Serbaserbi

Kisah Fakhitah, Dua Kali Menolak Lamaran Nabi Muhammad SAW

Sebelum menikah dengan Sayyidah Khadijah , Muhammad jatuh hati dengan Fakhitah . Sayang, cinta ini kandas di tengah jalan. Lamaran pria berjuluk Al-Amin ini ditolak dengan halus oleh Abu Thalib , ayahanda Fakhitah.

Cinta pertama memang selalu berkesan. Sayang pula, ketika ada kesempatan kedua, lamaran Rasulullah kembali ditolak.

“Wahai Rasulullah , saya mencintaimu melebihi mata dan telingaku. Akan tetapi, bukankah hak seorang suami itu besar? Saya khawatir jika saya menerima engkau sebagai suami, perhatian saya terhadap diri saya dan anak-anak akan terabaikan. Namun apabila saya lebih mementingkan anak-anak saya, saya khawatir tidak bisa memenuhi hak-hak Baginda Rasul sebagai suami,“ begitu jawaban diplomatis Fakhitah ketika menolak lamaran kedua Rasulullah.

Peristiwa penolakan kedua itu terjadi pada saat peristiwa Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). Suami Fakhitah, Hubaira, melarikan diri dan bertahan dengan kekafirannya. Di sisi lain, Fakhitah sudah menjadi muslimah. Itu sebabnya, maka hukum pernikahan mereka rusak dan bercerailah kedua pasangan ini. Fakhitah menjadi janda dengan 4 orang anak.

Lalu siapa sejatinya wanita yang membuat Rasulullah begitu mencintainya itu?

Ibnul Atsir dalam bukunya berjudul “Usudul Ghabah fi ma’rifat as-shahabah” menyebutkan nama lengkap dan nasabnya: Ummi Hani Fakhitah binti Abu Thalib bin Abdul Muttalib bin Hasyim.

Dia lahir 576 M dan meninggal 50 H. Dia merupakan seorang perempuan keturunan Bani Hasyim, putri paman Rasulullah SAW. Kakak dari Ali bin Abi Thalib RA Ia merupakan saudara perempuan dari Ja’far bin Abu Thalib, Ali bin Abu Thalib, dan Aqil bin Abu Thalib.

Menurut Ali Audah dalam bukunya, “Ali bin Abi Talib: Sampai kepada Hasan dan Husain”, salah seorang putri paman Rasulullah SAW itu akrab disapa Ummu Hani. Dia dipanggil demikian karena anak pertamanya bernama Hani.

Lamaran Muhammad pertama terjadi pada saat beliau belum menjadi rasul. “Abu Thalib sudah punya rencana lain untuk putrinya itu,” demikian ungkap Ali Audah.

Hubairah dari kabilah Bani Makhzum sudah lebih dahulu melamar Ummu Hani. Pria itu masih berkerabat dengan Abu Thalib dari garis ibu. Dia juga dikenal karena kekayaannya dan kepandaian bersyair.

Saat itu, Bani Makhzum berkembang cukup pesat, sedangkan Bani Hasyim, yakni kabilah Abu Thalib dan Muhammad SAW, cenderung berkurang peranannya.

Seperti diketahui, masyarakat Arab sangat memandang penting kabilah yang besar dengan jumlah anak laki-laki. Sebab, dari sanalah dapat diukur seberapa besar peranan suatu kabilah.

Abu Thalib beralasan kepada kemenakannya itu bahwa dahulu Bani Makhzum telah mengawinkan gadis-gadisnya kepada Bani Hasyim. “Orang yang telah bermurah hati harus dibalas dengan sikap serupa,” kata Abu Thalib.

Muhammad SAW pun mengartikan kata-kata sang paman sebagai sopan santun bahwa dirinya dinilai belum waktunya menikah. Bagaimanapun, beliau menerima keputusan pamannya itu.

Dari hasil pernikahannya dengan Hubairah bin Amr al-Makhzumi al-Quraisyi, Fakhitah memiliki empat orang anak, di antaranya Amr, Ja’dah, Hani, dan Yusuf.

