Serbaserbi

Kisah Amir bin Syurahabil Asy-Sya’bi, Dijadikan Pemancing Kecemburuan oleh Kaisar Romawi

Tatkala khilafah beralih ke tangan Abdul Malik bin Marwan , amirul mukminin menulis surat kepada gubernurnya di Irak, Hajjaj bin Yusuf , “Hendaknya engkau mengirim kepadaku seorang yang mahir dalam agama dan dunia, yang akan aku jadikan sebagai teman dan pendampingku.”

Lalu diutuslan Amir bin Syurahabil Asy-Sya’bi . Amirul mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadapi kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegoisasi dengan raja-raja di muka bumi.

Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya berjudul ” Mereka adalah Para Tabi’in ” menceritakan suatu kali Asy-Sya’bi diutus untuk urusan penting menemui Justinian, Kaisar Romawi. Setibanya beliau di Romawi dan setelah memberikan keterangan, kaisar Romawi kagum akan kecerdasan dan kelihaiannya, serta takjub akan keluasan wawasan dan kekuatan daya tangkapnya.

Dia bahkan meminta kesediaan Asy-Sya’bi untuk memperpanjang kunjungannya sampai beberapa hari, sesuatu yang tidak pernah dilakukan kaisar terhadap para utusan yang lain.

Ketika Asy-Sya’bi mendesak agar segera diizinkan pulang ke Damaskus, Justinian bertanya, “Apakah Anda dari keturunan raja?”

“Tidak, saya seperti umumnya kaum muslimin,” jawabnya.

Setelah beliau diizinkan pulang, kaisar berkata, “Jika Anda telah sampai kepada Abdul Malik bin Marwan dan menyampaikan apa yang kehendakinya, berikan surat ini kepadanya.”

Setibanya Asy-Sya’bi di Damaskus, beliau bersegera menghadap Khalifah Abdul Malik untuk melaporkan apa yang dia lihat dan dia dengar. Ketika hendak beranjak pulang, beliau berkata, “Wahai amirul mukminin, kaisar Romawi juga menitipkan surat ini untuk Anda,” kemudian beliau pulang.

Ketika amirul mukminin membaca surat tersebut, beliau berkata kepada pembantunya, “Panggillah Asy-Sya’bi kemari.” Maka Asy-Sya’bi kembali menghadap khalifah .

“Tahukan Anda, apakah isi surat ini?” tanya Khalifah.

“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.

“Kaisar Romawi itu berkata, ‘Saya heran kenapa orang Arab mau mengangkat raja selain orang ini (asy-Sya’bi)’?” ujar Khalifah.

Asy-Sya’bi berkomentar, “Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah melihat Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian.”

“Tahukah Anda, mengapa kaisar menulis surat seperti ini?” tanya Khalifah.

“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.

“Dia menulis surat seperti itu karena iri kepadaku lantaran memiliki pendamping sepertimu, lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu,” ujar Khalifah.

Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata, “Demi Allah, memang tidak ada maksud dariku selain itu.”

Sifat Tawadhu

Asy-Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama pada zamannya. Az-Zuhri berkata, “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahabil di Kufah, Hasan Al-Bashri di Bashrah dan Makhul di Syam.”

Hanya saja karena sifat tawadhu’, beliau tidak suka bila ada yang menyebutnya alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai ‘alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Manalah aku termasuk di dalamnya?”

Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab, “Umar bin Khathab berkata begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini.” Maka penanya berkata, “Maka bagaimana pendapat Anda wahai Amru?”

Beliau tersenyum malu dan berkata, “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”

Di samping itu, Asy-Sya’bi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang utama. Beliau tidak suka debat kusir dan berusaha menjauhkan diri dari pembicaraan-pembicaraan yang tak bermanfaat. Suatu kali sahabatnya berkata, “Wahai abu Amru!”

Beliau berkata, “Labbaik.” Orang itu bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang perbincangan orang berkenaan dua orang itu?” beliau berkata, “Dua orang yang mana?” Dia menjawab, “Utsman dan Ali.”

Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak ingin pada hari kiamat nanti menjadi musuh bagi Utsman bin Affan dan Ali bin Thalib.”

Sungguh telah terkumpul pada diri Asy-Sya’bi antara ilmu dan kelapangan dada. Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang menuduh beliau dengan tuduhan yang keji dan memaki dengan kata-kata kotor, namun tiada yang dikatakan Asy-Sya’bi selain kalimat, “Jika memang apa yang Anda tuduhkan kepada saya itu benar, mudah-mudahan Allah mengampuni saya. Namun jika memang tuduhanmu dusta, maka semoga Allah mengampunimu.”

Beliau tidak segan-segan menerima ilmu dari orang-orang yang masih pemula kendati beliau telah masyhur akan keutamaan, ma’rifah dan hikmah-hikmahnya.

Pernah suatu ketika ada orang dusun yang selalu rajin mendatangi majelisnya, tetapi orang ini banyak diamnya, sehingga suatu kali Asy-Sya’bi menegurnya, “Mengapa engkau tak pernah bicara?”

Dia berkata, “Ketika aku diam maka aku selamat, ketika aku mendengar maka aku mendapat ilmu. Hasil dari telinga akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan hasil lisan akan berpindah ke orang lain.” Sejak itu, kalimat orang dusun itu selalu beliau ulang-ulang dalam hidupnya.

Meski demikian sempurna dan ketinggian kedudukannya dalam hal ilmu dan agama, Asy-Sya’bi juga mampu berbicara dalam bahasa yang mudah dipahami dan enak didengar. Sesekali beliau juga bercanda selagi masih dalam batas diperbolehkan dan bermanfaat.

Usia Asy-Sya’bi mencapai lebih dari 80 tahun. Ketika berita tentang wafatnya sampai kepada Hasan Al-Bashri ulama Bashrah, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati beliau, sunggu beliau memiliki ilmu yang luas, lapang dada dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.”

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.