Serbaserbi

Kisah Miqdad bin Amr: Kapok Mendapat Jabatan Politik dan Menganggap sebagai Fitnah

Miqdad bin Amr adalah sahabat Rasulullah SAW . Ia bukanlah orang yang haus kekuasaan, sehingga menolak ditunjuk sebagai gubernur. Ia menganggap jabatan politik sebagai fitnah.

Suatu ketika Miqdad diangkat oleh Rasulullah sebagai amir atau gubernur di suatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu menjadi amir?”

Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya: “Engkau telah menjadikan daku menganggap diri di atas semua manusia sedang mereka semua di bawahku. Demi yang telah mengutus Engkau membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya.”

Seorang laki-laki yang tak hendak tertipu oleh dirinya, tak hendak terpedaya oleh kelemahannya.

Dipegangnya jabatan sebagai amir, hingga dirinya diliputi oleh kemegahan dan puji-pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi amir lagi setelah pengalaman pahit itu.

Miqdad menepati janji akan sumpahnya itu. Semenjak itu ia tak pernah mau menerima jabatan amir.

Miqdad selalu mendendangkan Hadis yang didengarnya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, yakni, “Orang yang berbahagia, ialah orang yang dijauhkan dari fitnah!”

Oleh karena jabatan sebagai amir (pemimpin) itu dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan fitnah bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya, ialah menjauhinya.

Anak Angkat

Ketika membicarakan Miqdad, para sahabat dan teman sejawatnya berkata: “Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang sabil ialah Miqdad ibnul Aswad”.

Pada awalnya Miqdad dikenal sebagai ibnul Aswad. Ini ada ceritanya. Miqdad berasal dari suku Arab, Bahra bagian dari Banu Qudha’ah atau berasal dari Hadramaut Yaman. Dia melarikan diri dari sukunya setelah melukai seseorang dan mengungsi di Mekkah.

Di tempat kelahiran Rasulullah itu Miqdad menjadi milik seorang pria bernama al-Aswad Al Kindi. Aswad Alkindi tidak punya anak, jadi suatu hari ia berdiri di antara semua suku Quraisy dan berkata, “Saya menyatakan bahwa mulai hari ini Miqdad sebagai anak saya, dan namanya sekarang Miqdad bin Alaswad Alkindi setelah aku mati ia akan mewarisi aku”.

Sejak saat itu orang-orang mulai memanggilnya Miqdad bin Aswad al-Kindi, bukan Miqdad bin Amr. Ini adalah cara orang Arab menunjukkan cinta mereka terhadap seseorang.

Miqdad menjadi muslim ketika usianya 24 tahun. Dia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW secara diam-diam. Ketika Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berhijarah ke Madinah, Miqdad pun ikut hijrah.

Setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak angkat dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka naman Miqdad kembali dihubungkan dengan nama ayahnya yaitu Amr bin Sa’ad.

دْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS Al-Ahzab : 5)

Miqdad termasuk dalam rombongan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terbuka dengan terus terang, dan menanggungkan penderitaan dari amarah murka dan kekejaman Quraisy yang dihadapinya dengan kejantanan para ksatria dan keperwiraan kaum Hawari!

Perjuangannya di medan Perang Badar menjadi tugu peringatan yang selalu semarak takkan pudar. Perjuangan yang mengantarkannya kepada suatu kedudukan puncak, yang dicita dan diangan-angankan oleh seseorang untuk menjadi miliknya

Berkatalah Abdullah bin Mas’ud yakni seorang sahabat Rasulullah: “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini…”

Hati-Hati

Di antara madhhar atau manifestasi filsafatnya ialah tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan putusan atas seseorang. Dan ini juga dipelajarinya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam yang telah menyampaikan kepada ummatnya: “bahwa hati manusia lebih cepat berputarnya daripada isi periuk di kala menggelegak “

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak beroleh atau mengalami hal yang baru lagi. Perubahan atau hal baru apakah lagi setelah maut?

Pada suatu ketika ia keluar bersama rombongan tentara yang sewaktu-waktu dapat dikepung oleh musuh. Komandan mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun mengembalakan hewan tunggangannya.

Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan tersebut hingga melanggarnya dan sebagai akibatnya ia menerima hukuman yang rupanya lebih besar daripada yang seharusnya, atau mungkin tidak usah sama sekali.

Miqdad lewat di depan prajurit yang menerima hukuman itu. Prajurit itu sedang menangis berteriak-teriak. Ketika ditanya, ia mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad meraih tangan orang itu, dibawanya ke hadapan amir atau komandan, lalu dibicarakan dengannya keadaan bawahannya itu hingga akhirnya tersingkaplah kesalahan dan kekeliruan amir itu. Maka kata Miqdad kepadanya: “Sekarang suruhlah ia membalas keterlanjuran Anda dan berilah ia kesempatan untuk melakukan qishas!”

Sang amir tunduk dan bersedia, hanya si terhukum berlapang dada dan memberinya ma’af. Penciuman Miqdad yang tajam mengenai pentingnya suasana, dan keagungan Agama yang telah memberikan kepada mereka kebesaran ini hingga seakan-akan berdendang: “biar saya mati asalkan Islam tetap jaya..!”

Memang, itulah yang menjadi cita-citanya, yaitu kejayaan Islam walau harus dibalas dengan nyawa sekalipun. Dan dengan keteguhan hati yang mena’jubkan ia berjuang bersama kawan-kawannya untuk mewujudkan cita-cita tersebut, hingga selayaknyalah ia beroleh kehormatan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menerima ucapan berikut: “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa ia mencintaimu”.

Pandangan Miqdad

Salah seorang sahabat dan teman sejawatnya bercerita:

“Pada suatu hari kami pergi duduk-luduk ke dekat Miqdad. Tiba-tiba lewatlah seorang laki-laki, dan katanya kepada Miqdad: Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam. Demi Allah, Andainya kami dapat melihat apa yang Anda lihat, dan menyaksikan apa yang Anda saksikan!”

Miqdad pergi menghampirinya katanya: “Apa yang mendorong kalian untuk ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya?

Demi Allah, bukankah di masa Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka jahanam.

Kenapa kalian tidak mengucapkan pujian kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian !”

Tidak seorangpun yang beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya yang Anda temui, kecuali ia menginginkan dapat hidup di masa Rasulullah dan beroleh kesempatan untuk melihatnya. Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dan dalam, dapat menembus barang ghaib yang tidak terjangkau di balik cita-cita dan keinginan itu.

Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah seorang penduduk neraka? Bukankah tidak mustahil ia akan jatuh kafir bersama orang-orang kafir lainnya?

Maka tidakkah ia lebih baik memuji Allah yang telah menghidupkannya di masa-masa telah tercapainya kemantapan bagi Islam, hingga ia dapat menganutnya secara mudah dan bersih?

Demikianlah pandangan Miqdad, memancarkan hikmah dan filsafat dan seperti demikian pula pada setiap tindakan, pengalaman dan ucapannya. Ia adalah seorang filosof dan pemikir ulung.

Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Dan cinta, bila ia tumbuh dan membesar serta didampingi oleh hikmat maka akan menjadikan pemiliknya manusia tinggi, yang tidak merasa puas hanya, dengan kecintaan belaka, tapi dengan menunaikan kewajiban dan memikul tanggung jawabnya. Dan Miqdad bin Amr dari tipe manusia seperti ini.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.