Serbaserbi

Rasululullah SAW Sempat Bertemu 9 Kali Puasa Ramadhan

Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunah menjelaskan ayat tentang shaum Ramadhan turun pada hari Kamis tanggal 28 Syaban tahun ke-2 H. Itu maknanya, bertepatan dengan tanggal 23 Pebruari 624 M.

Menurut Adel Al-Rumaih dalam Hijri-Gregorian Converter pada saat itu 1 Ramadhan jatuh pada hari Ahad, 26 Februari 624. Sedangkan 1 Syawal tahun itu jatuh pada hari Senin, 26 Maret 624.

Ibn Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, Nabi Muhammad SAW wafat pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul awwal tahun kesebelas hijriah.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Nabi bertemu bulan Ramadhan dan menjalankan puasanya sejak Ramadhan tahun kedua hijriah hingga Ramadhan tahun kesepuluh.

Sedangkan Ramadhan tahun kesebelas tidak sempat dirasakan oleh Rasulullah SAW mengingat beliau wafat pada bulan Rabiul Awwal. Kurang lebih lima bulan sebelum tibanya Ramadhan tahun tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Nabi menjalankan puasa Ramadhan sebanyak 9 kali.

Fakta bahwa Nabi menjalankan puasa Ramadhan selama sembilan kali juga dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/251). Menurutnya, Rasulullah SAW sempat berpuasa Ramadhan selama 9 kali (9 tahun), mengingat kewajiban puasa turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijrah, sedangkan Nabi wafat pada bulan Rabiul Awwal tahun kesebelas Hijrah.

Lama Puasa

Menurut atsar Ibnu Mas’ud dan Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW semasa hidupnya lebih banyak berpuasa Ramadhan 29 hari dari pada 30 hari. Perinciannya, delapan kali puasa selama 29 hari dan satu kali berpuasa selama 30 hari. Dalam sistem kalender qomariyah, penentuan jumlah hari dalam setiap bulannya dapat berkisar 29 atau genap 30 hari.

Puasa Ramadhan pada zaman Rasulullah SAW ini menarik untuk dibuktikan dengan hisab astronomi. “Saya telah menghisab posisi hilal awal Ramadhan dan Syawal semasa Rasulullah SAW hidup dari 2 H – 10 H,” tutur Peneliti Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Thomas Djamaluddin dalam tulisannya berjudul “Analisis Astronomi: Ramadan pada Zaman Rasulullah” yang disiarkan di blognya.

Analisis astronomi tersebut, katanya, memang menunjukkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadhan panjangnya 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari.

Hasil hisab Djamaluddin ini berbeda dengan yang dipahami banyak orang selama ini yang menyebut 8 kali puasa selama 29 hari dan satu kali berpuasa selama 30 hari.

Dari analisis itu, menurutnya, juga diketahui bahwa pada zaman Nabi puasa dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu puasa mulai sekitar pukul 4 sampai sekitar 17:30 pada musim semi dan mulai sekitar pukul 4:30 sampai sekitar 16:40 pada musim dingin.

Puasa pertama berawal pada Ahad 26 Februari 624 dan Idul Fitri jatuh pada Senin 26 Maret 624. Berarti lama puasa 29 hari. Perang Badar yang terjadi saat itu pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624) jatuhnya pada hari Selasa. “Perhitungan ini berbeda dengan riwayat yang menyatakan bahwa perang Badar terjadi malam Jum’at,” jelasnya.

Salah satu Idul Fitri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya Idul Fitri yang jatuh pada hari Jum’at semasa Rasulullah SAW hidup. “Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadis yang membolehkan meninggalkan sholat Jumat bila pagi harinya telah mengikuti sholat hari raya,” tuturnya.

Dalam hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan dari Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari ini (Jumat) telah berkumpul dua hari raya, maka siapa yang mau, (sholat hari rayanya) telah mencukupi sholat Jumatnya, tetapi kami tetap akan melakukan sholat Jumat .”

Menurut Djamaluddin, puasa dan Idul Fitri di era Rasulullah diperkirakan sbb:

– Tahun 2 Hijriyah, awal ramadhan: Ahad, 26 Februari 624 M, Idul Fitri jatuh pada hari Senin, 26 Mar. 624. Jumlah hari puasa: 29 hari

– Tahun 3 Hijriyah, awal Ramadhan: Kamis, 14 Feb. 625, Idul Fitri: Jum’at, 15 Mar. 625. Jumlah hari puasa: 29 hari

– Tahun 4 Hijriyah, awal Ramadhan: Selasa, 4 Feb. 626, Idul Fitri: Rabu, 5 Mar. 626. Jumlah hari puasa: 29 hari

– Tahun 5 Hijriyah, awal Ramadhan: Ahad, 25 Jan. 627, Idul Fitri: Senin, 23 Feb. 627. Jumlah hari puasa: 29 hari

– Tahun 6 Hijriyah, awal Ramadhan: Kamis, 14 Jan. 628, Idul Fitri: Sabtu, 13 Feb. 628. Jumlah hari puasa: 30 hari

– Tahun 7 Hijriyah, awal Ramadhan: Senin, 2 Jan. 629, Idul Fitri: Rabu, 1 Feb. 629. Jumlah hari puasa: 30 hari.

– Tahun 8 Hijriyah, awal Ramadhan: Jum’at, 22 Des. 629, Idul Fitri: Ahad, 21 Jan. 630. Jumlah hari puasa: 30 hari.

– Tahun 9 Hijriyah, awal Ramadan: Rabu, 12 Des. 630, Idul Fitri: Kamis, 10 Jan. 631. Jumlah hari puasa: 29 hari.

– Tahun 10 Hijriyah, awal Ramadan: Ahad, 1 Des. 631, Idul Fitri: Senin, 30 Des. 631. Jumlah hari puasa: 29 hari.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.