Keagamaan

Kisah Hikmah Klasik (12): Syekh Fudhali Mengajari Para Sopir Angkot Keledai – Alif.ID

Yang harusnya menjadi kegelisahan seorang pelajar adalah ketika ia belum mempunyai satu tokoh yang sangat kuat pengaruhnya pada kerja intelektualnya. Dari semua ulama yang ada, meskipun mereka punya banyak guru, baik dirayah atau wirayah, tapi tetap saja ada satu dua tokoh atau beberapa yang sangat memberi pengaruh pada kerja intelektualnya.

Imam Abu Hanifah pada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad. Imam Hamad pada Imam Abu Hanifah. Imam Malik pada Imam Syafii. Imam Ghazali tak bisa lepas dari Imam Haramain. Arti Imam As-Subki dan Imam Dzahabi bagi Imam Tajuddin as-Subki, begitu juga Imam ar-Ramli bagi puteranya, Syekh Syamsuddin ar-Ramli. Syeikhul Islam Zakaria bagi tokoh mutaakhirin mazhab syafii. Syekh Hasan al-Athar bagi Syekh Rifa’ah ath-Thahthawi, Syekh Fudhali bagi Syekh Bajuri, Syekhona Kholil Bangkalan bagi Hadaratusysyekh Hasyim Asy’ari.

Tanpa pengajaran yang intens dan pengaruh metodologi yang kuat dari sosok tertentu, pelajar masih akan terombang ambil. Dalam tradisi ulama, mereka selalu punya guru takhrij yang diistilahkan oleh para sejarawan dengan syuyukh takhrij. Seorang ulama tak akan disebut “takharraja min yadi syekh fulan” kecuali ia benar-benar telah lahir dalam keilmuan. Guru seseorang bisa banyak, tapi syuyukh takhrij ini tak banyak.

Syekh Bajuri belajar pada Syekh Syarqawi, Syekh Hasan Quwaisni, Syekh Dawud al-Qal’awi, Syekh Muhammad al-Amir al-Kabir, Syekh al-Amir ash-Shaghir dan Syekh Muhammad al-Fudhali. Beliau belajar pada sejumlah ulama, tapi beberapa tokoh inilah syuyukh takhrij beliau. Dan, lebih khusus Syekh Fudhali. Radhiyallahu ‘anil jami’.

Dari Syekh Fudhalilah beliau belajar cara menyederhanakan masalah dalam menulis atau mengajar. Dengan pemilihan kalimat yang memudahkan juga disertai banyak fawaid di tengah-tengah, dan lain sebagainya. Sebagiamana disebut oleh Syekh Ali Jum’ah dalam pengantaranya pada syarah Syekh Bajuri pada Jauharatut Tauhid.

Jika kita membaca gaya penulisan Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani, kita akan mendapati Imam Bajuri dengan nama lain. Syekh Hisyam Kamil dalam satu kesempatan mengatakan bahwa gaya Syekh Nawawi Banten kurang lebih sama dengan Syekh Bajuri. Gaya penulisan yang mudah, kitab yang disyarah adalah kitab-kitab dirasi (pelajaran), juga, sebagaimana kita tahu, ada banyak fawaid atau bahkan cerita pendek di bab utama.

Kembali ke Syekh Fudhali. Jangkauan pengaruh penulis Kifayatul Awam itu sangat luas. Bahkan menjangkau mereka yang bukan pelajar sekalipun. Menjadi alimnya para sopir angkutan keledai di terminal dekat Al-Azhar adalah peristiwa yang luar biasa. Pasalnya Syekh Fudhali ini tinggal di luar kota Kairo. Yaitu di Giza. Untuk ke Al-Azhar atau balik ke rumah, beliau naik angkutan keledai yang ngetem di dekat Al-Azhar. Di perjalanan, baik berangkat atau pulang, beliau menjelaskan masail kalamiyah dengan mudah dan sederhana hingga mereka tak hanya paham, tapi juga alim dan fasih dalam ilmu kalam. Setiap hari ganti angkot, dan berjalan bertahun-tahun sampai-sampai Syekh Usamah Sayyid dalam Asanidul Mashriyyinnya mengutip komentar ulama “Syekh Fudhali tidaklah meninggal kecuali semua para hammar (sopir angkot keledai) itu fasih bicara ilmu kalam,”.

Tak akan bisa menyederhakan masalah kecuali orang yang betul-betul paham duduk masalah sebuah ilmu. Secara umum, untuk menguji pemahaman kita pada sebuah ilmu, coba bagi pemahaman kepada orang lain.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.