Keagamaan

Afirah al-Abidah; Wanita Ahli Ibadah yang Memilih Buta Mata Dibanding Buta Hati | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Berikut ini adalah biografi singkat dari salah satu wanita ahli ibadah taat, yang selama hidupnya hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah semata. Ia tidak pernah sibuk akan dunia dan semua yang berkaitan dengannya, yaitu Afirah al-Abidah.

Afirah merupakan salah satu wanita dari sekian banyak wanita ahli ibadah yang sudah merasakan manisnya ibadah kepada Allah. Ketika sudah beribadah, ia akan melupakan semua urusan dunia dan hanya tenggelam dengan kenyamanan bermunajat kepada Tuhannya.

Sedangkan al-Abidah merupakan gelar atau julukan yang disematkan kepada namanya sebagai wanita ahli ibadah yang sangat taat. Arti dari al-Abidah sendiri adalah wanita yang beribadah. Gelar ini sangat tepat jika disandangkan kepadanya. Sebab, selain ahli ibadah yang sangat taat, ia juga sosok pemberi semangat dan pengayom yang hebat agar orang lain juga beribadah.

Afirah al-Abidah juga dikenal sebagai sosok pendiam, dan lebih sering menyendiri. Ia tidak senang akan keramaian di dunia sementara hatinya kosong dari mengingat Allah, dan ia lebih senang menyendiri dan menjauh dari keramaian, sementara hatinya riuh dengan bacaan dzikir, tasbih, tahmid, dan bacaan-bacaan lain untuk memuliakan Allah.

Dalam setiap malam, ia lebih memilih tidak tidur hanya untuk beribadah kepada Allah, sesekali mencoba untuk mengistirahatkan badannya guna aktifitas esok harinya, namun rasa cinta pada Allah selalu menghalanginya hingga ia memutuskan untuk tidak tidur.

Tidak ada catatan khusus yang penulis temukan perihal tahun dan tanggal kelahiran wanita ahli ibadah yang satu ini. Para ulama sejarah tidak menulisnya, namun yang pasti, Afirah al-Abdinah memiliki kebangsaan dari kota Bashrah. Di sana ia tumbuh sebagai sosok yang kelak akan membawa harum nama kotanya dan mampu memberikan warna dan citra baru bagi wanita saat itu.

 Mutiara Hikmah Afirah al-Abidah

Selain dikenal sebagai wanita ahli ibadah yang sangat taat dan sangat pendiam, ia juga dikenal sebagai bijak bestari. Nasihat-nasihatnya mampu memberikan semangat baru bagi orang-orang yang lalai untuk tumbuh semangat, bahkan bisa memberikan kesadaran untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah.

Syekh Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi (wafat 597 H), dalam kitabnya mengkodifikasikan beberapa nasihat-nasihat berharga yang pernah disampaikan oleh Afirah al-Abidah.

Nasihat pertama, suatu ketik Syekh Ruh bin Salamah al-Waraq berkata kepada Afirah dengan bentuk pertanyaan, “Telah sampai sampai kepadaku suatu informasi, bahwa engkau tidak pernah tidur malam, benarkah demikian?”

Mendengar pertanyaan itu, Afirah tidak langsung menjawabnya. Ia kemudian menangis sejadi-jadinya, kemudian berkata:

رُبَّمَا اشْتَهَيْتُ أَنْ اَنَامَ فَلَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ وَكَيْفَ يَنَامُ أَوْ كَيْفَ يَقْدِرُ عَلَى النَّوْمِ مَنْ لَا يَنَامُ عَنْهُ حَافِظَاهُ لَيْلًا وَلَا نَهَارًا

Artinya, “Terkadang aku ingin tidur, namun aku tidak mampu. Dan, bagaimana mungkin bisa tidur, atau bagaimana mungkin mampu untuk tidur, sementara Dzat yang tidak pernah tidur (Allah) selalu menjaganya, Dia tidak tidur pada malam hari, dan tidak tidur pula di siang hari.”

Blas! Seperti disambar petir dahsyat dan tamparan yang sangat keras, ketika mendengar jawaban yang sangat menggetarkan hati itu, Syekh Ruh langsung menangis sejadi-jadinya, merasa bahwa dirinya sangat jauh dari Allah karena masih sangat senang dan merasa nyaman untuk tidur.

