Serbaserbi

Kisah Rasulullah SAW Bersama 10.000 Pasukan Bebaskan Mekkah di Bulan Ramadhan

Pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan 8 H. Nabi Rasulullah SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Tanah Suci itu secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun.

Muhammad Husain Haikal dalam “Sejarah Hidup Muhammad” menceritakan Pasukan ini bergerak dalam suatu jumlah yang belum pernah dialami oleh kota Madinah . Mereka terdiri dan kabilah-kabilah Sulaim, Muzaina, Ghatafan dan yang lain, yang telah menggabungkan diri, baik kepada Muhajirin atau pun kepada Anshar . Mereka berangkat bersama-sama dengan mengenakan pakaian besi. Mereka melingkar ke tengah-tengah padang sahara yang membentang luas itu, sehingga apabila kemah-kemah mereka sudah dikembangkan, tertutup belaka oleh debu pasir sahara itu; sehingga karenanya orang takkan dapat melihatnya.

Mereka yang terdiri dari ribuan orang itu telah mengadakan gerak cepat. Setiap mereka melangkah maju, kabilah-kabilah lain ikut menggabungkan diri, yang berarti menambah jumlah dan menambah kekuatan pula. Semua mereka berangkat dengan kalbu yang penuh iman, bahwa dengan pertolongan Allah mereka akan mendapat kemenangan.

Perjalanan ini dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) dengan pikiran dan perhatian tertuju hanya hendak memasuki Rumah Suci tanpa akan mengalirkan darah setetes sekalipun.

Bila pasukan ini sudah sampai di Marr’z-Zahran dan jumlah anggota pasukan sudah mencapai sepuluh ribu orang, pihak Quraisy belum juga mendapat berita. Mereka masih dalam silang-sengketa, bagaimana caranya akan menangkis serangan dari Rasulullah.

Oleh Abbas bin ‘Abd’l-Muttalib, paman Nabi, ditinggalkannya mereka itu dalam perdebatan dan dia sendiri sekeluarga berangkat menemui Rasulullah di Juhfa. Boleh jadi sudah ada orang-orang dari Banu Hasyim yang sudah menerima berita atau semacam berita tentang kebenaran Nabi. Lalu mereka bermaksud menggabungkan diri tanpa akan mendapat sesuatu gangguan.

Di samping Abbas, yang juga berangkat menyongsong ialah Abu Sufyan bin’l-Harith bin ‘Abd’l-Muttalib, sepupu Nabi, Abdullah bin Abi Umayya bin’l-Mughira, anak bibinya. Mereka menggabungkan diri dengan pasukan Muslimin di Niq’l-‘Uqabin. Mereka berdua minta izin akan menemui Nabi, tapi Nabi menolak.

Keterangan ini disampaikan kepada Abu Sufyan, dan dia berkata: “Demi Allah, bagiku hanyalah aku ingin diizinkan bertemu, atau, dengan bantuan anakku ini, kami akan pergi ke mana saja, sampai kami mati kehausan dan kelaparan.”

Nabi merasa kasihan kepada mereka. Kemudian mereka pun diizinkan masuk menemuinya, dan mereka menyatakan masuk Islam.

Menyaksikan pasukan Muslimin serta kekuatannya yang demikian rupa, Abbas bin ‘Abd’l-Muttalib sekarang merasa cemas dan terkejut sekali. Sekalipun ia sudah masuk Islam, namun hatinya selalu kuatir akan bencana yang akan menimpa Makkah jika kekuatan pasukan yang belum pernah ada bandingannya di seluruh jazirah Arab itu kelak menyerbu ke dalam kota. Bukankah baru saja ia meninggalkan Makkah, meninggalkan keluarga dan handai-tolan, yang belum lagi terputus pertalian mereka karena Islam yang baru dianutnya itu?

Boleh jadi ia menyatakan rasa kekuatirannya itu kepada Rasul, dan ia bertanya apa yang akan diperbuatnya kalau pihak Quraisy minta damai. Atau boleh jadi juga sepupunya ini yang dengan senang hati membuka pembicaraan dengan Abbas dalam hal ini, dan diharapkannya ia menjadi seorang utusan yang akan memberi kesan yang menakutkan kepada sekelompok orang di kalangan Quraisy itu, sehingga kelak dapat memasuki Makkah tanpa sesuatu pertumpahan darah.

