Serbaserbi

Kisah Imam Al-Ghazali Mendapat Pencerahan Spritual dari Tukang Sol Sepatu

Tg DR Miftah el-Banjary MA

Pakar Ilmu Linguistik Arab,

Pimpinan Majelis Dalail Khairat Indonesia-Malaysia

Dalam kisah para wali besar banyak dikisahkan perjalanan spritual mereka menggapai maqam (derajat) kewalian. Salah satunya setelah perjumpaan mereka dengan guru rohani yang menunjukkan mereka jalan menuju Makrifatullah hakiki.

Dari berbagai kisah itu, ternyata kita dapati banyak kisah unik dimana para wali besar itu, justru mereka memperoleh pencerahan terbukanya “Futuhat Ilahiyyah”. Bukan bersumber utama dari hasil pemikiran keilmuan dari kitab-kitab mereka yang berjilid-jilid itu. Dan tidak pula dari pengajaran guru Masyaikh besar selevel atau lebih tinggi dari mereka dari segi keilmuan, melainkan dari pengajaran bimbingan spritual orang-orang “Ummi” yang memiliki kebersihan hati dan jiwa yang telah menggapai hakikat Makrifatullah.

Kita bisa ambil contoh, terbukanya pintu jalan kewalian bagi Syekh al-Imam Abdul Wahab as-Sya’rani setelah berguru dengan Syekh Ali al-Khawwash yang “Ummi” yang tidak pandai membaca dan menulis, akan tetapi memang dipilih Allah untuk menjadi wali-Nya.

Demikian terbukanya maqam kewalian Imam Al-Ghazali setelah perjumpaan dan berkenan tawadhunya Imam Al-Ghazali dibimbing oleh seorang guru rohani bernama Syekh Utaqy al-Khurazy; seorang tukang sol sepatu di pasar.

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama besar dalam sejarah Islam, Hujjatul Islam yang banyak hafal hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW). Beliau dikenal pula sebagai ahli dalam filsafat dan tasawuf dan banyak mengarang kitab-kitab.

Berikut kisahnya! Suatu ketika Imam Al-Ghazali menjadi imam di sebuah masjid, tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersama Imam al-Ghazali, lantas Imam Al-Ghazali melapor kepada ibunya.

“Wahai ibu, perintahkan saudaraku Ahmad agar shalat mengikutiku, supaya orang-orang tidak menuduhku selalu bersikap jelek terhadapnya,” kata Imam Al-Ghazali.

Ibu Imam Al-Ghazali lantas memerintahkan puteranya Ahmad agar shalat makmum kepada saudaranya Al-Ghazali. Ahmad pun melaksanakan perintah sang ibu, tapi di tengah, Ahmad melihat darah membasah perut Imam. Tentu saja Ahmad memisahkan diri.

Seusai shalat Imam Al-Ghazali bertanya kepada Ahmad, “Mengapa engkau memisahkan diri (Muffaragah) dalam shalat yang saya imami?”

Saudaranya menjawab: “Aku memisahkan diri, karena aku melihat perutmu berlumuran darah”.

Mendengar jawaban saudaranya itu, Imam Al-Ghazali mengakui hal itu mungkin karena dia ketika shalat hatinya, sedangkan dia sedang memikirkan persoalan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang Mutahayyirah.

Imam Al-Ghazali bertanya kepada saudaranya: “Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu?”

Saudaranya menjawab: “Aku belajar ilmu kepada Syekh Al Utaqy al-Khurazy, seorang tukang jahit sandal-sandal bekas (tukang sol sepatu).”

Imam Al-Ghazali pun lalu pergi berguru kepadanya. Setelah berjumpa, ia berkata kepada Syekh Al-Kkhurazy: “Saya ingin belajar kepada Tuan”.

Syekh itu berkata: “Mungkin saja engkau tidak kuat menuruti perintah-perintahku”. Imam Al-Ghazali menjawab: “Insya Allah, saya kuat.”

Syekh Al-Khurazy berkata: “Bersihkanlah lantai ini!”.

Imam Al-Ghazali kemudian hendak menggunakan dengan sapu. Tetapi Syekh itu berkata: “Sapulah (bersihkanlah) dengan tanganmu.”

Imam Al-Ghazali menyapunya lantai dengan tangannya, kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu. Namun Syekh itu berkata: “Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu.”

Imam Al-Ghazali lalu bersiap membersihkan dengan menyisingkan pakaiannya. Melihat keadaan yang demikian itu Syekh berkata: “Nah bersìhkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu.” Imam Al-Ghazali menuruti perintah Syekh Al Khurazy dengan tulus dan ridha.

Namun, ketika Imam Al-Ghazali hendak akan mulai melaksanakan perintah Syekh tersebut, Syekh langsung mencegahnya dan memerintahkan agar pulang.

Ada riwayat lain, sang guru memerintahkan Imam al-Ghazali menyapu di pasar tanpa menanggalkan baju kebesaran keulamaannya. Imam al-Ghazali secara ikhlas melaksanakan perintah gurunya itu agar dapat mengikis perasaan tinggi “memiliki perasaan berilmu”.

Atas kemampuan Imam Al-Ghazali mengikis serta membuang jauh-jauh sifat ketinggian itulah, lantas kemudian Allah pancarkan di dalam hatinya, Nur Makrifatullah. Allah Swt telah memberikan Ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang diperoleh dari tasawuf atau kebersihan qalbu kepadanya.

Demikian setelah Imam Al-Ghazali pulang dan setibanya di rumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dalam beberapa kasus terbukanya pintu kewalian dalam beberapa kisah Manaqib Al-Awliya ada diantara mereka yang justru memperoleh pengalaman rohani Makrifatullah setelah berjumpa dan berguru dengan orang-orang yang nampak “Ummi”, namun mereka memiliki kebersihan hati dan jiwa.

Pesannya bagi kita orang awam yang tidak memahami rahasia-rahasia jalan kewalian, memang ada baiknya tidak perlu ikut-ikutan terjebak pada ikhtilaf dan syubhat (samar kebenarannya) serta perdebatan diantara para ulama dalam menghukumnya suatu perkara yang mereka pakarnya di bidang itu.

Dan keluhuran sikap orang-orang berilmu menyikapi berbagai fitnah dan persoalan dalam agama ini, bukan dengan bully, makian dan caci maki, apalagi dengan terus mencari-cari kesalahan orang yang tidak sepaham dan sealiran dengannya.

Memang bagi kita, tidak ada salahnya jika bersikap arif dan bijaksana untuk tidak mudah berburuk sangka selama mereka tidak melakukan pelanggaran syariat, sembari memohon ditunjukkan kebenaran agar kita tidak terjerumus pada sikap yang justru memusuhi para wali Allah itu sendiri.

Allahu A’lam

(rhs)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.