Keagamaan

Sebab Imam Syafi'i Menghukumi Anjing Najis | Bincang Syariah

BincangSyariah.com – Berikut penjelasan terkait sebab Imam Syafi’i menghukumi anjing najis. Pasalnya, anjing merupakan najis berat dalam mazhab Syafi’i. 

Dalam konteks Indonesia, anjing merupakan hewan yang acap kali dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia. Pasalnya Madzhab yang diikuti dalam permasalahan ibadah di Indonesia adalah Madzhab Imam Muhammad bin Idris atau lebih dikenal dengan Imam Syafi’i.

Mengingat Madzhab Syafi’i sangat ketat dan hati-hati dalam permasalahan ibadah dibandingkan dengan 3 ulama’ Mazhab lain yang diakui di Indonesia. 

Namun, penyematan kata najis dalam hukum anjing masih harus dikaji ulang, tidak dapat diterima secara langsung begitu saja, melihat anjing adalah hewan yang menggemasakan. Anjing merupakan hewan yang memiliki sifat setia, ia juga dapat membaca emosi sang majikan dan ikut turut menghindari orang yang jahat kepada majikannya. 

Anjing dapat menjadi teman bermain pun juga dapat dilatih menjadi sosok ganas dalam perburuan. Bahkan pada zaman Rasul dahulu, tidak sedikit Sahabat  yang memelihara anjing yang kemudian digunakan sebagai alat berburu dan membantu pekerjaan ternak domba para Sahabat. Lantas muncul pertanyaan, mengapa madzhab syafi’i menghukumi najis pada anjing dan apa sebab kenajisannya?

Hukum Najis Anjing

Dalil hukum kenajisan anjing bersumber dari Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi :

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِيْ الإِنَاءِ فَاغْسِلُوْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَعَفِّرُوْهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ

“Apabila anjing menjilat bejana, maka basuhlah bejana tersebut sebanyak tujuh kali dan tabburilah dengan debu (tanah)” (H.R. Muslim)

Dari periwayatan Hadis di atas, Ulama’ Madzhab berbeda pandangan hukum satu sama lain mengenai kenajisan yang terdapat pada anjing. Perbedaan hukum kenajisan anjing pada kalangan Madzahibul Arba’ah juga tidak dapat terelakkan.

Hanafiyyah 

Menurut mereka status anjing pada dasarnya adalah suci kecuali pada perkara yang basah seperti darah, kencing, liur, keringat, dan perkara yang basah saja.

Landasan yang mereka pakai adalah Alquran Surah Al-An’am ayat 145 yang berbunyi:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهُ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهِۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah.

Tetapi barangsiapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menurut mereka anjing tidak najis karena kata ganti pada ayat di atas menggunakan “ha” yang menggantikan babi dengan ungkapan “rijsun” atau kotor. Sedangkan anjing tidak termasuk dalam cakupan ayat tersebut.

Malikiyyah 

Dalam pandangan  mereka hukum atau status anjing tidaklah najis secara keseluruhan, baik pada perkara basah ataupun kering. Mereka berpandangan hukum bersuci sebagaimana pada hadis di atas hanya berlaku pada permasalahan membersihkan bejana, wadah, periku atau apapun yang dipakai makan dan minum oleh seekor anjing. Menurut mereka hewan bisa dianggap najis Ketika disembelih dengan tiding menggunakan cara syar’i.

Syafi’iyyah dan Hanabilah

Menurut mereka hukum najis pada anjing adalah keseluruhan yang ada pada anggota tubuh anjing, baik perkara yang kering ataupun basah dari anggota badan hewan mamalia tersebut.

Pembuktian Sains Terhadap Hadis Rasul

Pada forum pembahasan seputar kesehatan umum, para dokter menetapkan bahwa pada jilatan anjing terdapat kuman yang berbentuk pita cair. Sedangkan penggunaan tanah sebagai tambahan cara bersesuci sesuai dengan kandungan isi Hadis di atas adalah sebagai pengangkat atau setrilisasi kuman dan mikroba yang terkandung dalam air liur anjing tersebut. 

Tanah yang disebutkan dalam Hadis tersebut merupakan unsur elemen yang mengandung dua unsur materi yang dapat membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air liur bekas jilatan anjing. Dua materi tersebut adalah tetracycline dan tetarolite. Selanjutnya dua unsur materi tersebut yang digunakan sebagai setrilisator kuman.

Pada masa lalu, para dokter berasumsi bahwa tanah kuburan mengandung kuman-kuman yang berasal dari bangkai-bangkai manusia yang telah mati. Namun, eksperimen dan hipotesis tersebut terpatahkan dengan fakta bahwa tanah merupakan unsur elemen yang efektif dalam pembunuhan terhadap kuman. 

Dilansir oleh himpunan dokter, mereka berpendapat sebagai berikut : “Pada masa modern sekarang ini, para ilmuan telah melakukan analisis terhadap tanah kuburan untuk mengetahui kuman-kuman yang terkandung di dalamnya.

 Mereka berkeyakinan dapat menemukan kuman-kuman yang membahayakan dalam jumlah yang banyak. Asumsi ini berdasarkan sebuah fakta bahwa banyak manusia yang mati disebabkan oleh penyakit yang ditularkan melalui kuman.”

Menurut Muhammad Kamil Abd al-Shamad penggunaan tanah sebagai salah satu dari tujuh basuhan dalam menghilangkan najis jilatan anjing merupakan mukjizat ilmiah yang jelas sangat membantu terhadap proses penelitian.

Ia melansir bahwa tanah mengandung unsur yang cukup kuat menghilangkan bibit-bibit penyakit dari kuman-kuman. Hal ini berdasarkan bahwa molekul yang terdapat pada tanah dapat menyatu dengan partikel-partikel yang terdapat pada kuman, sehingga proses sterilisasi dapat dilakukan secara menyeluruh.

Sebagai madzhab yang paling hati-hati diantara madzahibul arba’ah yang lain, madzhab syafi’i menghukumi seluruh anggota tubuh anjing sebagai najis. Kendatipun dalam keadaan kering, karena tidak menutup kemungkinan anjing menjilati anggota tubuh tanpa sepengetahuan penyentuh. 

Hal itu sebagai antisipasi agar tidak terkena virus yang telah disebarkan oleh anjing tersebut kepada anggota badan yang lain melalui jilatannya. Demikian penjelasan terkait sebab Imam Syafi’i menghukumi anjing najis. Wallahu A’lam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.