Dengan duduk di atas seekor bagal putih kepunyaan Nabi, Abbas berangkat pergi ke daerah Arak, dengan harapan kalau-kalau ia akan berjumpa dengan orang mencari kayu, atau tukang susu atau dengan manusia siapa saja yang sedang pergi ke Makkah. Ia akan menitipkan pesan kepada penduduk kota itu tentang kekuatan pasukan Muslimin yang sebenarnya supaya mereka kelak menemui Rasulullah dan minta damai sebelum pasukan ini memasuki kota dengan kekerasan.

Sejak pihak Muslimin berlabuh di Marr’z-Zahran, pihak Quraisy sudah mulai merasakan adanya bahaya yang sedang mendekati mereka. Maka diutusnya Abu Sufyan bin Harb, Budail bin Warqa’ dan Hakim bin Hizam – masih kerabat Khadijah – mencari-cari berita sampai seberapa jauh bahaya yang mungkin mengancam mereka itu.

Sementara Abbas sedang di atas bagal Nabi yang putih itu, tiba-tiba ia mendengar ada percakapan antara Abu Sufyan bin Harb dengan Budail bin Warqa’ sebagai berikut:

Abu Sufyan: “Aku belum pernah melihat api unggun dan pasukan tentara seperti yang kita lihat malam ini.”

Budail: “Tentu itu api unggun Khuza’a yang sudah dirangsang perang.”

Abbas sudah mengenal suara Abu Sufyan itu, lalu dipanggilnya dengan nama julukannya: “Abu Hanzala!”

“Abu’l-Fadzl!” gilir Abu Sufyan menyahut.

“Abu Sufyan, kasihan engkau!” kata Abbas. “Rasulullah berada di tengah-tengah rombongan itu. Apa jadinya Quraisy kalau mereka memasuki Makkah dengan kekerasan.”

“Apa yang harus kita perbuat!” kata Abu Sufyan. “Kupertaruhkan ibu-bapaku untukmu.”

Oleh Abbas ia dinaikkannya di belakang bagal dan diajaknya berangkat bersama-sama, sedang kedua temannya disuruhnya kembali ke Makkah. Oleh karena ketika melihat bagal itu mereka sudah mengenalnya, dibiarkannya ia dengan penumpangnya itu lalu di hadapan mereka, di tengah-tengah sepuluh ribu orang yang sedang memasang api unggun, yang sengaja dipasang untuk menimbulkan kegentaran dalam hati penduduk Makkah.

Akan tetapi ketika bagal itu lalu di depan api unggun Umar bin’l-Khattab , dan Umar melihatnya, sekaligus ia mengenal Abu Sufyan dan diketahuinya pula bahwa Abbas hendak melindunginya. Cepat-cepat ia pergi ke kemah Nabi dan dimintanya kepada Nabi supaya batang leher orang itu dipenggal.

“Rasulullah,” kata Abbas. “Saya sudah melindunginya.”

Menghadapi situasi semacam itu dan waktu sudah malam pula, dan setelah terjadi perdebatan yang kadang sengit juga antara Umar dan Abbas, Rasulullah berkata: “Bawalah dia dulu ke tempatmu, Abbas. Pagi-pagi besok bawa kemari.”

Keesokan harinya, bilamana Abu Sufyan sudah dibawa lagi menghadap Nabi dan disaksikan oleh pembesar-pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar – terjadi dialog demikian ini:

Nabi: “Kasihan kamu Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya sekarang engkau harus mengetahui, bahwa tak ada Tuhan selain Allah!?”

Abu Sufyan: “Demi ibu-bapaku! Sungguh bijaksana engkau! Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga! Aku memang sudah menduga, bahwa tak ada tuhan selain Allah, itu sudah mencukupi segalanya.”

Nabi: “Kasihan engkau Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya engkau harus mengetahui, bahwa aku Rasulullah!?”

Abu Sufyan: “Demi ibu-bapaku! Sungguh bijaksana engkau! Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga! Tetapi mengenai hal ini, sungguh sampai sekarang masih ada sesuatu dalam hatiku.”

Sekarang Abbas campur tangan. Ia bicara dengan ditujukan kepada Abu Sufyan, supaya ia mau menerima Islam dan bersaksi bahwa tak ada tuhan selain Allah dan bahwa Rasulullah pesuruhNya- sebelum batang lehernya dipenggal. Menghadapi hal ini buat Abu Sufyan tak ada jalan lain ia harus menerima. Sekarang Abbas menghadapkan pembicaraannya kepada Nabi SAW: “Rasulullah,” katanya. “Abu Sufyan orang yang gila hormat. Berikanlah sesuatu kepadanya.”

