal niat dan keinginannya,

فَلَمَّا فَاتَحُوْهَا أَبَاهَا الحَسَن فِي رُغْبَةِ اِسْحَاق الزَوَاجَ مِنْ نَفِيْسَة. فَهَالَهُمْ مَا سَمْعُوا مِنْ رَفْضِ أَبِيْهَا فَغَضَبُوا وَكَانَ أَشَدَّهُمْ غَضْبًا اِسْحَقُ

Artinya, “Maka ketika ia mulai (menyampaikan keinginanya) kepada ayahnya, Sayyid Hasan ra, perihal keinginan Sayyid Ishaq untuk menikahi Sayyidah Nafisah.

Mereka (keluarga Sayyid Ishaq) terkejut tentang apa yang mereka dengar dari penolakan ayah (Sayyidah Nafisah), kemudian mereka marah dan yang paling marah adalah Sayyid Ishaq.”

Setelah lamarannya ditolak, keluarga Sayyid Ishaq pulang ke rumah mereka kembali, harapan bahagia yang mereka inginkan, namun kecewa yang didapatkan. Semuanya pulang, kecuali Sayyid Ishaq.

Ia justru pergi menuju Raudlah asy-Syarif di Madinah dan duduk di mihrab kakeknya (Rasulullah), kemudian ia shalat. Setelah itu, ia duduk di depan makam Rasulullah sambil menangis dan berkata:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ الله, يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ وَيَا حَبِيْبَ رَبِّ العَالَمِيْنَ, اِنِّي اِبْنُكَ لَوْعَتِي وَأَشْكُوْ اِلَيْكَ حَاجَتِي وَأَعْرَضَ عَلَيْكَ حَالَتِي, قَدْ خَطَبْتُ نَفِيْسَةَ اِبْنَةِ عَمِّي الحَسَن فَأَبَاهَا عَلَيَّ.

Artinya, “Rahmat salam kepadamu, wahai utusan Allah, wahai gusti para utusan, wahai kekasih Penguasa Alam semesta, aku adalah keturunanmu yang bingung, dan aku mengadu kepadamu tentang kebutuhanku, dan menghadap kepadamu tentang keadaanku, sungguh aku meminang Sayyidah Nafisah, anak perempuan pamanku, Sayyid Hasan, namun ia menolak (lamaran)ku.”

Setelah keluh kesah dan kebingungan yang dirasakan oleh Sayyid Ishaq disampaikan kepada Rasulullah, ia pulang ke rumahnya dengan hati yang sedih dan perasaan kecewa.

Namun, setelah pagi hari, ternyata Sayyid Hasan (ayah Sayyidah Nafisah) mendatanginya ke rumahnya, dengan membawa kabar gembira dan akan melangsungkan akad antara Sayyid Ishaq dan putrinya Sayyidah Nafisah saat itu juga di rumahnya.

Hati yang awalnya dipenuhi dengan kesedihan berubah menjadi bahagia tiada tara, ia langsung menyampaikan pada keluarganya dan segera datang ke rumah Sayyidah Nafisah untuk melangsungkan akad.

Setelah keduanya sama-sama berkumpul disertai oleh kelura besarnya masing-masing. Sayyid Hasan bercerita, bahwa pada malam hari ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah dengan wajah yang sangat tampan, Rasulullah menyampaikan salam kepadanya, kemudian berkata:

يَا حَسَنُ زَوِّجْ نَفِيْسَةَ اِبْنَتِكَ اِسْحَقَ المُؤْتَمَنَّ

Artinya, “Wahai Hasan! Kawinkanlah Nafisah putrimu dengan Ishaq yang dipercaya.”

Ternyata, keluh kesah yang disampaikan oleh Sayyid Ishaq kepada Rasulullah mendapatkan respon dan balasan yang positif. Ia kemudian dinikahkan dengan Sayyidah Nafisah atas restu dan perintah Rasulullah.

Akad itu terjadi pada hari Jumat pertama di bulan Rajab, tahun 161 H. (Muwaffiquddin bin Utsman, Mursyiduz Zuwar ila Quburil Abrar, [Darul Mishriyah, Lebanon: 1995], halaman 196-197. Dan, Syekh Jabbar Siraj, Qisshatu Sayyidah Nafisah, [Maktabah Taufiqiyah, Yaman], halaman 15-16).

Demikian sejarah perihal pernikahan Sayyidah Nafisah dengan Sayyid Ishaq yang sangat menginspirasi, bahwa sesulit apa pun perjuangan untuk mendapatkan seorang wanita, jalan terakhir ketika tertolak adalah dengan mengadukannya kepada Nabi Muhammad.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.