Nasihat kedua, sosok Afirah al-Abidah merupakan ahli ibadah yang sangat takut pada Allah, dalam setiap ibadahnya ia selalu menangis. Tempat sujudnya persis seperti tempat genangan air, selalu basah dengan air mata yang menetes ketika beribadah.

Bahkan, di usianya yang tidak lagi muda, ia buta karena tak henti-hentinya menangis hingga mempengaruhi kesehatan matanya.

Di saat yang bersamaan, suatu saat Yahya bin Bashtham masuk ke dalam rumahnya bersama teman-temannya untuk meminta nasihat kepada Afirah. Namun, sebelum ia meminta nasihat, ia berkata kepadanya, “Engkau telah beribadah dan menangis kepada Allah hingga matamu buta.”

Selain Yahya bin Bastham, ada beberapa temannya yang berkata, “Betapa sedih dan menderita, orang yang sebelumnya pernah bisa melihat, namun akhirnya menjadi buta.”

Mendengar bisik-bisik yang disampaikan oleh Yahya bin Bastham dan para sahabatnya, dengan rasa senang ia menjawab,

يَا عَبْدَ اللهِ عَمَى الْقَلْبِ وَاللهِ عَنِ اللهِ أَشَدُّ مِنْ عَمَى الْعَيْنِ عَنِ الدُّنْيَا وَاللهِ وَدَدْتُ أَنَّ اللهَ وَهَبَ لِي كُنْهَ مَحَبَّتِهِ وَأَنَّهُ لَمْ تَبْقَ مِنِّي جَارِحَةٌ إِلَّا أَخَذَهَا

Artinya, “Wahabi Hamba Allah! Demi Allah, sungguh buta (tertutupnya) hati dari Allah lebih berbahaya dari buta mata terhadap dunia. Demi Allah, aku senang (ridha) ketika Allah memberikan hakikat cinta-Nya kepadaku, sekali pun tidak tersisa dariku satu anggota pun kecuali Dia (Allah) mengambilnya.” (Ibnu al-Jauzi, Shifatu as-Shafwah, [Mesir, Darul Hadits: 2000], juz IV, halaman 33).

Dalam kitab Muktashar as-Shafwah diceritakan, di saat Afirah al-Abidah selalu menangis, baik di siang ataupun malam, banyak orang-orang yang menegurnya. Mereka khawatir akan kesehatan nya. Bahkan, suatu saat ada yang berkata kepadanya, “Wahai Afirah! Apakah engkau tidak bosan selalu menangis setiap hari dan malam? Bagaimana dengan kesehatanmu nantinya?”

Mendengar perkataan itu, ia kemudian semakin menangis lebih parah dari sebelumnya, kemudian berkata kepadanya,

يَا بُنَيَّ كَيْفَ يَسْأَمُ ذُوْ دَاءٍ مِنْ شَيْءٍ يَرْجُوْ أَنَّ لَهُ فِيْهِ مِنْ دَائِهِ شِفَاءٌ؟

Artinya, “Wahai anakku, bagaimana mungkin orang yang memiliki penyakit merasa hawatir (enyakitanya semakin parah), sementara ia memiliki harapan bahwa Dia (yang memberi penyakit, Allah) dalam setiap penyakitanya terdapat obat?” (Mukhtasharu Shifatu as-Shafwah, [Mesir, Darul Hadits: 2000], juz I, halaman 376).

Demikian beberapa nasihat Afirah al-Abidah yang perlu dijadikan renungan saat ini. Pasalnya, banyak orang-orang yang hidup di dunia dengan perasaan tenang tanpa ada sedikit pun perasaan diawasi dan dijaga oleh Allah.

Banyak pula, orang-orang yang memilih hidup dengan sempurna secara nyata, namun batinnya rusak karena tidak adanya jalinan keimanan dan interaksi dengan Yang Maha Kuasa. 

(Baca juga: Mengenal Nyai Makkiyah As’ad: Ulama Perempuan Pengasuh Tiga Pondok Pesantren di Jawa Timur)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.