“Ya,” kata Rasulullah “Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan, orang itu selamat, barangsiapa menutup pintu rumahnya orang itu selamat dan barangsiapa masuk ke dalam masjid orang itu juga selamat.”

Islamnya Abu Sufyan itu tidak akan mengurangi kewaspadaan dan kesiap-siagaan Rasulullah dalam menyiapkan diri hendak memasuki Makkah. Kalau kemenangan yang di tangan Tuhan itu memang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tapi Tuhan akan memberikan pertolongan hanya kepada orang yang sudah mengadakan persiapan, dan dalam segala hal dan setiap saat berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Oleh karena itu diperintahkannya supaya Abu Sufyan ditahan dulu di sela wadi, pada sebuah jalan masuk gunung ke Makkah, sehingga bila nanti pasukan Muslimin lewat, ia akan melihatnya sendiri, dan dapat pula dengan jelas ia melaporkan kepada golongannya, supaya jangan timbul perlawanan yang bagaimanapun bentuknya, apabila ia dapat cepat-eepat kembali kepada mereka kelak.

Bilamana kemudian kabilah-kabilah itu lewat di hadapan Abu Sufyan, yang sangat mempesonakan hatinya ialah batalion serba hijau yang mengelilingi Rasulullah, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan yang tampak hanyalah pakaian besi.

Setelah mengetahui keadaan itu Abu Sufyan berkata: “Abbas, kiranya takkan ada orang yang sanggup menghadapi mereka itu. Abu’l-Fadzl, kerajaan kemenakanmu ini kelak akan menjadi besar!”

Sesudah itu kemudian ia dibebaskan pergi menemui golongannya dan dengan suara keras ia berteriak kepada mereka: “Saudara-saudara Quraisy! Rasulullah sekarang datang dengan kekuatan yang takkan dapat kamu lawan. Tetapi barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan orang itu selamat, barangsiapa menutup pintu rumahnya, orang itu selamat dan barangsiapa masuk ke dalam masjid orang itu juga selamat!”

Rasulullah sudah berangkat bersama pasukannya sampai ke Dhu-Tuwa. Setelah dilihatnya dari tempat itu tak ada perlawanan dari pihak Makkah, pasukannya dihentikan. Ia membungkuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah membukakan pintu Lembah Wahyu dan tempat Rumah Suci itu kepadanya dan kepada kaum Muslimin, sehingga mereka dapat masuk dengan aman, dengan tenteram.

Dalam pada itu Abu Quhafa (ayah Abu Bakar) – yang belum lagi masuk Islam waktu itu – meminta kepada cucunya yang perempuan supaya ia dibawa mendaki gunung Abu Qubais. Sesampainya di atas gunung, orang yang sudah buta itu bertanya kepada cucunya apa yang dilihatnya. Oleh cucunya dijawab bahwa ia melihat sesuatu serba hitam berkelompok “ltu pasukan berkuda”, kata orang tua itu.

“Sekarang yang serba hitam itu sudah terpencar,” kata cucunya lagi.

“Kalau begitu pasukan berkuda itu sedang bertolak ke Makkah. Cepat-cepatlah bawa aku pulang ke rumah.”

Tetapi sebelum ia sampai ke rumahnya pasukan berkuda itu sudah lebih dulu sampai.

Rasulullah merasa bersyukur kepada Tuhan karena pintu Makkah kini telah terbuka. Tetapi sungguhpun demikian beliau tetap selalu waspada dan berhati-hati. Diperintahkannya pasukannya supaya dipecah menjadi empat bagian. Diperintahkan kepada mereka semua supaya jangan melakukan pertempuran, jangan sampai meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali.

Zubair bin’l-‘Awwam dalam memimpin pasukan itu ditempatkan pada sayap kiri dan diperintahkan memasuki Makkah dari sebelah utara.

Khalid bin’l-Walid ditempatkan pada sayap kanan dan diperintahkan supaya memasuki Makkah dari jurusan bawah.

Sa’d bin ‘Ubada yang memimpin orang Madinah supaya memasuki Makkah dari sebelah barat, sedang Abu ‘Ubaida bin’l-Jarrah oleh Rasulullah ditempatkan ke dalam barisan Muhajirin dan bersama-sama memasuki Makkah dari bagian atas, di kaki gunung Hind.

