Serbaserbi

Menjadi Manusia Shaleh Secara Jasmaniah dan Batiniah Secara Paripurna | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Berikut penjelasan terkait menjadi manusia shaleh secara jasmaniah dan batiniah secara paripurna. Simak keterangan berikut.

Kita semua tentu tahu, yang namanya orang berpuasa jelas tidak makan dan minum sepanjang hari. Tidak melakukan sesuatu yang berhubungan suami istri. Apakah orang yang menghindari dari semua itu sudah cukup untuk dikatakan sebagai orang yang berpuasa?

Sejak diputuskannya penetapan awal Ramadhan oleh kementerian Agama pada Minggu (3/4), umat muslim di Indonesia–meskipun sudah ada yang mulia berpuasa pada hari Sabtu (2/4)–khususnya, serentak melaksanakan ibadah puasa.

Suasana di jalan yang biasanya ramai oleh motor dan mobil dengan dalih malam mingguan (malming) seketika itu suasana menjadi lebih sepi. Baik anak muda maupun orang tua semuanya memadati masjid untuk melaksanakan ibadah tarawih secara berjemaah.

Penulis perhatikan, dari sebelum maghrib dikumandangkan, jalanan di Jakarta Timur mulai agak macet karena penuh dengan kendaraan yang beriringan hendak menuju pulang.

Entah, apakah karena takut ketinggalan momen berharga untuk malam pertama bulan Ramadhan? Penulis rasa begitu. Penulis bersama teman-teman yang datang dari Trans Studio Mall Cibubur Jakarta Timur juga keburu ingin segera sampai rumah untuk tidak ketinggalan momen spesial itu. 

Suasana jalan raya macet. Para pengendara kelihatan terburu-buru ingin segera sampai rumah, kelihatan dari raut wajahnya. Saat itu penulis dan teman-teman menggunakan mobil TNI, sehingga sedikit lebih bisa menghindari kemacetan.

Para penumpang memberikan jalan secara sukarela ketika mobil TNI membunyikan klakson khasnya. Baru sampai dukuh pontren/pesantren pas saat azan Isya dikumandangkan.

Dari kejauhan penulis perhatikan, masjid terlihat lebih ramai, berbeda dengan hari sebelum datangnya puasa. Di Tegal Waru kecamatan Ciampea saja, misalnya, biasanya tidak seramai sebagaimana pada saat malam Ramadhan. Itu artinya, spiritualitas dan penghormatan mereka terhadap bulan suci Ramadhan begitu kentara.

Antara Puasa Syariat dan Hakikat

Yang kita tahu, bahwa puasa adalah menahan lapar dan dahaga dengan tidak makan dan minum sepanjang hari, tidak melakukan hubungan suami istri. Begitulah definisi puasa yang penulis kenal dari sejak sekolah Dasar (SD) dulu. Karena redaksi dalam kitab-kitab fiqh berbunyi

صوم الشريعة ان يمسك عن المأكولات والمشروبات وعن الواقع في النهار

Artinya: “Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan pada siang hari“.

Definisi tersebut menjelaskan bahwa puasa menjadi sah apabila mampu menahan diri dari perbuatan yang dapat mengarah ke situ.

Terhadap persoalan seperti membunuh, membuang sampah sembarangan, mencaci, dengki, sombong, suka menyakiti orang lain baik melalui perkataan ataupun perbuatan, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya, masih saja asyik dilakukan. Mereka menganggap bahwa hal itu tidak ada kaitannya dengan pembatalan puasa.

Inilah pentingnya menguasai dua komponen ilmu, yaitu ilmu syariat dan ilmu tarekat. Ilmu syariat melihat puasa dari sisi lahirnya, sementara puasa tarekat dari sisi zahirnya. Banyak orang yang berpuasa, namun mereka masih saja suka iri, hasut, dengki, provokasi dan lain sebagainya, yang pada dasarnya itu juga dapat membatalkan puasa tarekat.

Perlu diketahui, bahwa antara puasa tarekat dan syariat tidak boleh dilepas dan dipisahkan, karena keduanya memiliki hubungan simbiosis-mutualistik yang tidak bisa dilepaskan dan saling berkaitan erat satu sama lain. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat apa-apa selain hanya lapar dan dahaga

Dan ada lagi ungkapan:

Banyak orang berpuasa tetapi batal puasanya. Banyak orang tidak puasa, tetapi hakikatnya berpuasa”. 

Dalam kitab “Sirrus Asrar” (2018: 217), Syekh Abdul Qodir Jailani menjelaskan, penyebab batalnya puasa seseorang itu karena ia tidak bisa menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang dan menyakiti orang lain dengan anggota tubuhnya.

Jadi, inti dari hakikat puasa adalah menjaga hati dari mencintai selain Allah SWT. dan menjaga rahasia (sirri) agar tidak mencintai penyaksian kepada selain Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam hadist Qudsi:

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya“.

Penutup

Berpuasa bukan hanya sekadar menahan rasa lapar dan haus, menghiasi bulan Ramadhan dengan shalat berjemaah tarawih hanya untuk adu keramaian antara masjid satu dengan yang lainnya, tetapi puasa adalah pendidikan pesantren periodik di mana kita selaku umat Islam dituntut untuk ‘belajar dan melatih diri menuju manusia yang sehat jasmaniah dan batiniah secara sempurna’.

Dalam arti bahwa, manusia punya tanggung jawab secara sosial (hablum minannas) dan spiritual (hablum minallah). 

Alhasil, kita semua ini adalah hamba Allah SWT yang harus taat dan tunduk kepada-Nya. Dengan berpuasa sejatinya adalah untuk mendapatkan sirri-Nya dan pengampunan-Nya, bukan untuk tujuan yang lain. Bagaimana manusia akan dikatakan hamba Allah yang taat jika di dalam hatinya masih tersembunyi sifat-sifat tercela?

Demikian penjelasan menjadi manusia shaleh secara jasmaniah dan batiniah secara paripurna. Yang juga tujuan utama dari puasa. Semoga kita menjadi manusia shaleh, dan juga manusia bermaanfaat. (Baca: Kesalahan Memahami Ayat “Rasulullah Bersikap Keras Pada Non-Muslim” Oleh Kelompok Radikal)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.