Keagamaan

Nizam binti Abi Syuja’; Wanita Hebat yang Diabadikan Ibnu Arabi dalam Kitab Diwan | Bincang Syariah

BincangSyariah.ComBerikut ini akan menjelaskan tentang sosok Nizam binti Abi Syuja’, seorang  wanita hebat yang diabadikan Ibnu Arabi dalam Kitab Diwan-nya. Simak kisah heroiknya.

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Ibnu Arabi? Salah satu ulama yang memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan ajaran Islam, khususnya dalam dunia tasawuf, ia memiliki peran sangat dinamis dan strategis.

Selain itu, Ibnu Arabi tercatat pernah belajar ilmu Al-Qur’an hingga qiroat sab’ah (bacaan Al-Qur’an versi tujuh imam) dari selusin guru terkemuka pada zamannya, sebut saja Abu Muhammad Abdullah Al-Bazari.

Tidak berakhir di situ saja, Ibnu Arabi juga seorang penyair ulung. Salah satu karya monumentalnya yakni Fushush Al-Hikam, berisi tentang kisah kebijaksanaan para nabi yang dipungkasi dengan hikmah kebijaksanaan paling puncak di alam semesta milik Nabi Muhammad.

Karya lain Ibnu Arabi yang tak kalah populernya adalah Diwan Tarjuman Al-Ashwaq. Kitab tersebut merupakan hasil tulisan sastranya yang sangat masyhur. Konon, kitab ini disebut-sebut sebagai kitab milik sufi kelahiran Spanyol yang paling susah dicerna dan dikaji, sebab keunikan pilihan kata dan kandungan metafora yang kaya di dalamnya.

Namun yang sangat unik di dalamnya, bahkan banyak yang tidak tahu tentang itu semua, bahwa dalam kitab tersebut, Ibnu Arabi mengabadikan seorang wanita agung yang pernah ia temui ketika berada di Tanah Haram Makkah.

Wanita agung yang mulia itu masyhur dengan nama Nizam, julukannya “Ain Syams” yang bermakna “Mata Sang Mentari”. Perempuan itu adalah putri dari seorang tokoh terkemuka Syekh Abi Syuja’ Zahir Al-Ashfahani. Imam Ibnu Arabi bertemu dengan Nizam pada kali pertama tahun 598 Hijriyah ketika beliau baru menginjakkan kaki di Makkah usai safar dari Maroko.

Di dalam kitabnya Tarjuman Al-Ashwaq, Ibnu Arabi menggambarkan karakter dan kecerdasan Nizam dengan begitu indah. Kata-kata yang digunakan beliau meliuk-liuk dan penuh kedalaman, seolah menyiratkan betapa besar kekagumannya terhadap wanita satu ini.

Tuqayyidun nadhar (ia mengikat pandangan orang-orang),” begitu tulis beliau dalam Diwan-nya. Tazinul mahadhir (ia menghias siapa saja yang hadir),” lanjutnya, “wa tuhayyirul manadhir (dan ia mampu mengacaukan pandangan).”

Selain memberi gambaran sosok Nizam dengan begitu indah dan penuh sastra, Ibnu Arabi juga memuji ketaatan dan keanggunan akal Nizam lewat kata-katanya berikut:

مِنَ الْعَابِدَاتِ الْعَالِمَاتِ السَّابِحَاتِ الزَّاهِدَاتِ شَيْخَةُ الْحَرَمَيْنِ، وَتَرْبِيَةُ الْبِلَدِ الْأَمِيْنِ الْاَعْظَمِ بِلَا مّيْنِ، سَاحِرَةِ الطَّرْفِ

Artinya, “(Nizam) merupakan perempuan yang rajin beribadah, wanita yang cerdas, ia tenggelam (dalam pemikiran-pemikirannya), wanita yang penuh kezuhudan (tidak cinta dunia), seorang guru di Haramain (Makkah dan Madinah). Ia mendidik negeri yang aman lagi agung (Makkah) tanpa kedustaan, ia mampu menyihir hingga ke tempat paling ujung.”

Selain ungkapan menarik di atas, Ibnu Arabi tidak alpa menulis kemampuan berbicara Nizam dengan pilihan kosa kata yang sungguh menggelitik. Beliau ingin memberi gambaran sempurna sosok Nizam tanpa mengurangi sifat alami wanitanya, juga tanpa melukai karakter kuatnya.

إِنْ أَسْهَبَتْ أَتْعَبَتْ، وَاِنْ أَوْجَزَتْ أَعْجَزَتْ، وَاِنْ أَفْصَحَتْ أَوْضَحَتْ

Artinya, “Bila ia berbicara panjang lebar, ia akan kelelahan. Namun, bila ia mengatakannya secara ringkas, ia tak mampu. Tatkala ia berbicara dengan kefasihan, ia akan memperjelasnya.”

Selain Nizam binti Abi Syuja’, Ibnu Arabi juga tidak ketinggalan dalam mengabadikan sosok ayah Nizam yang mulia dan agung. Ayah Nizam adalah seorang yang terkemuka di Makkah pada waktu itu. Bahkan, menjadikan Syekh Abi Syuja’ sebagai salah satu sebab beliau menulis Tarjuman Al-Ashwaq, dalam kitab itu disebutkan:

“Ketika aku berada di Makkah tahun 598 H, aku bertemu banyak tokoh-tokoh terkemuka, aku berkumpul bersama para pembesar, penyair dan orang-orang saleh dari kaum lelaki dan wanita. Tidak sedikit pun aku melihat mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, sebaliknya yang kutemui justru jiwa dedikasi yang menghiasi hari-hari mereka.

Salah satu contohnya adalah Syekh al-Amin Abi Syuja’ ad-Dzahir Ibnu Rastm Ibnu Abi ar-Raja al-Ashfahani (ayah Nizam).” (Muhyiddin Ibnu Arabi, Diwanu Turjumanil Aswaq, [Lebanon, Beirut, Darul Ma’rifah: 2005], halaman 25).

Sebagaimana keluarga terdidik lainnya, Nizam tumbuh dalam asuhan langsung ayahnya, tak heran bila ia banyak mewarisi kedalaman ilmu sang ayah.

Ibnu Arabi tahu persis wasiat sang Rasul bahwa salah satu alasan wanita dinikahi adalah karena nasab dan agamanya, maka poin inilah yang sekiranya sanggup membuat beliau tak ragu meminang Nizam. Dikisahkan pula usai menikah dengannya, Nizamlah yang banyak mempengaruhi kehidupan spiritual Ibnu Arabi.

Itulah Nizam binti Abi Syuja’, Mata Sang Mentari, putri dari Syekh dari Makkah, al-Amin. Perempuan anggun akal lagi taat dalam menjalankan perintah dan kewajiban, kecantikannya memancar lewat etika dan perilakunya, tuturnya santun nan indah. Siapa sangka, perempuan Makkah ini menjadi sumber inspirasi utama Ibnu Arabi dalam menulis Diwan-nya, Tarjuman Al Ashwaq.

(Baca juga: Lima Ulama Perempuan yang Melajang Hingga Akhir Hayat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.