Keagamaan

Mu’adah al-Adawiyah; Sufi Wanita Ahli Hadits dan Takut Mati | Bincang Syariah

Bincangsyariah.Com- Berikut ini adalah biografi dan sejarah salah satu wanita ahli ibadah yang sangat taat dan turut mewarnai perkembangan ajaran Islam, serta menjadi teladan bagi wanita-wanita setelahnya perihal spiritualitas dan intelektualitasnya, yaitu Mu’adah al-Adawiyah.

Dalam peradaban sejarah, jika suami memiliki peran besar untuk memberikan pengaruh pada istrinya, maka dalam tulisan ini tidak. Justru, sejarah mencatat bahwa Mu’adah al-Adawiyah menjadi sebuah representasi, bahwa wanita juga memiliki pengaruh besar di balik perubahan sang suami.

Wanita salehah yang satu ini mampu memberi pengaruh positif pada suaminya, hingga sang suami berubah menjadi laki-laki ahli ibadah yang sangat taat.

Selain itu, ia tidak hanya memiliki sejarah sebagai wanita ahli ibadah, lebih dari itu juga merupakan wanita jujur dan bisa dipercaya. Apa saja yang diamanahkan kepadanya pasti sesuai dengan rencana dan tidak pernah mengecewakan orang lain. Dia juga ahli ilmu dengan pemahaman yang sangat luas dan mendalam.

Nama Lengkap Mu’adah al-Adawiyah

Dalam catatan Imam Khairuddin az-Zarkili, nama lengkapnya adalah Mu’adah al-Adawiyah binti Abdullah. Ia dikenal dengan nama Ummu as-Suhba’, atau juga masyhur dengan sebutan Ummu Fadilah (ibu yang mulia). Semua itu disematkan kepada dirinya tidak lain kecuali karena ibadahnya yang sangat istiqamah dan penguasaan ilmu yang luas.

Mu’adah al-Adawiyah dilahirkan pada tahun 83 Hijriah, bertepatan dengan tahun 702 Masehi di kota Bashrah. Ia masih tergolong wanita yang menjumpai beberapa sahabat Nabi Muhammad, yang hidup di masa-masa kejayaan Islam abad pertama itu.

Menurut Imam az-Zarkili, wanita ahli ibadah asal Bashrah yang satu ini memiliki kepakaran pengetahuan yang serius dan luas, khususnya dalam diskursus ilmu hadits. Ia termasuk bagian wanita ahli hadits (al-a’alimah bil hadits) yang banyak meriwayatkan sabda Rasulullah, baik melalui jalur Sayyidina Ali, maupun Sayyidah Aisyah.

Dalam ilmu hadits, ia juga dikenal sebagai perawi wanita yang dapat dipercaya (tsiqaah), sehingga hadits-hadits yang diriwayatkan olehnya bernilai baik (hasan). (Imam az-Zarkili, al-A’lam li Asyhuri ar-Rijali wa an-Nisai min al-Arabi wa al-Musta’rabin wa al-Mustasyriqin, [Darul Ilmi: 2002], juz VII, halaman 259).

Kendati demikian, di usianya yang semakin tua, Mu’adah al-Adawiyah lebih senang dengan ajaran tasawuf, sehingga ia lebih memilih menyendiri dan menghindar dari keramaian. Sesekali memberi nasihat kepada masyarakat dan mendidik mereka, namun lebih sering menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Di saat yang bersamaan, ia juga menjadi penyebab perubahan suaminya, Silah bin Asyim. Setiap hari dan malam, sang istri selalu mengajaknya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Berkat ajakannya itu, sang suami lambat laun berubah menjadi laki-laki ahli ibadah yang sangat taat.

Ajarah dan Teladan Mu’adah al-Adawiyah

Sebagai wanita ahli ibadah yang sangat taat dan memiliki pengetahuan yang sangat luas, tentu banyak ajaran dan teladan yang bisa kita petik dari kisah-kisahnya yang sangat inspiratif, termasuk kata hikmah yang pernah diajarkan dan teladan ibadah yang pernah ia lakukan.

Syekh Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Abul Farah, atau yang lebih masyhur dengan sebutan Imam Ibnu al-Jauzi (wafat 597 H), dalam kitabnya mengisahkan bagaimana perjalanan spiritualitas Mu’adah al-Adawiyah.