Sementara mereka sedang dalam persiapan demikian itu, tiba-tiba terdengar Said bin ‘Ubada berkata: “Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya segala yang terlarang …”

Dalam hal ini ia telah melanggar perintah Nabi, bahwa kaum Muslimin tidak boleh membunuh penduduk Makkah. Oleh karena itu, ketika Nabi mengetahui apa yang dikatakan oleh Sa’d itu, terpikir olehnya akan mengambil bendera yang ada di tangannya dan menyerahkannya kepada anaknya, Qais. Qais adalah laki-laki yang bertubuh besar, tapi ia lebih tenang dari ayahnya.

Ketika pasukan sudah memasuki kota, dari pihak Makkah tidak ada perlawanan, kecuali pasukan Khalid bin’l-Walid yang berhadapan dengan perlawanan dari mereka yang tinggal di daerah bagian bawah Makkah. Mereka ini terdiri dari orang-orang Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah dan yang ikut serta dengan Banu Bakr melanggar Perjanjian Hudaibiya dengan mengadakan serangan terhadap Khuza’a.

Mereka ini tidak mau memenuhi seruan Abu Sufyan. Bahkan mereka telah menyiapkan diri hendak berperang, sementara yang lain dari golongan mereka ini juga telah bersiap-siap pula hendak melarikan diri. Mereka dipimpin oleh Safwan, Suhail dan ‘Ikrima bin Abi Jahl. Bilamana pasukan Khalid ini datang, mereka menghujaninya dengan serangan panah.

Tetapi secepat itu pula Khalid berhasil mencerai-beraikan mereka. Sungguhpun begitu dua orang dari anak buahnya tewas, karena mereka ini ternyata sesat jalan dan terpisah dari induk pasukannya, sementara pihak Quraisy kehilangan tigabelas orang, menurut satu sumber, atau duapuluh delapan orang, menurut sumber yang lain.

Melihat malapetaka yang sekarang sedang menimpa mereka ini, Shafwan, Suhail dan ‘Ikrima cepat-cepat angkat kaki melarikan diri, dengan meninggalkan orang-orang yang tadinya mereka kerahkan mengadakan perlawanan menghadapi kekuatan dan pukulan Khalid yang heroik itu. Dalam pada itu Rasulullah dengan pasukan Muhajirin yang kini di atas sebuah dataran tinggi itu, sedang menyusur turun menuju ke Makkah, dengan keyakinan hati hendak membebaskannya dalam keadaan aman dan damai.

Dilihatnya kota itu dengan segala isinya, dilihatnya pula kilatan pedang di bagian bawah kota serta pasukan Khalid yang sedang mengejar-ngejar mereka yang menyerangnya itu. Di sini ia merasa sedih sekali dan berteriak geram dengan mengingatkan kembali akan perintahnya untuk tidak mengadakan pertempuran. Setelah diketahuinya kemudian apa yang telah terjadi, teringat ia bahwa yang sudah dikehendaki Tuhan itulah yang baik.

Sekarang Rasulullah berhenti di hulu kota Makkah, di hadapan Bukit Hind. Di tempat itu dibangunnya sebuah kubah (kemah lengkung), tidak jauh dari makam Abu Thalib dan Khadijah. Ketika ia ditanya, maukah ia beristirahat di rumahnya, dijawabnya: “Tidak. Tidak ada rumah yang mereka tinggalkan buat saya di Makkah,” katanya.

Kemudian beliau masuk ke dalam kemah lengkung itu. Beliau beristirahat dengan hati penuh rasa syukur kepada Allah SWT, karena ia telah kembali dengan terhormat, dengan membawa kemenangan ke dalam kota. Beliau melepaskan pandang ke sekitar tempat itu, ke lembah wadi dan gunung-gunung yang ada di sekelilingnya.

Gunung-gunung, tempat ia dahulu tinggal di celah-celahnya, ketika tindakan Quraisy sudah begitu memuncak, begitu keras mengasingkan dia. Di pegunungan itulah, yang juga di antaranya Gua Hira, tempat ia menjalankan tahannuth ketika datang kepadanya wahyu: ‘Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya...” (Qur’an, 96: 1-5)

Ke sekitar gunung-gunung itu ia melepaskan pandang, ke lembah-lembah, dengan rumah-rumah Makkah yang bertebaran, dan di tengah-tengah adalah Rumah Suci. Begitu rendah hati ia kepada Tuhan, sehingga airmata menitik dari matanya, setitik airmata Islam dan rasa syukur demi Kebenaran Yang Mutlak, yang dalam segala soal kepadaNya jua akan kembali.

