Keagamaan

Mengenal Sosok Nabi Khidir AS | Bincang Syariah

BincangSyariah.com – Akhir-akhir ini nama Nabi Khidir  tengah ramai diperbincangkan. Namanya mendengung di mana-mana. Figur ini menyeruak di pelbagai laman media sosial. Dipergunjingkan nitizen. Sebenarnya siapakah Nabi Khidir itu? 

Nama Khidir yang dikenal banyak orang itu sebenarnya bukan nama asli beliau, melainkan nama laqabnya atau julukannya. Nama aslinya adalah balya bin Malkan dan nama kunyahnya adalah Abul Abbas. Ada yang mengatakan bahwasanya beliau adalah keturunan bani Israil atau putra seorang raja yang menjadi zuhud. 

Rasulullah SAW bersabda “Alasan mengapa Beliau dijuluki Khidir adalah karena di setiap saat beliau duduk di tumbuhan yang putih, niscaya akan menjadi hijau”. Dan ada yang mengatakan bahwasanya adalah karena ketika beliau sholat di suatu tempat, maka sekelilingnya itu menjadi hijau karenanya. (Tafsir Khazin: Lubab Al-Takwil fi Ma’ani al-Tanzil III/171)

Menurut Imam Qulyubi, nama asli nabi Khidir adalah Barran bin malkan. Beliau mengatakan:

(فَائِدَةٌ) الْخَضِرِ نَبِيٌّ حَيٌّ إلَى آخِرِ الدَّهْرِ عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ، وَاسْمُهُ بَرَّانُ بْنُ مَلْكَانِ بْنِ قَالِعِ بْنِ ارْفَخْشَذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ، وَقِيلَ إلْيَاسُ حَيٌّ أَيْضًا وَاقِفٌ بِخُرَاسَانَ عِنْدَ سَدِّ يَأْجُوجَ.

“Menurut mayoritas Ulama’, Khidir As adalah Nabi yang hidup hingga akhir zaman. Nama aslinya adalah Barran bin malkan bin Qali’ bin Arfakhusyd bin Sam bin Nuh. Dikatakan pula bahwa Nabi Ilyas As itu juga masih hidup, yang mana beliau itu berada di daerah Khurasan, guna menjaga Ya’juj”. (Hasyiyata Qulyubi wa Amirah I/401)

Terdapat perbedaan pendapat dalam berbagai aspek mengenai figur yang satu ini. Namun ada fakta unik yang mengatakan bahwa siapa yang mengetahui nama asli nabi khidir, yakni Abul Abbas balya bin Malkan,  niscaya ia akan masuk surga. (Nur al-dzalam )

Ulama’ berbeda pendapat mengenai kenabian Khidir As, ada yang mengatakan bahwa beliau adalah Wali, Malaikat dan sebagainya. Namun pendapat yang unggul adalah bahwasanya beliau merupakan Nabi Allah SWT. (Imam Al-Qurthubi

Banyak hal yang diperselisihkan mengenai figur satu ini, di antaranya adalah bahwa apakah beliau memang masih hidup, mengingat banyak sekali orang yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan Nabi Khidir. Syekh Murthadha Al-Zabidi mengatakan:

والصَّحِيحُ من هاذه الأَقوَالِ كُلِّها أَنه نَبِيٌّ مُعَمَّرٌ، محجوبٌ عَن الأَبْصَار، وأَنَّه باقٍ إِلى يَوْمِ القِيَامة، لشُرْبه مِنْ ماءِ الحياةِ، وَعَلِيهِ الجماهِيرُ واتِّفاقُ الصُّوفِيّة، وإِجماعُ كَثِيرٍ من الصّالحين. وأَنكَرَ حَياتَه جَماعَةٌ مِنْهُم البخارِيّ وَابْن المُبَارَك والحَرْبِيّ وابنُ الجَوْزِيّ. قَالَ شيخُنَا وصَحَّحَه الحافِظُ ابنُ حَجَرٍ، وَمَال إِلى حَياتِه وجَزَمَ بهَا، كَمَا قَالَ القَسْطَلانيّ والجماهيرُ، وَهُوَ مُختارُ الأبّيّ وشَيْخهِ ابْنِ عَرَفَة وشَيْخِهم الكَبِير ابْن عبد السّلام وغَيْرِهم. واستَدَلُّوا لذلِك بأُمورٍ كَثِيرَة أَوردَها فِي إِكمال الإِكمال.

