Keagamaan

Kisah Hikmah Klasik (2): Instruksi Umar bin Khatab ke Munkar Nakir – Alif.ID

Di antara malaikat yang populer dan sering disebut oleh masyarakat adalah dua malaikat bagian alam barzakh. Keduanya diberi tugas mengintrogasi mayit yang baru dikebumikan.

Bagi ahlisunnah, azab dan nikmat kubur itu nyata dan wajib diimani. Ada tiga kriteria orang yang mendapat azab kubur yaitu orang kafir, munafik (menyembunyikan kekafiran dengan menampakkan keislaman di luar) dan orang muslim yang durhaka. “Azab kubur itu abadi bagi kedua pertama, dan terputus bagi yang terakhir,” Kata Syekh Nawawi al-Jawi dalam an-Nahjah al-Jayyidah. “Azab kubur bagi muslim durhaka bisa saja ditiadakan berkat doa, sedekah, atau yang lain,” sambung beliau. Dari sini kita tahu, betapa doa dan hadiah pahala bagi amal yang dikerjakan oleh yang masih hidup masih bisa dirasakan manfaatnya bagi yang telah meninggal.

Apalah Semua Ahli Kubur Diintrogasi?

Sebagaimana semua hal ada pengecualian, begitu juga dalam soalan Mungkar dan Nakir ini. Dalam Syarah Aqidatul Awam saat menjelaskan bait nomor 23, Syekh Nawawi mengatakan “Kecuali para nabi, shiddiqun, syuhada, orang yang istikamah membaca surat Tabarak tiap malam, atau surat Sajadah, orang yang membaca surat al-Ikhlas ketika sakit menuju kematiannya, dan lain sebagainya,”. Artinya tak semua mendapatkan introgasi. Ada beberapa orang yang lolos. Tak bisa dibayangkan jika tak ada pengecualian. Bakal tak terpikir oleh Mungkar Nakir bagaimana mereka akan mengintrogasi para nabi, apalagi Rasulullah?

Azab hanya akan menimpa bagi mereka yang diintrogasi. Bagi yang lolos, maka hanya kenikmatan yang ada. “Setiap yang tak diinrogasi, tak diazablah dia di alam barzakh,” terang ulama asal Banten itu dalam al-Nahjah.

Tak setiap pertanyaan dijawab, para ulama pilihan malah bisa tanya balik. Tak heran jika kita sering mendengar kelakar para ulama soal ini. Dalam Nuruzh Zhalam, Syekh Nawawi mengatakan bahkan para ulama bisa saja malah menanyakan balik “Siapa yang menyuruh kalian?”. Ingat anekdot alam barzakh yang tokohnya adalah Imam Sibawaih yang ketika ditanya malah balik tanya “Bagiamana i’rab man rabbuka?”?, kira-kira seperti itu.

Wujud Mungkar dan Nakir disesuaikan amal baik dan buruk ahl kubur. Ia bisa amat menyenangkan atau amat menyeramkan. Tapi rupa-rupanya tak selalu begitu. Nyatanya, keduanya pernah mendatangi Umar dengan wujud tak menyenangkan, makanya ditegur sama khalifah kedua itu.

Kisahnya tak begitu kuat, sehingga Syekh Nawawi dalam Nuruzh Zhalam memulainya dengan shighat tamridh (ruwiya) yang menandakan beliau melemahkan ceritanya.

Saat Umar bin Khatab dimakamkan, ketika semua bergegas bangkit dan pulang, Ali bin Abu Thalib sengaja menunggu dan nguping apa yang akan terjadi pada Umar yang gagah dan ditakuti bahkan oleh syetan itu. Ia terperanjat ketika didatangi Mungkar dan Nakir dengan wujud tak elok. “Tak wanti-wanti ya, jangan pernah lagi menemui orang mukmin dengan rupa seperti ini lagi!”, Katanya. “Saya saja kaget dan takut, padahal saya ini sahabat Rasulullah. Bagaimana dengan yang lain?” Sambungnya. “Sam’an wa Tha’atan,” jawab Mungkar dan Nakir.

Mendengar hal itu, Ali komentar “Umar masih saja memberi manfaat bagi manusia, bahkan ketika ia sudah meninggal sekalipun,”

Jika kemudian Mungkar dan Nakir mendatangi mukmin dengan bentuk menyenangkan, bisa dikatakan itu sebab intruksi  Sayydina Umar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.