Keagamaan

Rabiah Al-Adawiyah; Sufi Perempuan Pelopor Mazhab Cinta | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Siapa yang tidak kenal dengan Rabiah al-Adawiyah? Salah satu ulama tasawuf perempuan yang ibadahnya sangat banyak, ikhlas, dan dilakukan tanpa tujuan apa-apa selain Allah semata. Rabiah Al-Adawiyah sufi perempuan pelopor Mazhab Cinta.

Spiritualitasnya mampu mengalahkan wanita-wanita yang satu zaman dengannya, bahkan mampu mengalahkan para ulama laki-laki pada masa itu. Sejarahnya yang sangat inspiratif menjadi catatan para ulama sejarah, agar sepak terjangnya selama hidup di dunia, menjadi teladan bagi generasi setelahnya.

Ia menjadi salah satu referensi bagi perempuan saat ini, bahwa sebagai wanita pada hakikatnya tidak kekurangan tokoh untuk tumbuh sebagai sosok yang bisa membawa perubahan. Rabiah al-Adawiyah contohnya.

Imam Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (wafat 973 H) dalam salah satu kitabnya, At-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul Anwar fi Thabaqatil Akhyar, sebuah hagiografi karya As-Sya’rani, ia mengatakan, kelebihan sufi perempuan yang satu ini cukup banyak dan begitu populer (popular).

Hanya saja, tidak ada catatan secara pasti perihal tahun kelahirannya, namun asy-Sya’rani menengarai bahwa kelahirannya bertepatan dengan tahun 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah, dan wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H, ia wafat pada usia 83 tahun.

Menurut Imam as-Sya’rani, Rabiah al-Adawiyah laksana ibu bagi para sufi besar setelahnya. Dengan keberadaanya, ia mampu melahirkan sufi dan sufiyah. Pandangan-pandangan spiritualitas yang pernah ia sampaikan terus hidup di kalangan ulama tasawuf, baik wanita maupun laki-laki. Ulama yang menaruh hormat kepadanya sangat banyak, antara lain adalah Sufyan At-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq Al-Balkhi.

Kebiasaannya yang sangat menginspirasi adalah, selain sebagai ahli ibadah yang sangat taat dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan, ia adalah perempuan yang kerap menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabiah jatuh tak sadarkan diri untuk beberapa saat.

Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau super istimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna.

Ia menganggap semua ibadahnya penuh dengan kekurangan, baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual. Hal itu karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut.

Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh. Dalam suatu riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah beristighfar tiga kali tiap selepas shalat wajib.

Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (Imam as-Sya’rani, al-Minahus Saniyah ‘ala al-Washiyah al-Matbuliyah, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], halaman 48).

Rabiah Pelopor Mazhab Cinta

Selain ahli ibadah yang sangat taat, dari Rabiah lah kita bisa mengenal “cinta” yang sebenarnya. Dalam catatan sejarah ia dikenal sebagai sufi wanita dengan mazhab cinta. Semua ibadah yang ia lakukan sama sekali tidak dengan tujuan apa-apa, hanya cinta.

Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari pernah merekam jejak ibadah atas dasar cinta dari Rabiatul Adawiyah. Dalam kitab monumentalnya, yang dikenal Syarhul Hikam, mengutip perkataannya, ia mengatakan:

كُلُّهُمْ يَعْبُدُوْكَ مِنْ خَوْفِ نَارٍ وَيَرَوْنَ النَّجَاةَ حَظًّا جَزِيْلًا ** أَوْ بِأَنْ يَسْكُنُوْا الجِنَانَ فَيَحْظُوْا بِقُصُوْرٍ وَيَشْرَبُوا سَلْسَبِيْلًا ** لَيْسَ لِي بِالجِنَانِ وَالنَّارِ حَظٌّ أَنَا لَا أَبْتَغِي بِحُبِّي بَدِيْلًا

Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (keuntungan) melimpah ** Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila ** Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku (pada-Mu) imbalan pengganti.

Ungkapan Rabi’ah di atas tentu menjadi sebuah pengingat akan keikhlasan yang tinggi, bahwa dalam beribadah seharusnya tidak mengharap imbalan atau menghindar ancaman. Sebab, cinta sejati pada Allah seharusnya tidak didasari oleh keduanya, semua ibadah, mulai dari melakukan perintah dan menjauhi larangan sudah seharusnya dilakukan atas dasar cinta.

Selain itu, ia bukan tipe wanita yang mudah menerima pemberian orang lain. Sosok Rabiatul Adawiyah merupakan wanita yang sangat zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu butuh pada dunia.”

 Ridha Menurut Rabiah

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin merekam jejak Rabiatul Adawiyah di usianya yang sudah mulai menua. Menurutnya, ketika ia memasuki usia yang sudah mulai tua, tepatnya di usia ke-80, fisiknya melemah. Tubuhnya begitu kurus sehingga hampir-hampir jatuh ketika berjalan. Tempat sujudnya persis seperti tempat genangan air. Tempat sujudnya selalu basah dengan air mata.

Rabiah sering terlibat percakapan dengan Sufyan At-Tsauri. Suatu ketika, ia mendengar Sufyan at-Tsauri menyatakan prihatin atas dirinya, “Alangkah sedihnya.” Rabiah lalu menjawab, “Betapa kecil kesedihan itu. Andai aku bersedih, niscaya tidak ada kehidupan di sana.”

Sufyan At-Tsauri pernah berdoa di dekat Rabiah, “Ya Allah, berikanlah ridha-Mu padaku.” Rabiah menanggapinya, “Apakah kau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya. Sedangkan dirimu tidak ridha atas ketentuan-Nya.” Sufyan At-Tsauri kemudian beristighfar. (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin: [Beirut, Darul Ma’rifah], juz II, halaman 346).

Selain al-Ghazali, Imam Abul Qasim al-Qusyairi (wafat 465 H) juga pernah mengutip percakapan Rabiatul Adawiyah dengan Imam Sufyan at-Tsauri. Dalam kitabnya disebutkan bahwa Rabiah pernah ditanya, kapan seorang hamba dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Kemudian ia menjawab, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.”

Di tengah luapan rindunya yang tak terkendali, Rabiatul Adawiyah pernah melontarkan kalimat ini dalam munajatnya, “Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 147).

Demikian tulisan singkat tentang Rabiah Al-Adawiyah, sekaligus sumbangsihnya dalam perkembangan ilmu tasawuf. Ia menjadi salah satu wanita yang ilmunya sangat luas, khususnya dalam dunia tasawuf. Banyak ulama-ulama tersohor yang berguru kepadanya tentang ilmu itu. Hidupnya hanya untuk ilmu dan ibadah kepada Allah.

Cintanya yang tinggi sudah mengalahkan rasa malas untuk mendekat kepada-Nya. Semua waktunya hanya ia gunakan untuk beribadah. Dalam munajat kesedihannya, ia tidak pernah merasa ibadahnya yang banyak sudah benar dan diterima di sisi Allah, bahkan linangan air mata selalu menetes dari kelopak matanya karena sadar nikmat yang telah ia terima belum sebanding dengan ibadah yang ia lakukan.

Demikian kisah hidup Rabiah Al-Adawiyah sufi perempuan pelopor Mazhab Cinta. Semoga bermanfaat. (Baca: Fatimah an-Naisaburiyah; Guru Tasawuf Wanita Imam Dzun Nun al-Mishri dari Khurasan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.