Hubungan Rasulullah SAW dengan Abu Thalib masih sangat erat. Sejak kecil, Muhammad SAW yatim piatu. Ayah Abu Thalib, Abdul-Muttalib, kemudian mengasuh Muhammad SAW hingga wafatnya. Abdul-Muttalib sempat berwasiat kepada Abu Thalib agar merawat cucunya itu sepeninggalan dirinya.

Selanjutnya, Abu Thalib mengasuh Muhammad SAW, meskipun dalam keadaan miskin dan banyak anak. Kasih sayang dan perlindungan Abu Thalib tidak berkurang sedikit pun kepada Muhammad SAW, bahkan sampai risalah kenabian datang.

Karena Ummu Hani’ bukan jodoh yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuknya, Muhammad SAW pun akhirnya menemukan sosok perempuan yang menjadi cinta sejatinya, bahkan menjadi istri pertamanya dan mendampingi dakwah beliau.

Dia adalah Siti Khadijah, seorang wanita cantik yang terhormat, sekaligus kaya raya. Siti Khadijah adalah jodoh yang ditakdirkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, setelah ditakdirkan tidak berjodoh dengan Ummu Hani’.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Ishobah, setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah SAW, dan terjadi peristiwa Fathu Makkah, banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Suami Ummu Hani’ tidak mau ikut masuk Islam, tidak mau bersyahadat, bahkan Hubayroh melarikan diri keluar dari Makkah.

Hubairah bin Amr al-Makhzumi kabur ke Yaman tanpa memeluk Islam. Hingga meninggal, dia tidak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia juga melupakan begitu saja anak dan istrinya di Najran.

Penolakan Kedua

Sepeninggal sang suami, Ummu Hani merawat dan mendidik anak-anaknya seorang diri. Nah, karena itu Rasulullah berniat meminangnya sebagai istri agar anak-anaknya memiliki seorang ayah.

Pinangan Rasulullah SAW pun dimaksudkan untuk menghibur Ummu Hani. Karena, dari sisi usia Ummu Hani juga sudah mulai menua.

Namun, Ummu Hani menolak secara halus dengan menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini perempuan yang sudah tua dan memiliki banyak anak. Aku takut mereka menyakitimu.”

Ummu Hani menolak cinta Rasulullah untuk yang kedua kalinya karena ia lebih memilih anak-anaknya dari pada menelantarkan calon suaminya.

Rasulullah pun mengerti dan mengurungkan niatnya. Namun, Beliau SAW menyanjung Ummu Hani dengan sebutan, “Sebaik-baik perempuan yang menanggung unta adalah yang paling sayang kepada anak-anaknya yang masih kecil dan yang paling bisa menjaga harta suaminya.”

Makna dari “yang paling sayang terhadap anak-anaknya” adalah seorang ibu yang menyayangi anak-anak dan merawat mereka, mendidik, dan tidak lagi menikah sepeninggal suaminya.

Sementara, makna “Dan yang paling bisa menjaga harta suaminya” adalah seorang istri yang mampu menjaga, mengatur, dan menjaga amanat suami.

Hubungan Baik

Rasul sering mengunjungi Ummu Hani di rumahnya dan beristirahat di sana. Rasulullah juga sering menerima pendapat dan pertimbangan dari Ummu Hani, bahkan tak pernah satu kali pun menentang pendapatnya.

Saat peristiwa penaklukan Makkah, Ummu Hani didatangi dua orang yang meminta perlindungannya. Namun adiknya, Ali bin Abi Thalib, melihat dua orang itu dan bersumpah akan membunuhnya. Ummu Hani pun mengunci rumahnya dan beranjak menemui Rasulullah SAW.

