Keagamaan

Maryam al-Bashriyah; Wanita Ahli Ibadah yang Mati Karena Cinta | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com- Ini adalah kisah dan biografi Maryam al-Bashriyah, seorang wanita ahli ibadah yang mati karena cinta. Ia adalah sosok yang taat dalam beribadah pada Allah. 

“Jika hendak melihat sosok wanita salehah yang ahli ibadah tanpa kenal waktu, hidupnya sangat hati-hati, khususnya dalam hal-hal yang dilarang, dan sangat menjaga semua kewajiban, maka Maryam al-Bashriyah lah sosoknya.”

Jika sebelumnya pernah membahas perjalanan ulama perempuan yang dikenal dengan nama Rabiatul Adawiyah, maka tidak enak kiranya jika tidak membahas wanita salehah yang hidup sebagai pelayan baginya, yaitu Maryam al-Bashriyah.

Nama Maryam al-Bashriyah mungkin tidak terlalu masyhur sebagaimana Rabiatul Adawiyah, namun ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya, ia juga menjadi salah satu wanita yang hidup sebagai pelayan Rabiah di masa hidupnya. Bahkan, ajaran tasawuf dalam diri Maryam merupakan representasi dari gurunya, Rabiah.

Dalam hal spiritual ibadah, boleh jadi Maryam al-Bashriyah tidak begitu populer (popular) sebagaimana ibadah gurunya, namun ia tetap memiliki jasa yang sangat penting dalam perjalanan spiritual perempuan yang layak untuk diteladani.

Tidak ada catatan secara khusus perihal tanggal dan tahun kelahiran Maryam, namun Imam Abdurrahman Muhammad bin Husain bin Muhammad bin Musa al-Azdi (wafat 412 H), dalam salah satu kitabnya menengarai bahwa tahun kelahirannya bersamaan dengan masa-masa Rabiatul Adawiyah, dan Maryam merupakan salah satu wanita yang meneruskan ajarannya.

Maryam al-Bashriyah merupakan salah satu wanita ahli ibadah yang berasal dari kota Bashrah. Semua hidupnya hanya ia gunakan untuk beribadah. Ia tidak memiliki waktu untuk bermain, dan setiap sesuatu yang tidak memiliki faedah ia tinggalkan. Jika tidak belajar, ia akan terus beribadah dan bermunajat kepada Allah.

Kegiatan Maryam al-Bashriyah

Kegiatannya dalam setiap hari dan malam tidak lain selain hal-hal positif yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun orang lain. Dari pagi hari, ia mengajar dan memberikan nasihat kepada orang lain, hanya istirahat untuk shalat saja. Kegiatan itu ia lakukan secara terus menerus hingga waktu maghrib datang.

Setelah shalat Isya, ia juga mengajar dan memberikan nasihat-nasihat kepada umat manusia di tempat yang berbeda, kemudian pada tengah malam ia bermunajat kepada Allah dengan beribadah, sembari berdoa selamat bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya.

Demikian kegiatannya dalam setiap hari dan malam. Wajar jika ia memiliki derajat yang mulia di sisi Allah dan manusia, sebab, selain ia berpikir perihal nasibnya dengan memperbanyak ibadah, ia juga tak henti-hentinya berpikir akan keselamatan manusia. Hal itu bisa dilihat dari berbagai perjuangannya untuk memberi nasihat dan mengajarkan ilmu pada masyarakat.

Mutiara Hikmah Maryam al-Bashriyah

Selain dikenal sebagai ahli ibadah yang sangat taat dan wanita salehah yang selalu berpikir akan nasib umat Nabi Muhammad, ia juga salah satu wanita hebat yang nasihat-nasihatnya sangat penting untuk direnungkan saat ini, khususnya bagi wanita.

Imam Abdurrahman al-Azdi mengutip ungkapan Imam Muhammad bin Ahmad ar-Razi dari Imam Abdul Aziz bin Umair, dalam kitabnya disebutkan bahwa Maryam al-Bashriyah merupakan sosok wanita yang selalu beribadah di malam hari,

قَامَتْ مَرْيَمُ الْبَصْرِيَّةُ الْمُتَعَبِّدَةُ مِنْ أَوَّلِ الَّليْلِ فَقَالَتْ (اللهُ لَطِيْفٌ بِعِبَادِهِ) ثُمَّ لَمْ تُجَوِّزْ بِهِ حَتَّى أَصْبَحَتْ

Artinya, “Maryam al-Bashriyah tidak tidur malam untuk beribadah kepada Allah, mulai dari awal malam (setelah Maghrib). Kemudian ia berkata (firman Allah), “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya”, kemudian ia tidak berhenti (beribadah dan melafalkannya) hingga datang waktu subuh.”

Selain itu, ia adalah sosok yang tidak cinta dunia. Semua urusan rezeki benar-benar ia pasrahkan kepada Allah. Ia tidak pernah susah karena dunia dan kenikmatan yang ada di dalamnya. Ia merupakan sosok wanita yang sanga zuhud. Hal ini sebagaimana terekam dalam kitab Syekh Abdurrahman al-Azadi, ia mengutip perkataan Maryam:

مَا اهْتَمَمْتُ بِالرِّزْقِ وَلَا تَعِبْتُ فِي طَلَبِهِ مُنْذُ سَمِعْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ (وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ)

Artinya, “Aku (Maryam al-Bashriyah) tidak pernah berpikir akan rezeki, aku juga tidak pernah susah payah mencarinya, sejak aku mendengar Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian.’”

(Imam Abdurrahman al-Azdi, Thabqatu as-Shufiyah wa Yalihi Dzikru an-Niswah al-Muta’abbidat as-Shufiyat, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], halaman 389).

Wafat Membawa Cinta

Sebagai wanita ahli ibadah yang sangat taat, tentu tingkat dan kadar kecintaannya kepada Allah sangat tinggi. Ia benar-benar menaruh cinta sejatinya kepada Dzat yang telah mencitakannya, tidak ada sedikit pun yang ia berikan kepada makhluk.

Masih dikutip dari kitab yang sama, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa wafatnya Maryam al-Bashriyah disebabkan adanya pembahasan mahabbah kepada Allah,

قِيْلَ إِنَّهَا حَضَرَتْ فِي مَجَالِسِ بَعْضِ الْوَاعِظِيْنَ فَتَكَلَّمَ فِي الْمَحَبَّةِ فَانْشَقَّتْ مِرَارَتُهَا فَمَاتَتْ فِي الْمَجْلِسِ

Artinya, “Dikatakan, sungguh ia (Maryam al-Bashriyah) mendatangi majelis-majelis sebagian penceramah, kemudian dia (penceramah) tersebut membahas perihal mahabbah (cinta Allah pada hamba-Nya), maka di saat itu pula hilang kegetirannya dan mati di majlis tersebut.” (Imam al-Azdi, Thabqatu as-Shufiyah, h. 389).

Demikian jika cinta seseorang sudah tidak main-main. Ia tidak akan tenang jika mendengar akan cinta kekasihnya, bahkan nyawa menjadi taruhannya, Maryam al-Bashriyah buktinya. Ketika ia mendengar cinta Allah sebagai Khaliq (pencipta) pada hamba-Nya, saat itulah ia akan lupa dunia dan wafat di saat itu juga.

(Baca juga: Rabiah Al-Adawiyah; Sufi Perempuan Pelopor Mazhab Cinta)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.