Keagamaan

Kisah Hikmah Klasik (4): Imam Malik dan Percetakan Hadis Palsu di Irak – Alif.ID

Ashrur riwayah (era periwayatan) adalah era pemilihan hadis begitu ketat. Selain demi jaminan otentik hadis dan dekatnya dengan masa kodifikasi alquran di era Abu Bakar dan Utsman, juga belakangan karena adanya penetrasi hadis-hadis palsu ke tubuh Islam.

Sebenarnya hadis palsu tak perlu dinamakan hadis, sebab ia memang bukan hal yang bisa disebut hadis dari sisi manapun. Tapi ulama tetap menamakan riwayat itu dengan hadis, disebut hadis palsu, karena para pencipta hadis palsu, apalagi yang meriwayatkannya, mempercayai dan mempopulerkan kalau itu sebuah hadis.

Untuk mendapatkan satu hadis dengan jaminan keaslian yang murni, perawi harus menyeka keringat, menembus gelap dan batas demi bertemu sumbernya langsung. Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan tahunan. Dalam al-Adabul Mufrad pada Bab al-Mu’anaqah, seorang sahabat nan alim, Jabir bin Abdullah, untuk memastikan sebuah hadis harus menempuh perjalanan darat sebulan penuh ke Syam demi bertemu Abdullah bin Unais sang sumber hadis yang ia cari. Jabir bin Abdullah hanya contoh. Ada banyak sahabat dan ulama yang melakukan hal demikian demi memastikan keaslian sebuah hadis sebagaimana dihimpung oleh Imam al-Khathib al-Baghdadi dalam “ar-Rihlah Fi Thalabil Hadits”.

Tradisi rihlah keluar kota demi mencari hadis atau ilmu itu kemudian menjadi patron di antara ulama, sampai mereka mengatakan: “Man lam yarhal, la tsiqqata bi ilmhi/Siapa yang tak melakukan rihlah imiah, maka ilmunya tak dapat dipercaya,”. Begitu nukilah Syekh Abu Ghudah dalam “ash-Shafahatnomor kisah 56.

Jika itu yang terjadi di era sahabat, era setelahnya tentu lebih ketat. Abad ketiga, Amirul Mu’nunin Fil Hadits, Imam Bukhari, untuk mencari dan menyeleksi hadis-hadis yang sahih menurut prinsip kritik yang ia anut memerlukan waktu 16 belas tahun.

Seorang pelajar dari Irak menempuh perjalanan ke Madinah demi belajar pada Imamu Daril Hijrah Imam Malik. Di sana bermalam kurang lebih dua bulan penuh. Dua bulan itu, ia hanya mendapat beberapa hadis saja. Merasa tak sepadan dengan perjalanan dan waktunya, ia kemudian melakukan protes pada Imam Malik. “Kami di Irak, sejam saja bisa memdapat hadis lebih dari ini,” katanya dengan nada mengeluh dan membandingkan Madinah dan Irak.

Padahal untuk urusan hadis, kuantitas sahabat di Madinah jauh lebih banyak dari pada di Irak. Juga di Irak amat majemuk sehingga hadis yang tersebar di Irak kerap diwaspadai. Itulah kenapa Imam Abu Hanifah memilih mendahulukan kias daripada hadis ahad.

Merasa komparasi ini tak sebanding, Imam Malik menjawab “Ya Akhi, di Irak kalian punya Dar adh-Dharab (pabrik cetak uang milik negara). Dicetak malam, siang sudah tersebar,”

Era itu Dar adh-Dharab di ibu kota. Irak sana. “Sebelumnya Irak menggelontorkan banyak uang ke kita, sekarang tak hanya menyebar uang, mereka juga mengirim banyak hadis palsu,” sambungnya, sebagaimana dinukil dalam “Tartibul Madarik.

Sebagai ibu kota, Irak memang sangat heterogen. Pemikiran apapun subur di sana. Motif produksi hadis palsu bisa variatif. Diproduksi oleh orang-orang yang memusuhi Islam lalu dislundupkan ke khalayak, atau diproduksi mandiri untuk menguatkan mazhabnya atau melemahkan mazhab lawan, dan banyak motif lain. Itulah kenapa sanad begtu penting hingga Imam Ibnul Mubarak berkata “Sanad itu bagian dari agama. Jika tanpa sanad, orang bebas mengatakan apapun yang ia mahu,”

Imam Muslim dalam mukadimah ash-Shahihnya menyitir hadis dari Ibnu Sirin. Ia berkata “Dulu orang-orang tak bertanya soal sanad, namun ketika meletus fitnah, barulah mereka berkata: ‘Sebutkan sanad kalian’. Jika sumbernya dari ahlusunah maka diambil, jika dari ahli bid’ah maka tertolaklah.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.