Saat itu juga terasa oleh beliau bahwa tugasnya sebagai komandan sudah selesai. Tidak lama tinggal dalam kemah itu, beliau segera keluar lagi. Dinaikinya untanya Al-Qashwa, dan beliau pergi meneruskan perjalanan ke Ka’bah. Beliau bertawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyentuh hajar aswad dengan sebatang tongkat di tangan. Selesai beliau melakukan tawaf, dipanggilnya Uthman bin Talha dan pintu Ka’bah dibuka. Sekarang Rasulullah berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong.

Beliau berkhutbah di hadapan mereka itu serta membacakan firman Allah SWT: “Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Tetapi orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling takwa. Allah Maha mengetahui dan Maha mengerti.” (Qur’an, 49: 13)

Kemudian beliau menanya kepada mereka: “Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”

“Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah,” jawab mereka.

“Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!” katanya.

Dengan ucapan itu maka kepada Quraisy dan seluruh penduduk Makkah beliau telah memberikan pengampunan umum (amnesti).

Alangkah indahnya pengampunan itu. Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala rasa dengki dan dendam di hati! Jiwa yang telah dapat menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang di atas kemampuan insani! Itu orang-orang Quraisy, yang sudah dikenal betul oleh Rasulullah, siapa-siapa mereka yang pernah berkomplot hendak membunuhnya, siapa-siapa yang telah menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu, siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa yang dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya, dan siapa pula, kalau berhasil, yang akan membunuhnya, akan mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan itu ada!?

Mereka, orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan Rasulullah, berada di bawah telapak kakinya. Perintahnya akan segera dilaksanakan terhadap mereka itu. Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan pada wewenangnya atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap, yang akan dapat mengikis habis Makkah dengan seluruh penduduknya dalam sekejap mata!

Tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia! Allah telah memberi keringanan kepadanya dalam menghadapi musuh, dan dalam kemampuannya itu beliau memberi pengampunan. Dengan itu, kepada seluruh dunia dan semua generasi beliau telah memberi teladan tentang kebaikan dan keteguhan menepati janji, tentang kebebasan jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun!

Apabila Rasulullah kemudian memasuki Ka’bah, dilihatnya dinding-dinding Ka’bah sudah penuh dilukis dengan gambar-gambar malaikat dan para nabi . Dilihatnya lbrahim yang dilukiskan sedang memegang azlam yang diperundikan, dilihatnya sebuah patung burung dara dari kayu. Dihancurkannya patung itu dengan tangannya sendiri dan dicampakkannya ke tanah. Ketika melihat gambar Ibrahim agak lama Rasulullah memandangnya, lalu katanya: Mudah-mudahan Tuhan membinasakan mereka! Orang tua kita digambarkan mengundi dengan azlam! Apa hubungannya Ibrahim dengan azlam’? Ibrahim bukan orang Yahudi, juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Sedang malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita cantik, gambar-gambar itu oleh Rasulullah disangkal samasekali, sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan. Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu dihancurkan.

Berhala-berhala sekeliling Ka’bah yang disembah oleh Quraisy selain Allah, telah dilekatkan dengan timah di sekeliling Ka’bah. Demikian juga berhala Hubal yang berada di dalamnya. Dengan tongkat di tangan Rasulullah menunjuk kepada berhala-berhala itu semua seraya berkata:

Dan katakanlah: yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap.” (Qur’an, 17: 81)

Berhala-berhala itu kemudian disungkurkan dan dengan demikian Rumah Suci itu dapat dibersihkan. Pada hari pertama dibebaskannya mereka itu, Rasulullah telah dapat menyelesaikan apa yang dianjurkannya sejak duapuluh tahun itu, dan yang telah ditentang oleh Makkah dengan mati-matian. Dihancurkannya berhala-berhala dan dihapuskannya paganisma dalam Rumah Suci itu disaksikan oleh Quraisy sendiri.

Mereka melihat berhala-berhala yang mereka sembah dan disembah oleh nenek-moyang mereka itu samasekali tidak dapat memberi kebaikan atau bahaya buat mereka sendiri.

Pihak Anshar dari Madinah telah menyaksikan semua kejadian itu. Mereka melihat Rasulullah yang berdoa di atas gunung Shafa. Terbayang oleh mereka sekarang bahwa beliau tentu akan meninggalkan Madinah dan kembali ke tempat tumpah darahnya semula yang kini telah dibukakan Tuhan. Mereka berkata satu sama lain: “Menurut pendapat kamu, adakah Rasulullah SAW akan menetap di negerinya sendiri?”

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.