Keagamaan

Pondok Pesantren Kauman Lasem dan Wujud Nyata Toleransi Umat Beragama – Alif.ID

Lasem adalah sebuah kota kecil yang berada di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota ini terkenal akan multikulturalismenya yang dapat tampak dari agama, etnis, bahkan dari segi bangunannya. Berdasarkan, keberagamannya itu, kota ini sampai mendapatkan julukan sebagai “Kota Tiongkok Kecil atau Tiongkok Heritage”.

Lasem seakan menjadi kota manifestasi  dari Bhinneka Tunggal Ika, karena masyarakat Lasem saling hidup berdampingan antar etnis, agama, dan budayanya. Walaupun begitu, masyarakat Lasem hingga saat ini hidup dengan rukun dan damai tanpa nyaris adanya konflik horizontal yang didasarkan pada keberagaman yang dimilikinya. Ikatan kerukunan tersebut sudah terjalin sejak abad ke-18 yang ditandai dengan peristiwa perang kuning yang menjadi tonggak persatuan antar etnis di Lasem khususnya etnis Tiongkok dan Islam.

Ikatan kerukunan yang terjalin antar masyarakatnya tumbuh masyhur seiring dengan berjalannya waktu. Hadirnya bangunan pondok pesantren ditengah permukiman etnis Tionghoa semakin memperkuat rasa toleransi dan kerukunan antar masyarakatnya. Salah satu pondok tersebut, adalah Pondok Pesantren Kauman Lasem. Pondok ini terletak di Desa Karangturi Kecamatan Lasem. Keberadaan Pondok Pesantren Kauman seakan menjadi perajut keberagaman di Lasem karena keunikan bangunannya yang bercorak Tionghoa.

Pondok Pesantren Kauman Lasem sendiri diasuh oleh KH. M Zaim Ahmad Ma’shoem atau biasa disapa dengan Gus Zaim. Bangunan yang digunakan untuk pondok tersebut awalnya adalah rumah asli milik orang Tionghoa bernama Go Ban San yang kemudian diturunkan ke anaknya. Lalu pada tahun 2001 Gus Zaim membeli rumah tersebut dan mendirikan pondok pesantren dua tahun berikutnya.

Berbeda dari kebanyakan pondok pesantren lain, pondok pesantren Kauman Lasem memiliki keunikan yang khas. Bangunan pondok pesantren yang berarsitektur Tiongkok menjadi ciri khas utamanya. Hal ini terlihat dari gapura pondok pesantren yang mempunyai hiasan kaligrafi Arab dan China. Ornamen-ornamen Tiongkok yang terdapat pada bangunan menjadi simbol toleransi para santri pada budaya Tionghoa dan sekaligus melestarikan sejarah karena sejatinya bangunan Pondok Pesantren Kauman Lasem termasuk bangunan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya.

Gus Zaim selaku pengasuh Pondok Pesantren Kauman selalu mengajarkan kepada santrinya untuk menghormati dan memuliakan tetangga, khususnya tetangga yang beretnis Tionghoa dan Jawa.  Toleransi yang ada di Pondok Pesantren Kauman tidak hanya dijunjung tinggi oleh para santrinya saja. Melainkan, juga masyarakat Tionghoa yang tinggal di sekitar pondok pesantren. Hal tersebut dibuktikan, ketika terdapat kegiatan pengajian masyarakat Tionghoa di sekitar pondok pesantren bergotong-royong membantu santri dalam menata kursi ataupun hal lain yang diperlukan untuk pengajian.

Selain itu, nilai toleransi yang selalu diajarkan di Pondok Pesantren Kauman Lasem juga mempunyai berbagai kegiatan, khususnya di waktu bulan Ramadan. Kegiatan yang banyak menarik perhatian masyarakat luar yaitu agenda pengajian puasanan. Selain para santri, kegiatan tersebut juga diikuti oleh pendatang dari luar kota misalnya; Jawa Timur, Jawa Barat, dan sekitar daerah Jawa Tengah. Kegiatan pengajian posonan ini tentu saja masih menerapkan prokes karena mengingat situasi pandemi covid-19 yang belum usai. Pengajian puasanan ini diisi dengan kajian fiqih, hadist, dan tasawuf serta pengajian kilatan.

Kehidupan para santri, masyarakat Tionghoa, serta etnis lain di Pondok Pesantren Kauman Lasem dapat menjadi salah satu implementasi nyata dari arti dan makna toleransi yang sesungguhnya. Apa yang ada di dalam Pondok Pesantren Kauman Lasem ini sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt dalam surah Al-Kafirun ayat 1-6 untuk saling bertoleransi dalam bidang muamalah (kebaikan) dan diharapkan dapat menjadi suri tauladan bagi masyarakat untuk selalu meghormati dan bertoleransi ditengah perbedaan yang semakin beragam ini.

Alif.id juga sempat memdokumentasikan Lasem dalam bentuk film dokumenter. Bisa dilihat di sini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.