“dari sekian pendapat yang disebutkan, bahwa pendapat yang sahih adalah yang mengatakan bahwasanya Khidir As adalah nabi yang dipanjangkan umurnya, ia sukar diketahui, namun ia hidup hingga hari kiamat, sebab ia telah meminum air kehidupan. 

Yang demikian adalah pendapatnya mayoritas ulama’, Kaum sufi dan salihin pun konsensus atasnya. Yang mengingkar ini adalah Imam Bukhari, Ibnu Al-Mubarak, Al-Harbi dan Ibnu Al-Jauzi. Guru kami berkata, dan Ibnu hajar pun mensahihkannya, bahwa ia condong pada pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup. 

Pendapat ini juga dipilih oleh Al-Abbi, Ibnu Arafah dan guru besar merekaw, yaitu Ibnu Abdis Salam. Mereka bertendensi pada dalil yang banyak, rinciannya ada di kitab Ikmal Al-Akmal”. (Taj al-Arus , jilid XI/184)

Ibnu Asakir juga menjelaskan bahwa mengapa Nabi Khidir bisa hidup lama adalah karena beliau meminum air kehidupan, yang tempatnya itu tidak diketahui siapapun, hatta Raja dzulqarnain Ibnu Asakir menceritakan dengan detail peristiwa itu di kitabnya. (Tarikh Dimasyq , XVII/347)

Hanya saja Abdul Wahhab Al-Sya’rani mengatakan: Aku mendengar Syekh Ali (teman dekat dari Syaikhul Islam Zakariya al Anshori dalam menuntut ilmu, dan masyhur sering bertemu dgn Nabi Khidhir) berkata sa’at berada di Madrasah Al Kamiliyah Mesir: 

“Nabi Khidhir tidak akan bertemu dengan seseorang kecuali dalam diri orang tersebut terdapat 3 akhlaq. Jika tidak ada 3 hal tersebut, walaupun ibadahnya seperti Malaikat, maka tidak akan pernah bertemu dgn Nabi Khidir As. 

Tiga akhlak tersebut adalah: Seluruh aktivitasnya selaras dengan sunnah-sunnah Rasulullah Saw, Tidak rakus atau tergiur dengan duniawi dan Hatinya selamat dari rasa benci, dendam, hasut dan sebagainya terhadap sesama umat islam. 

Maka tidak dapat di percaya ketika ada orang yg mengaku bertemu dgn Nabi Khidir As. tapi masih ada penyakit hati pada sesama muslim, senang terhadap dunia dan jarang mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Saw. (Tabaqat al-Kubra , jilid II/112)

Di antara orang yang pernah ketemu dengan Nabi Khidir As adalah sebagai berikut;

  1. Nabi Musa As dan Yusya’ bin Nun, inilah yang jamak diketahui.
  2. Sayyidina Umar bin Khatthab
  3. Sayyidina Ali bin Ali bin Abi Thalib
  4. Sayyidina Ali bin Zainal Abidin
  5. Khamis Al-Khulafa’ Umar bin Abdul Aziz
  6. Syekh Ali Al-Khawwas
  7. Abul Hasan Al-Syadzili

Masih banyak lagi sebenarnya, hatta orang-orang Indonesia pun banyak yang mengaku bahwa mereka pernah bertemu Nabi Khidir As. Ketika mereka mengaku demikian, namun tidak memenuhi kriteria yang disebutkan Syekh Abdul Wahhab Al-Sya’rani, maka pengakuannya diragukan. Adapun figur yang paling masyhur pernah ketemu Nabi Khidir adalah Syekh Mahfudz Termas, Syaikhina KH Mbah Kholil Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ary. 