Dalam kitab itu disebutkan, bahwa wanita yang satu ini tidak pernah tidur, baik di siang hari maupun malam hari. Hal itu ia lakukan karena khawatir menjadi harinya yang terakhir di dunia untuk beribadah kepada Allah, sehingga ia rela tidak tidur dan memilih beribadah kepada-Nya,

حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ كَانَتْ مُعَاذَةُ اَلْعَدَوِيَّةُ إِذَا جَاءَ النَّهَارُ قَالَتْ هَذَا يَوْمِيْ اَلَّذِي أَمُوْتُ فِيْهِ فَمَا تَنَامُ حَتَّى تَمْسِي

Artinya, “(Dari Muhammad bin Fudhail) ayahku telah bercerita kepadaku, perihal Mu’adah al-Adawiyah. Ketika siang hari telah datang, ia (Muadah) berkata: ‘Ini adalah hariku, di mana aku akan mati di dalamnya.’ Maka ia tidak tidur hingga menjelang sore.”

وَإِذَا جَاءَ الَّليْلُ قَالَتْ هَذِهِ لَيْلَتِي اَلَّتِي أَمُوْتُ فِيْهَا فَلَا تَنَامُ حَتَّى تُصْبِحَ

Artinya, “Jika malam telah datang, ia berkata: ‘Ini adalah malamku, di mana aku akan mati di dalamnya.’ Maka ia tidak tidur hingga menjelang pagi.”

وَإِذَا جَاءَ الْبَرَدُ لَبِسَتْ اَلثِّيَابَ الرَقَاقَ حَتَّى يَمْنَعَهَا الْبَرَدُ مِنَ النَّوْمِ

Artinya, “Dan jika musim dingin telad datang, ia memakai pakaian yang tipis, hingga cuaca dingin bisa mencegahnya dari tidur.” (Ibnu al-Jauzi, Shifatu as-Shafwah, [Mesir, Darul Hadits: 2000], juz IX, halaman 22).

Menurut penjelasan Sayyid Abdul Wahab asy-Sya’rani, semua itu dilakukan oleh Mu’adah al-Adawiyah karena ia takut mati dalam keadaan lalai akan kewajibannya. Bahkan, dalam kitabnya disebutkan, bahwa ia selalu berputar mengelilingi rumahnya hingga waktu Subuh, karena takut kematian mendatanginya, sementara dirinya dalam keadaan lupa kepada Allah dan keadaan tidur.

Selain itu, ia merupakan sosok yang sangat istiqamah dalam beribadah. Ia tidak hanya melakukan ibadah wajib saja, seperti shalat lima waktu, bahkan menambah beberapa ibadah anjuran, seperti shalat sunnah dengan sangat banyak. Imam asy-Sya’rani mengatakan,

كَانَتْ مُعَاذَةُ اَلْعَدَوِيَةُ تُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ سِتَّمِائَةِ رَكْعَةٍ وَتَقْرَأُ جُزْءَهَا مِنَ اللَّيْلِ تَقُوْمُ بِهِ

Artinya, “Mu’adah al-Adawiyah mengerjakan shalat dalam setiap hari dan malam sebanyak 600 rakaat. Dan membaca satu juz dalam setiap rakaatnya, dari setiap malam dan tidak tidur malam.”

Selain itu, ia juga sering menyinggung orang-orang yang senang dan merasa nyaman dengan tidur. Ia mengatakan,

عَجِبْتُ لِعَيْنٍ تَنَامُ وَقَدْ عَرَفَتْ طُوْلَ الرُّقَادِ فِي ظُلْمِ الْقُبُوْرِ

Artinya, “Aku heran akan mata yang bisa tertidur (dengan nyaman), sementara ia telah tahu panjangnya penginapan dalam gelapnya kubur.” (Imam asy-Sya’rani, at-Thabaqatu al-Kubra al-Musammati bi Lawaqihil Anwar fi Thabaqati al-Akhyar, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 2000], halaman 95).

Demikian biografi dan perjalanan singkat Mu’adah al-Adawiyah. Darinya kita bisa mengambil pelajaran yang sangat inspiratif, sekaligus menjadi sebuah tamparan keras bagi jiwa yang masih lalai akan kewajiban dan masih merasa nyaman dengan tidur di waktu malam.

Ia memilih tidak tidur di malam hari, karena takut mati dalam keadaan tidur, yang tentunya dalam keadaan lupa akan Tuhannya, sementara manusia saat ini bisa tenang dan nyaman melakukan semua itu, tanpa ada rasa takut sedikitpun akan kematian yang pasti datangnya.

Semoga tulisan singkat di atas, bisa menjadi pengingat dan penyemangat untuk meningkatkan ibadah kepada Allah. (Baca:Lima Ulama Perempuan yang Melajang Hingga Akhir Hayat )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.