Serbaserbi

Achmad Noe’man, Arsitek Seribu Masjid Berpangkat Letda

Arsitek Seribu Masjid. Julukan itu melekat pada diri profesor Achmad Noe’man, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mendedikasikan hidupnya pada dunia arsitektur . Merancang desain masjid merupakan spesialisasinya.

Noe’man lahir pada 10 Oktober 1926 dari keluarga Muhammadiyah . Ayahnya, Jamhari, merupakan pendiri persyarikatan tersebut di Garut, Jawa Barat. Muhammadiyah yang berandil pada pembangunan sarana pendidikan seperti sekolah, asrama, hingga masjid pun berpengaruh pada masa kecilnya. Dari latar belakang itu, arsitektur menjadi hal yang tak asing lagi bagi Noe’man.

Pendidikan formalnya dimulai dari di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi Ciledug, Garut. Setelah itu berlanjut ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Mengingat MULO Garut ditutup pascakemerdekaan, dia melanjutkan ke MULO dan SMA di Yogyakarta. Sedari muda itu, dia telah memupuk cita-citanya, menjadi seorang arsitek.

“Pada 1948 meneruskan pendidikan ke Universitas Indonesia di Bandung (kini ITB). Saat itu belum tersedia departemen keilmuan arsitektur yang diinginkan sehingga beliau memutuskan untuk melanjutkan studi di jurusan bangunan Fakultas Teknik Sipil,” tulis ITB dalam artikel bertajuk Obituari: Prof. Achmad Noe’man yang diunggah di laman resmi ITB, dikutip Minggu (17/4/2022).

Sejumlah literatur menyebutkan Noe’man tak menyelesaikan kuliahnya. Seiring penyerahaan kekuasaan Belanda ke Indonesia, TNI membentuk Corps Polisi Militer atau CPM di Bandung. Noe’man bergabung dan menekuni karier militer ini hingga 1953. Pangkatnya, letnan dua (Letda).

Noe’man tak selamanya menjadi prajurit TNI. Ketika ITB membuka jurusan arsitektur, cita-citanya kembali bergelora. Dia memutuskan mundur dari militer dan kembali ke bangku kuliah. Kali ini, menempuh jurusan yang sangat diimpikannya: arsitektur.

Lulus pada 1953, Noe’man menjadi asisten profesor Van Roemondt, dosen arsitektur Islam di ITB. Titik monumental perjalanan kariernya sebagai arsitek muncul kala dia merancang masjid di kompleks ITB. Semua bermula dari sivitas akademika ITB yang membentuk komunitas bercirikan Islam. Karena sulitnya tempat untuk Salat Jumat, komunitas yang salah satu anggotanya Noe’man itu mengusulkan pembangunan masjid.

“Pada periode itu Noe’man mencetuskan ide pembangunan masjid di kawasan kampus ITB. Alasannya sederhana, saat itu para mahasiswa harus berjalan sejauh 2,5 kilometer untuk menuju masjid,” bunyi keterangan resmi ITB.

Waktu berjalan. Masjid itu pun berdiri. Presiden Soekarno menamai tempat ibadah umat Islam di kampus Ganesha itu dengan sebutan Masjid Salman. Masjid ini terbilang monumental. Noe’man sang arsitek dengan ide berani memelopori pembangunan masjid tanpa kubah, sesuatu yang dianggap tak lazim kala itu. Rancangannya pun menjadi perhatian luas.

“Penerapan ideologi arsitektur modern namun tidak menghilangkan syariat Islam. Achmad Noe’man berhasil membangun masjid bersifat kontemporer. Kesederhanaan yang sengaja diciptakan untuk mendukung kegiatan Islami, sesuai dengan pemikiran beliau bahwa ‘keheningan’ (diwujudkan dengan ‘sepi’ ornamen) akan menghadirkan Zat yang Maha Kuasa,” kata Utami dalam tulisannya, Dinamika Pemikiran dan Karya Arsitektur Masjid Achmad Noe’man.

Karya-Karya Monumental

Selepas merancang Masjid Salman ITB, Noe’man mulai aktif merancang arsitek BB berbagai masjid di Indonesia lainnya, bahkan di dunia. Salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini merancang arsitektur masjid khas yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Bontang, hingga Makassar.

Selain Masjid Salman yang ikonik, karya sosok muslim taat ini tercatat mendesain Masjid Taman Ismail Marzuki Jakarta, Masjid Al-Ghifari IPB Bogor, Masjid PT Pupuk Kujang, Masjid Al-Furqan UPI Bandung, dan Masjid Komplek Perumahan Pramuka Cibubur Jakarta merupakan beberapa buah karya No’eman.

Karya lainnya yaitu Masjid Attin yang dibangun untuk mengenang Tien Soeharto dan Masjid Al Markaz Al Islami di Makassar. Masjid terakhir itu dibangun atas gagasan mantan Panglima ABRI/Menhankam Jenderal TNI M Jusuf.

Di luar negeri, Noe’man tercatat juga sebagai perancang mimbar Masjid Al Aqsa di Palestina pada 1993 hingga 1994. Dia juga perancang Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Prestasinya yang sangat gemilang, mengantarkan Noe’man menjadi anggota Dewan Kurator ketika Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta didirikan.

“Berbagai pencapaian Noe’man adalah inspirasi yang sepatutnya menjadi teladan. Berkontribusi melalui kapasitas pribadi dengan dedikasi tinggi bagi Indonesia dan dunia,” kata ITB.

Profil dan Biodata Achmad Noe’man

Lahir: Garut, 10 Oktober 1926

Meninggal: Bandung, 4 April 2016

Profesi: Arsitek

Pendidikan: ITB

Agama: Islam

Karya:

– Masjid Salman ITB, Bandung.

– Masjid At-Tin, TMII, Jakarta.

– Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar.

– Masjid Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

– Masjid Agung Al Akbar, Surabaya.

– Masjid Syekh Yusuf, Cape Town, Afrika Selatan.

– Masjid Istiklal, Sarajevo, Bosnia.

– Mimbar Masjid Al Aqsa, Palestina.

– Masjid Islamic Center Jakarta.

– Masjid Al-Hurriyyah di Institut Pertanian Bogor.

– Masjid Raya Bandung.

– Masjid Asy-Syifa Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung.

– Masjid Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

(rca)Erfan Maaruf

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.