Figur nabi Khidir seakan mempunyai daya tarik tersendiri, hatta banyak sekali ulama yang membahasnya. Ada yang membahasnya dalam bentuk ensiklopedis, namun ada juga yang membahasnya dalam satu judul tersendiri, misalnya Syekh Mahfudz Termas dalam karyanya yang berjudul Inayat al-muftaqir fi ma yata’llaq bi sayyidina Khidir, Sayyid Salamah Ghunma dalam Sayyidina Al-Khidir Alaihis salam, Syekh Muhammad al-tamsamani dalam Sayyidil Khidir ra’s al-auliya’, dan lain-lain.

Dikatakan bahwasanya Nabi Khidir melakukan perjumpaan setiap tahun dengan Nabi Ilyas As, Ibnu Hajar menjelaskan:

ويروى عن الحسن البصري قال: وكل إلياس بالفيافي ووكل الخضر بالبحور وقد أعطيا الخلد في الدنيا إلى الصيحة الأولى وأنهما يجتمعان في موسم كل عام.قال الحارث بن أبي أسامة في مسنده حدثنا عبد الرحيم بن واقد حدثني محمد بن بهرام حدثنا أبان عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إن الخضر في البحر واليسع في البر يجتمعان كل ليلة عند الردم الذي بناه ذو القرنين بين الناس وبين يأجوج ومأجوج ويحجان ويعتمران كل عام ويشربان من زمزمكم شربة تكفيهما إلى قابل ” . قلت: وعبد الرحيم وأبان متروكان. 

Hasan Al-Basri menyatakan bahwasanya nabi Ilyas itu adalah penguasa daratan, dan Nabi Khidir As adalah penguasa lautan. Keduanya diberi masa hidup yang lama hingga kelak hari kiamat, keduanya pun bertemu pada setiap tahunnya. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda;

 “Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat Dzul Qarnain, guna menjaga yajuj dan majuj agar tidak keluar dari kerangkengnya. Keduanya haji dan umrah di setiap tahun, dan minum air zam-zam seperti kalian. (Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah,II/251)

وعن ابن عباس رضي الله عنهما يلتقي الخضر والياس في كل عام بمنى فيحلق كل رأس صاحبه ويفترقان عن هؤلاء الكلمات: بسم الله ماشاء الله لايسوق الخير الاالله بسم الله ما،شاءالله لايصرف السوءالاالله بسم الله ما شاءالله ما كان من نعمة فمن الله بسم الله ماشاءالله لاحول ولاقوة الابالله فمن قال هذه الكلمات حين يصبح وحين يمسي أمن من الغرق والحرق والسرق والشيطان والسلطان والحية والعقرب



Dari Ibnu Abbas “Nabi Khidir dan Ilyas berjumpa di Mina setiap tahun dan mereka saling mencukur rambut kepala dan mereka berpisah dengan kalimat ini :

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله بسم الله ما شاء الله لايصرف السوء الا الله بسم الله ماشاء ماكان من،نعمة فمن الله بسم الله ما شاء الله لا حول ولاقوة الا بالله

maka barang siapa Yang mengucapkannya diwaktu pagi dan petang Maka ia akan aman dari tenggelam dilaut kebakaran, pencurian, gangguan syetan, penguasa, ular dan kalajengking. (Syekh Muhammad al-tamsamani dalam Sayyidil Khidir ra’s al-auliya’, h. 212)

Demikianlah penjelasan mengenai Nabi Khidir AS, semoga bermanfaat. (Baca: Doa Nabi Khidir Buat Imam Ahmad untuk Menyembuhkan Penyakit)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.