Keagamaan

Betulkah Toleransi Mencampuradukkan Akidah? (2) – Arrahim.ID

Views 3

Sebelumnya: Betulkah Toleransi Mencampuradukkan Akidah? (1)

Pentingnya toleransi juga banyak terekam dalam hadits Nabi. Salah satu hadits di dalam Musnad Ahmad berbunyi عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ yang artinya “Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW ditanya, “Agama apakah yang paling dicintai Allah?” Rasul menjawab: “Agama yang lurus dan toleran.”

Sekalipun banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara tegas mengajarkan toleransi, namun sikap toleran sebetulnya adalah sebuah sikap yang kebenarannya langsung bisa diterima oleh nurani manusia. Manusia yang tidak mengetahui dalil-dalil kitab suci pun bisa membenarkan toleransi.

Jika sikap toleran menunggu seseorang mengetahui dalil dalam kitab suci, maka betapa rentannya kehidupan sosial keagamaan kita. Padahal, jumlah orang yang mengetahui dan memahami dalil-dalil toleransi terbatas. Sementara sebagian besar orang bukanlah sarjana keagamaan yang terbiasa dengan dalil-dalil agama. Toh, orang tetap bisa bersikap toleran. Ini karena kebenarannya bisa diterima oleh nurani manusia.

Marilah kita memahami toleransi ini melalui konsep golden rule (aturan emas) yang kebenarannya bersifat universal dan diterima oleh semua orang, tidak peduli agama dan budayanya. Hukum itu adalah: “Jika kamu tidak ingin disakiti orang lain, maka jangan menyakiti orang lain.”

Hukum ini diakui oleh semua orang karena kebenarannya semacam hukum kodrat yang sudah ada dalam diri setiap individu. Kompas moral kita tidak mungkin menolak hukum ini karena begitu ia ditolak, maka kita langsung berhadapan dengan situasi kehidupan yang sepenuhnya tidak bermoral, yaitu bahwa orang bisa melakukan apa saja sesukanya. Menolak hukum di atas berarti menerima keberadaan hukum rimba sepenuhnya.

Penerimaan hukum di atas tidak mempersyaratkan seseorang untuk mengetahui dalil-dalil kitab suci. Sekali lagi, kebenarannya sudah menjadi hukum asal yang terpatri dalam jiwa manusia.

Dengan hukum itu, sekarang mari kita mengandaikan adanya dua orang yang berbeda keyakinan: A seorang Muslim yang taat dan B seorang Kristen yang taat. Sebagai seorang Muslim, A meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Si A menuntut B untuk menghormati keyakinan agamanya. A juga meminta agar B tidak mengganggunya ketika A melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya. Ketaatan A terhadap kebenaran agamanya dan tuntutan A kepada B untuk menghormatinya, adalah sepenuhnya BENAR.

Pada saat yang sama, B juga memiliki pandangan dan sikap yang sama persis dengan si A. Bagi B, agama yang paling benar adalah Kristen. Karena itu dia menuntut si A untuk menghormatinya dan memberinya perasaan aman dan nyaman ketika dia menjalankan ibadat agamanya. Sebagaimana A, ketaatan B terhadap agamanya dan tuntutannya kepada A untuk menghormatinya juga sepenuhnya BENAR.

Ketika A menghormati B, sama sekali tidak persyaratan untuk membenarkan keyakinan B. Penghormatan A kepada B adalah kewajiban timbal balik karena A juga menuntut hal yang sama kepada B. Saling menghormati antara A dan B sama sekali bukanlah praktik pencampuradukan akidah. Justru sebaliknya, mereka melakukan itu karena keduanya menaati ajaran agama masing-masing.

Sikap toleran adalah memberikan perlakuan kepada orang lain seperti kita meminta orang lain berbuat  hal yang sama kepada diri kita. Kita bisa saja memiliki kemampuan untuk mengganggu orang lain, namun kita tidak melakukannya karena kita tahu bahwa itu tidak bermoral.

Mengapa kita menganggap gangguan kepada orang lain tidak bermoral? Itu karena konsep moral kita beranjak dari hukum “Jika kita ingin orang lain menghormati keyakinan kita, maka kita harus menghormati keyakinan orang lain. Jika kita meminta orang lain untuk memberi rasa aman dan nyaman kepada kita saat kita beribadah, maka kita juga harus memberi perasaan amana dan nyaman kepada orang lain saat mereka beribadah.”

Toleransi biasa didefinsikan sebagai “the conditional acceptance of or non-interference with beliefs, actions or practices that one considers to be wrong but still “tolerable,” such that they should not be prohibited or constrained” (penerimaan atau tidak memberi gangguan terhadap keyakinan atau praktik yang dianggap sebagai salah, dengan cara tidak melarangnya atau memaksanya).

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam memahami toleransi. Pertama, seseorang menilai sesuatu sebagai salah atau negatif. Dua, seseorang itu memiliki kekuatan untuk melenyapkannya. Dan tiga, orang itu dengan sengaja tidak melakukan pelarangan atau pelenyapan.

Sama dengan dalil-dalil naqli, definisi dan berbagai perdebatan akademik tentang toleransi hanya terjadi di kalangan akademisi yang jumlahnya terbatas. Seseorang bisa menjadi toleran tanpa harus mengetahui berbagai definisi toleransi. Kebenaran toleransi bukan lahir dari dalil-dalil ini, tapi berasal dari golden rule yang sudah ditanamkan dalam diri kita.

Sampi di sini, bisa dinyatakan bahwa toleransi sama sekali bukan pencampuradukan akidah. Toleransi adalah sikap adil terhadap orang lain. Toleransi menuntut kita untuk berbuat fair pada orang lain. Jika kita menginginkan orang lain menghormati agama kita karena kita menganggap agama kita benar, maka hal yang sama juga mutlak harus kita berikan pada orang lain.

Jika ada orang yang menyatakan bahwa toleransi adalah pencampuradukan akidah, maka orang itu sesungguhnya hanya menjadikan akidah sebagai topeng untuk menutupi tindakannya yang tidak adil dan tidak fair kepada orang lain. Agama semestinya membawa seseorang untuk berbuat adil, bukan justru membuka praktik hukum rimba atas nama agama.[mmsm]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.