Keagamaan

Pesan Mahbub Djunaidi Untuk “Calon-Calon” – Alif.ID

Banyak orang yang dibuat takjub, tidak terima, bahkan cemburu oleh kelihaian tulisan- tulisan Sang Maestro itu. Benar, ia adalah H. Mahbub Djunaidi. Sosok kolumnis ampuh dan tiada tanding, membuat para penikmat esai maupun sastrawan terkesima.

Orang sekaliber Goenawan Mohamad pun dibuat cemburu oleh Mahbub. “Saya punya kecemburuan pada Mahbub. Bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertawa, padahal isinya cukup serius? Kelebihan Mahbub pada kolom-kolomnya, yang belum tertandingi oleh siapapun, ialah bahwa ia bisa mengatasi mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang setingkat Marcel Marcau. Kata-kata, kalimat-kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga.” Kecemburuan Goenawan Mohamad dalam Asal-Usul (Catatan-Catatan Pilihan Mahbub Djunaidi) yang diterbitkan oleh Ircisod (2018).

Mahbub, yang oleh kebanyakan orang, ia merupakan ketua pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kiranya “anak-anak” Mahbub hanya tahu dan paham sebatas itu saja. Padahal, selain itu, ia juga seorang Pimpinan Redaksi Duta Masyarakat (surat kabar Partai Nahdlatul Ulama), Anggota DPR-GR/MPRS, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), (M. Ahsan Ridhoi dalam Tirto.id, 24 Mei 2018).

Bagi saya, satu hal yang tidak dapat terpisahkan dari seorang Mahbub adalah ia seorang kolumnis di samping ia merupakan Ketua PB PMII yang pertama. Kita bisa menemukan kolom-kolom yang notabenenya berisikan opini-opini mengenai sebuah peristiwa-peristiwa pada saat ia hidup, masalah politik, ekonomi, sosial, maupun budaya yang dikemas secara satire, trengginas, dan perumpamaannya yang tak terduga.

Mahbub Buat Calon-Calon

Kontestasi politik tentunya tidak luput dari pandangan Mahbub yang kemudian pandangan itu menjelma menjadi opini-opininya yang tiada tanding tulisannya. Memang, dalam pemilihan ketua-ketua di dalam bidangnya, juga di ranah negara dan kampus sekalipun, identik dengan “calon”. Perihal itu, ada beberapa kolom Mahbub yang menyoalkan seorang “calon” pemimpin parlemen negara. Juga, bisa kita aktualisasikan kepada kontestasi politik di kampus atau universitas di ranah organisasi internal maupun internal kampus.

Pertama, ada kolom Mahbub yang berjudul Calon (Kompas, 18 Januari 1987). Dalam esai itu, Mahbub menyoroti bahwa masyarakat harus mengapresiasi para calon yang ingin memimpin kita. Mahbub menyatakan bahwa: lagi pula, penduduk sama menganggap calon-calon itu elok belaka, karena diukur dari tekad pengabdian mereka sudi menyediakan diri mewakili rakyat, sudah cukup jadi bukti. Sebab, kalau saja mereka mau, mereka bisa saja memilih jadi pengusaha besar, sedikitnya menjadi industriawan. Toh mereka tidak memilih itu, melainkan memilih jadi calon yang membutuhkan pengorbanan buat kepentingan banyak orang. Buat apa diragukan lagi tekad semacam itu? (Mahbub Djunaidi, Asal-Usul, 2018: 68).

Kedua, ada esai bertajuk Calon-Calon Itu yang dapat ditilik di Kolom Demi Kolom (Ircisod, 2018). Mahbub menyatakan bahwa dalam sebuah pemilu, berlaku sebuah pepatah sehari-hari: “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”. Permakluman ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang asal coblos saja, seperti halnya meludah di lantai. Juga tidak berlaku bagi mereka yang merasa berhak untuk tidak menggunakan hak pilihannya (Mahbub Djunaidi, 150: 2018).

Begitulah Mahbub. Menurut saya, lewat esai-esainya seakan-akan ia menjadi seorang pakar yang dalam hal ini adalah soal “calon-calon” yang akan mempromosikan diri, menyediakan diri, dan siap mengorbankan kepentingan diri buat selain dirinya. Barangkali, di ranah organisasi kemahasiswaan eksternal perihal calon menjadi hal yang panas selama kontestasi reorganisasi berlangsung atau malah masih menjadi api membara pasca hajat itu usai?

Entah lah. Yang jelas, siapa saja yang berniat “mengkhidmatkan” dirinya mestilah sadar akan kapasitas dirinya dan indikator-indikator apa saja yang pas untuk menjadi seorang pemimpin di sebuah organisasi kemahasiswaan yang mana mahasiswa seorang yang muda dan tidak mau dilarang, juga idealis. Semoga, para “calon-calon” yang kelak menjadi pemimpin/ketua itu selalu menjiwai karya-karya Mahbub dengan semangat menuntut ilmu, membaca buku, menulis opini, esai, sebagai usaha menjaga lilin perjuangan Sang Pendekar Pena. Begitu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.