Keagamaan

Dalil Membaca Surah Al-A’la dalam Shalat Witir | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com – Mungkin sebagian muslim pernah gundah ketika mendengar imam selalu membaca surah Al-A’la dalam shalat witir. Gundah lalu terlintas dalam hati, “kok yang dibaca surah itu terus sih, memang tidak ada surat yang lain”, atau berkata “apakah ini ada dalilnya?” “jangan-jangan hanya kebiasaan imam-nya saja?”

Sebelum menjawab dalilnya apa, yang perlu menjadi landasan adalah sebenarnya membaca surah apapun itu baik. Kita juga harus landasi bahwa kegundahan tersebut boleh saja ditanyakan kepada sang Imam, dan jika itu berhubungan dengan waktu atau kesiapan tenaga makmum, yang harus digarisbawahi adalah makmum sangat boleh untuk tidak ikut berjamaah dengan Imam dalam shalat witir.

Jika berhubungan dengan kesunahan, menjadi kesunahan juga bagi siapapun yang melaksanakan witirnya sendirian. Apalagi jika berhubungan dengan kekuatan, dalam shalat jamaah saja Rasulullah Saw. pernah mengkritik Mu’ādh bin Jabal, karena memimpin shalat jamaah terlalu lama.

Rasulullah Saw. sampai mengeluarkan redaksi, a fattānun anta yā Mu’ādh (apakah kamu mau menjadi pembuat fitnah/kegegeran wahai Mu’adz!?).

Kembali ke membaca surah Al-A’la di shalat witir, al-Imām al-Nawawī dalam kitab al-Adhkār dan Ibn Qudāmah (mazhab Hanbali) dalam kitab al-Mughnī sama-sama punya redaksi sunnah (Ibn Qudāmah menggunakan redaksi yustahabbu yang berarti sebaiknya atau dianjurkan) untuk membaca surah al-Ala di shalat witir. Tepatnya, di rakaat pertamanya.

Berikut pernyataan al-Imām al-Nawawī,

السنة لمن أوتر بثلاث ركعات أن يقرأ في الأولى بعد الفاتحة (سَبّحِ اسم ربّك الأعلى) وفي الثانبة (قلْ يا أيها الكافرون) وفي الثالثة (قل هو الله أحد والمعوّذتين

“Sebuah kesunahan bagi yang melaksanakan shalat witir sejumlah tiga rakaat, setelah al-membaca surah al-Fātihah untuk membaca surah Al-A’la (Sabbihisma rabbika al-A’lā) di rakaat pertama, surah al-Kāfirūn di rakaat kedua, dan surah al-Ikhlash plus al-Mu’awwidhatain (al-Falaq dan al-Nās) di rakaat ketiga.”

Pernyataan sunnah dari al-Imām al-Nawawi tersebut dapat ditelusuri rujukannya dari riwayat-riwayat hadis. Dalam penelusuran penulis – boleh jadi ada yang menemukan riwayat lain – pernyataan kesunahan tersebut berasal dari dari hadis yang bersumber dari riwayat ‘Āisyah dan Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan Ibn Mājah,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في الركعة الأولى بسبح اسم ربك الأعلى وفي الثانية قل يا أيها الكافرون وفي الثالثة قل هو الله أحد والمعوذتين

 “bahwasanya Rasulullah Saw. itu membaca Sabbihisma rabbika al-A’lā di rakaat pertama, al-Kāfirūn di rakaat kedua dan al-Ikhlash serta al-Falaq dan al-Nās di rakaat ketiga.” (H.R. Ibn Mājah)

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوتر بسبح اسم ربك الأعلى وقل يا أيها الكافرون وقل هو الله أحد

“Rasulullah Saw. itu melakukan (shalat) witir dengan membaca al-A’la (di rakaat pertama), al-Kāfirūn (di rakaat kedua), dan al-Ikhlash (di rakaat ketiga).”

Demikian penjelasan terkait membaca surah Al-A’la dalam shalat witir ada landasannya. Semoga bermanfaat. (Baca: Doa Setelah Shalat Witir Ramadhan 1443 H).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.