Keagamaan

Viral Ade Armando Dianiaya Massa; Islam Mengutuk Kekerasan Atas Nama Apapun | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Aksi kekerasan kembali terjadi. Kali ini, kebiadaban tersebut berlangsung di depan di kawasan Gedung DPR RI, Senin (11/4) kepada Ade Armando.

Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) itu dipukul dan dihajar oleh beberapa kelompok hingga babak belur. Bahkan, yang sangat ironis Ade Armando sempat ditelanjangi massa.

Sebagaimana aksi kekerasan serupa yang pernah sebelumnya terjadi, kekerasan tersebut disinyalir didasari oleh polarisasi dan perpecahan akibat pandangan politik, yang dibumbui narasi atas nama agama.

Dalam hal kasus kekerasan yang dialami Ade Armando ini, penting untuk mengingat kembali perihal kedamaian dan kelembutan yang keduanya merupakan visi dan misi dari semua elemen, termasuk dalam ajaran Islam. Dan tentunya, kekerasan dengan bentuk apapun menjadi kontraproduktif dengan alasan apa saja. Bahkan, Islam sangat mengutuk keras semua tindak kekerasan atas nama apapun.

Tindak kekerasan merupakan perbuatan yang sangat keji, dan Islam sangat melarangnya. Bahkan, dalam Al-Qur’an dengan sangat tegas bunyi larangan tersebut. Allah berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ 

Artinya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A’raf: 33).

Sekilas dari ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa kekerasan merupakan tindakan yang sangat dilarang dalam Islam. Bahkan, untuk menegaskan larangan tersebut, Allah melarang secara langsung melalui firman-Nya, tanpa melalui Rasulullah ataupun sahabat dan para ulama.

Untuk lebih jelas dan lebih luas, perihal makna dari ayat di atas, penulis akan mengutip beberapa pendapat para ulama ahli tafsir dalam memaknai ayat di atas. Hal ini penting untuk diketahui bersama, bahwa dalam Islam tidak ada catatan kekerasan sedikit pun.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Syamsuddin al-Qurthubi (wafat 671 H), yang merupakan salah satu ulama pakar tafsir pada abad keenam dan diakui oleh para ulama perihal penguasaan intelektualnya, khususnya dalam ilmu tafsir, mengatakan bahwa ayat ini mencakup semua tindakan kejelasan yang sangat berlebihan,

ﻭاﻟﻔﻮاﺣﺶ: اﻷﻋﻤﺎﻝ اﻟﻤﻔﺮﻃﺔ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﺢ 

Artinya, “(Yang dimaksud) perbuatan keji (pada ayat di atas), adalah semu pekerjaan buruk yang berlebihan.” (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Jami’u li Ahkami Al-Qur’an, [Beirut, Darul Fikr: 1998], juz VII, halaman 200).

Jika tafsir dari Imam al-Qurthubi, kita anggap sebagai representasi dari ulama salaf, maka saat ini penulis akan menampilkan tafsir versi ulama kontemporer, yaitu Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili.

Dalam kitabnya, beliau juga memiliki pandangan sebagaimana pandangan al-Qurthubi di atas, bahwa ayat 33 surah Al-A’raf itu memiliki arti larangan melakukan kekerasan. Dalam kitabnya disebutkan,

ﺣﺮﻡ اﻟﻠﻪ اﻟﻔﻮاﺣﺶ اﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﻭاﻟﺒﺎﻃﻨﺔ، ﻭﻫﻲ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻓﺤﺶ ﻭﻗﺒﺢ ﻣﻦ اﻷﻋﻤﺎﻝ اﻟﻤﻔﺮﻃﺔ ﻓﻲ اﻟﺸﻨﺎﻋﺔ

Artinya, “Allah mengharamkan tindakan keji, baik yang nyata atau tidak. Tindakan keji itu adalah setiap sesuatu yang dinilai jelek dan buruk, berupa pekerjaan yang berlebihan dalam bertindak.”

Lebih lanjut, Syekh Wahbah Zuhaili  memberikan beberapa contoh perihal penjelasannya di atas, bahwa ayat di atas mencakup semua maksiat dan dosa besar, seperti zina, riba, mencuri, membunuh, mengkhianati negara, berperilaku buruk, dan tindakan yang keras. (Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Wasith liz Zuhaili, [Damaskus, Beirut, Darul Fikr: 1422], juz 1, halaman 652).

Selain dua penafsiran memukau di atas, juga ada ulama satu zaman dengan al-Qurthubi yang mengartikan ayat di atas dengan segala bentuk kekerasan, yaitu Imam Abu Abdillah at-Taimi, atau yang lebih masyhur dengan sebutan Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat  606 H), dalam kitabnya mengatakan,

ﻭاﻟﻤﻌﻨﻰ: ﻻ ﺗﻘﺪﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﺇﻳﺬاء اﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻘﺘﻞ ﻭاﻟﻘﻬﺮ

Artinya, “Dan maksud (dari ayat di atas) adalah, janganlah kalian semua menyakiti manusia dengan membunuh atau melakukan kekerasan (kepada mereka). (Imam Fakhruddin ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 1988], juz XIV, halaman 233).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan dengan sangat jelas, bahwa kekerasan yang bentuknya menyakiti orang lain tidak memiliki ruang sedikit pun untuk diperbolehkan dalam ajaran Islam. Islam menutup rapat pintu kebolehan tersebut dan tidak memberikan peluang sama sekali.

Oleh karenanya, kejadian-kejadian tindakan kekerasan sudah saatnya untuk tidak diulang kembali, apalagi atas nama agama. Sebab, hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama yang suci.

Demikian penjelasan perihal kekerasan dalam ajaran Islam. Dengan mengetahuinya, semoga kekerasan di Indonesia tidak akan terulang kembali, dan dijadikan negara yang damai dan sentosa, rukun dan satu jua, sebagaimana yang telah menjadi jargon bersama, “Bhineka Tunggal Ika”.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.