Serbaserbi

Kisah Umar Bin Khattab: Ketika Dua Perempuan Menolak Lamarannya

Pada saat remaja, Umar bin Khattab adalah idaman kaum perempuan. Sebagai lelaki perkasa, juara gulat dan pacuan kuda, berdekatan dengan Umar, syukur-syukur dinikahinya menjadi impian mereka. Hanya saja, pada saat Islam datang dan Umar menjadi tokoh besar dalam mendakwahkan ajaran itu, perempuan justru kurang berminat dengan dirinya. Umar dianggap terlalu galak, jarang senyum, dan pelit.

Pria pada zaman itu sudah biasa memiliki istri banyak dengan harapan mendapat banyak anak. Begitu juga Umar bin Khattab. Begitu masa mudanya mencapai kematangan, ia terdorong ingin menikah. Dalam hidupnya, Umar tercatat mengawini sembilan perempuan yang kemudian memberikan keturunan dua belas anak, delapan laki-laki dan empat perempuan.

Dari perkawinannya dengan Zainab putri Maz’un lahir Abdur-Rahman dan Hafsah; dengan Umm Kulsum putri Ali bin Abi Thalib lahir Zaid yang lebih tua (senior) dan Ruqayyah; dengan Ummu Kulsum binti Jarul bin Malik lahir Zaid yang lebih muda (junior) dan Ubaidillah.

Islam telah memisahkan Umar dengan Ummu Kulsum putri Jarul. Ia kawin lagi dengan Jamilah binti Sabit bin Abi al-Aflah maka lahir Asim. Nama Jamilah yang tadinya Asiyah, oleh Nabi diganti: Sebenarnya engkau Jamilah, kata Nabi.

Perkawinannya dengan Umm Hakam putri al-Haris bin Hisyam bin al-Mugirah melahirkan Fatimah. Dari perkawinannya dengan Atikah binti Zaid bin Amr lahir Iyad. Luhayyah, hamba sahaya ibu Abdur-Rahman anaknya yang menengah.

Dari Fukaihah yang juga hamba sahaya yang telah melahirkan Zaid, anaknya yang bungsu.

Kalangan sejarawan masih berbeda pendapat mengenai nama ibu Abdur-Rahman junior, ibunya seorang juga seorang hamba sahaya. Kalangan sejarawan masih berbeda pendapat mengenai nama ibunya itu.

Dianggap Jutek

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Umar bin Khattab” memaparkan Umar kawin dengan empat perempuan di Mekkah, dan yang perempuan kelima setelah hijrah ke Madinah. Akan tetapi ia tidak sampai mengumpulkan mereka di rumahnya. Sebelumnya telah disebut Islam telah memisahkan Umar dari Umm Kulsum binti Jarul, dan perempuan-perempuan yang lain diceraikannya.

Mereka yang diceraikan itu Umm Hakam binti al-Haris bin Hisyam dan Jamilah yang telah melahirkan Asim. Menurut Haekal, kalau Umar masih akan berumur panjang niscaya ia masih akan kawin lagi selain kesembilan perempuan itu.

Prediksi Haekal itu terkait dengan peristiwa yang terjadi sebelum Umar wafat. Umar sempat melamar Umm Kulsum putri Abu Bakar sewaktu masih gadis kecil, sementara ia sudah memegang pimpinan umat. Ia memintanya kepada Aisyah saudaranya, Aisyah Ummul mukminin menanyakan adiknya itu, tetapi Umm Kulsum menolak dengan mengatakan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras terhadap perempuan.

Bukan itu saja. Umar juga sempat melamar Umm Aban binti Utbah bin Rabi’ah, yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir, keluar masuk rumah dengan muka merengut.

Menurut Haekal, apa yang dikatakan Umm Kulsum binti Abu Bakar tentang wataknya yang keras dan kasar, dan apa yang dikatakan Umm Aban bahwa ia selalu bermuka masam dan hidupnya yang serba keras, merupakan sebagian dari wataknya yang sejak masa mudanya, dan kemudian tetap begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Sesudah menjadi khalifah, maka dalam doa pertamanya ia berkata: “Allahumma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah aku sungguh kikir jadikanlah aku orang pemurah.”