Saat itu, Rasulullah sedang mandi dan putri Beliau SAW, Fatimah, menutupinya dengan kain. Ummu Hani menunggu Rasulullah hingga selesai mandi. Kemudian Ummu Hani berkata, “Wahai Rasulullah, Ali memusuhi seseorang yang telah kujamin keamanannya.” Maka Rasulullah bersabda, “Kami juga turut menjamin orang yang kau jamin, wahai Ummu Hani,” ujarnya.

Kisah lainnya menyebutkan saat saat Ummu Hani datang, Rasulullah baru saja hendak menunaikan salat dhuha. Ummu Hani pun menunggu sembari memperhatikan cara salat Rasulullah. Dari momen tersebut, Ummu Hani meriwayatkan sebuah hadis tentang cara salat Rasulullah di waktu dhuha. Hadis tersebut pun menjadi rujukan utama tentang fikih salat dhuha yang sangat berguna untuk panduan ibadah muslimin hingga akhir zaman.

Setelah Rasulullah selesai salat dhuha, Ummu Hani pun mengadukan masalahnya. “Wahai Rasulullah, saudaraku (Ali) ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’.

Rasulullah pun bersabda, “Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani.”

“Jika demikian, telah jelas masalahnya,” Ummu Hani pun merasa lega dan pulang ke rumahnya. Seorang kerabatnya yang kafir itu pun dapat hidup aman di negeri muslim di bawah perlindungannya dan atas jaminan Rasulullah sang pemimpin umat.

Pada hari penaklukan Makkah, Rasulullah menyempatkan diri untuk menemui Ummu Hani menanyakan persediaan makanan di rumahnya. Ummu Hanni menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali cuka, wahai Rasulullah.”

Kemudian, Rasul pun menjawab, “Dekatkan padaku makanan itu, betapa miskin sebuah rumah yang di dalamnya tidak terdapat lauk dan cuka.”

Saksi Isra’ Mi’raj

Dalam sejarah Islam yang agung, Ummu Hani menorehkan peran penting. Rumahnya menjadi saksi peristiwa Isra’ Mi’raj, di langit rumahnyalah mukjizat menakjubkan bermula.

Kala itu Rasulullah tengah menginap di rumah Ummu Hani. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam mengerjakan salat malam di sana. Malam itu pula, Jibril datang mengunjungi rumah Ummu Hani. Sang malaikat hendak menjemput Rasulullah untuk melakukan perjalanan menuju Jerusalem, lalu menuju Sidratul Muntaha.

Seusai perjalanan, yakni di kala fajar, Rasulullah pun kembali ke rumah Ummu Hani. Beliau kemudian mengabarkan peristiwa ajaib Isra Mi’raj kepada kerabatnya yang ada di sana. Ummu Hani pun menjadi salah satu yang mengimani tanpa syarat dan tanpa ragu.

Menjadi Perawi Hadis

Peran lain yang diambil Ummu Hani dalam sejarah Islam yakni dengan menjadi perawi hadis-hadis Rasulullah. Ia mengabarkan beberapa hadis sahih yang kemudian tercatat dalam kitab-kitab hadis seperti Shahih Al Bukhari, Sahih Muslim, dan Riyadush Shalihin.

Salah satu hadis yang sangat terkenal dari Ummu Hani yakni tentang salat dhuha sebagaimana dalam kisah di atas. Hadisnya datang dari jalur Abdurrahmaan bin Abi Laila. Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Nabi melakukan salat Dhuha kecuali Ummu Haani’. Sungguh Ummu Hani pernah mengatakan,

“Sesungguhnya ia pernah masuk ke rumah Rasulullah pada hari Fathu Mekah, lalu beliau mandi dan melakukan salat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat salat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. Al Bukhari).

Ummu Hani terus hidup hingga tahun 50 Hijriyah. Namun, ia menyimpan duka yang mendalam hingga akhir hayatnya. Duka yang diakibatkan peristiwa terbunuhnya adik yang ia cintai, Ali bin Abi Thalib.

Demikian sosok Ummu Hani binti Abu Thalib yang dikenang dalam sejarah. Baginya, menjadi kerabat Rasulullah sudah cukup memberikannya keutamaan yang agung.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.