Serbaserbi

Menyoal Bocah Merokok Yang Viral Di Yogyakarta

Beberapa waktu lalu, viral seorang bocah berusia 3 tahun yang diklaim kecanduan merokok. Bocah tersebut berasal dari Kepanewon Ponjong, Gunung Kidul.

Dari keterangan orangtuanya, hal tersebut bermula ketika bocah tersebut mempunyai kebiasaan memunguti puntung rokok di sekitar rumahnya sejak beberapa bulan lalu. Kemudian setiap hari anak tersebut meminta orang tuanya untuk membelikannya rokok. Bahkan kalau ada orang yang lewat di depan rumahnya juga dimintai rokok oleh bocah tersebut.

Orangtuanya terpaksa membelikan rokok eceran, pasalnya jika keinginan untuk merokoknya tidak diturutin, bocah tersebut merengek lalu menendang pintu serta menjambak ibunya. Namun setelah keinginan bocah tersebut dipenuhi, anak tersebut kembali tertawa dan energik.

Menyikapi kejadian tersebut, sebetulnya peran orang tua dalam mengedukasi anak untuk tidak merokok itu sangat penting sekali. Merokok itu merupakan aktivitas orang dewasa yang penuh tanggungjawab. Dan merokok bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh anak yang belum cukup berumur.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan anak tersebut karena aktivitas merokoknya. Ya, walaupun tentu kita semua tahu bahwa aktivitas tersebut adalah salah. Sejak awal, peran orang tua bocah tersebut sudah keliru. Bagaimana bisa membiarkan anak tersebut memunguti puntung rokok yang berada disekitar rumahnya?

Seharusnya, sudah sejak awal orang tuanya mengingatkan dan melarang anak tersebut memunguti puntung rokok. Bocah itu perlu diedukasi bahwa puntung tersebut adalah sampah yang tidak boleh dipungut. Dipungut saja tidak boleh, apalagi sampai membakar dan mencoba puntung rokok tersebut.

Saya kira, anak berusia 3 tahun tidak punya benda yang bernama korek api. Tentu ada campur tangan orang dewasa di sekitarnya yang meminjami korek, atau setidaknya lalai karena membiarkan ada korek api dalam jangkauan seorang anak kecil. Atau bahkan mengajari anak tersebut untuk merokok. Kita sebagai perokok tentu tahu, menghidupkan rokok itu tidak bisa hanya dengan membakar batang rokoknya. Namun juga perlu isapan agar batang rokoknya terbakar dengan sempurna.

Sebuah keteledoran kita sebagai orangtua kalau anak berusia 3 tahun sampai punya kebiasaan merokok. Sebagai orang tua, tugasnya adalah mengawasi anak tersebut selama bermain-main. Memberi paham benda-benda yang kiranya anak tersebut belum mengerti. Sebaiknya unsur pendekatan dengan mengobrol lebih di kedepankan daripada menakut-nakuti anak tersebut.

Kita sebagai perokok santun pula, tugasnya adalah menjauhkan rokok, korek dan asap rokok dari jangkauan anak-anak. Kalau kita ingin merokok dan terdapat anak-anak di dekat kita, baiknya kita menghindar terlebih dahulu. Puntung rokoknya juga harus dibuang di tempat yang semestinya.

Tugas kita pula sebagai perokok santun untuk mengingatkan anak-anak yang kedapatan bermain dengan puntung rokok atau bahkan mencoba merokok. Jika kampanya perokok santun ini sudah mendarah kepada setiap perokok, saya kira kita tidak akan menemukan anak merokok di bawah umur, atau setidaknya tidak semasif yang digambarkan media hari ini.

Terkait media yang memberitakan viralnya bocah 3 tahun merokok sebetulnya juga kurang etis. Menurut keterangan orang tua, bocah tersebut hanya merokok paling banyak 1 batang setiap harinya. Entah kenapa media memilih diksi “kecanduan” merokok dalam pemberitaannya.

Kita tahu, anak-anak itu penasaran dengan segala hal yang ada di sekitarnya. Segala hal yang anak-anak temukan biasanya langsung dirasakan dengan mencicipinya. Media terkait seolah-olah sedang menganggap bahwa rokok memang benar-benar sumber malapetaka, sampai anak usia 3 tahun sudah kecanduan untuk merokok.

Secara umum, mencoba 1 batang rokok dalam sehari itu kurang tepat dikatakan sebagai kecanduan. Mengapa tidak membuat sudut pandang dari orang tuanya, mengapa hanya mengglorifikasi anak merokok tersebut? Apa kepentingan di balik pemberitaan semacam ini?

Banyak pihak, utamanya antirokok, mendaku ingin membangun awarenness soal perokok anak. Tapi ada kejadian semacam ini malah dibuat viral. Di jaman teknologi dan media sosial hari ini, anak di bawah umur bisa dengan mudah mendapat informasi digital, apalagi yang sedang viral. Alih-alih membangun awareness, justru menyebarkan virus.

Kampanye antirokok saat di media mainstream saat ini memang sudah lebih masif. Berbeda dengan media sebelum tahun 2000-an. Media pada zaman itu masih menganggap rokok khususnya kretek sebagai budaya bangsa Indonesia yang mesti kita lestarikan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.