Sabar Terhadap Istri

Hanya saja, dalam banyak kisah Umar bin Khattab justru digambarkan sebagai lelaki yang lembut. Bahkan jika istrinya marah, ia lebih banyak diam.

Alkisah, diriwayatkan, suatu hari seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan segala protes, keluh-kesah dan sumpah serapah keluar dari mulut istrinya. Begitu sampai di depan rumah Sang Khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar juga istri Umar yang mirip istrinya, marah-marah, protes ini itu.

Bahkan, bisa jadi cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut Sang khalifah. Umar diam saja, ia bahkan dengan hikmat dan kesabaran mendengarkan istrinya yang sedang berkata-kata dengan gundah itu. Akhir cerita, lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Namun kisah tak sampai berhenti disitu. Saat ia tak sengaja bertemu dengan Sang Khalifah di serambi Masjid, ia langsung menanyakan kejadian yang dinilai ganjil itu. Kenapa Umar begitu sabar dengan Sang istri? Apa Jawaban Umar? Inilah kata yang bersahaja itu, “Wahai saudaraku, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu…”

Umar diam sejenak, lelaki itu juga tertegun. Lalu Umar melanjutkan, “Istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepadaku, aku selalu mengingat, keburukan itu tak ada harganya dibanding jasa dan pengorbanannya untukku. Dengan seperti itu tak ada tempat yang tersisa untuk kesal dalam hatiku..”

Lepas dari itu, sejak mudanya Umar memang sudah mewarisi sikap keras dan kasar itu dari ayahnya, kemudian didukung pula oleh tubuhnya yang tetap kekar dan kuat. Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, menurut Haekal, karena ia memang tak pernah kaya, dan ayahnya juga tak pernah menjadi orang kaya.

Memburu Pengetahuan

Sepanjang hidupnya Umar dalam keadaan sederhana, padahal, seperti kebanyakan penduduk Makkah ia juga berdagang. Barangkali wataknya yang keras itu yang membuatnya tak pernah beruntung dalam perdagangan, seperti rekan-rekannya yang lain.

Dengan watak kerasnya dalam perdagangan ia tak pernah dapat mengeluarkan air dari batu, tak pernah ia dapat mengubah tanah menjadi emas, demikian ungkapan masyarakatnya sendiri, Quraisy.

Di samping itu, menurut Haekal, dalam perdagangan pun ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim dingin ke Yaman dan ke Syam saja, bahkan ia pergi sampai ke Persia dan Romawi. “Tetapi dalam perjalanan itu ia mengutamakan untuk mencerdaskan pikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya,” tulis Haekal.

Dalam Muruj az-Zahab al-Mas’udi menyebutkan bahwa selama dalam pelbagai perjalanan di masa jahiliyah itu Umar banyak menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai utusan dari pihak Quraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.

Pendidikan dan konsep pemikirannya inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya.

Haekal mengatakan orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya. Tetapi orang yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan tak banyak mendapat perhatian, sebab orang yang sudah keranjingan harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak menggantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang lebih menguasainya.

Tetapi, menurut Haekal lagi, orang yang memandang dunia dan harta itu rendah dan memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri, sampai-sampai ia mau menjauhi orang, maka ia tidak akan tertarik pada segala yang ada di tangan mereka karena ia sudah lebih tinggi dari semua mereka. “Tingkat ini yang belum dicapai Umar di masa mudanya. Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itu, itulah yang benar-benar dihayatinya,” tulis Haekal.

Usaha Umar dalam memburu pengetahuan membuatnya sejak mudanya ia memikirkan nasib masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian yang membuatnya bangga, bersikeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau berdebat.

Karena sikap keras dan ketegarannya itu sehingga dengan fanatiknya ia berlaku begitu sewenang-wenang. Ia akan mempertahankan pendapatnya dengan tangan besi dan dengan ketajaman lidahnya. Tetapi yang demikian ini bukan tidak mungkin akan mengubah pendapat orang lain yang dihadapinya untuk menjadi bukti kuat dalam pembelaannya dan untuk mematahkan alasan lawan.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.