Keagamaan

Syaikhah Fatimah binti Abbas; Wanita Orator dari Mazhab Hanabilah

BincangSyariah.Com – Jika selama ini terdapat anggapan bahwa penceramah ulung hanyalah seorang laki-laki dengan keilmuannya yang luas, maka anggapan itu sangat keliaru. Sebab, pada zaman dahulu terdapat seorang wanita dengan keilmuan yang luas dan pemahaman yang mendalam juga menjadi penceramah ulung yang biasa menaiki mimbar-mimbar ketika ada acara pengajian.

Wanita yang satu ini selain dikenal sebagai wanita ahli ibadah yang sangat taat dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan, ia juga masyhur sebagai pendakwah wanita, orator ulung dengan gaya khasnya. Bahkan, ceramah-ceramah yang ia sampaikan mampu menembus hati orang-orang yang mendengarkannya.

Baghdad menjadi salah satu kota yang sangat beruntung telah memiliki sosok wanita sepertinya, yang bisa menjadikan negara kelahirannya disegani dan dimuliakan oleh bangsa-bangsa yang lainnya. Sebab, bagaimana pun kebaikan suatu bangsa tergantung wanita yang ada di dalamnya, jika baik, maka suatu negara akan baik, dan jika buruk, tentu juga membawa keburukan bagi negaranya.

Dengan kelahiran dan keberadaannya, kota Baghdad menjadi salah satu kota yang paling dicari oleh para wanita seantero negeri saat itu sebagai tempat untuk belajar ilmu dan memahami ajaran Islam dengan mendalam.

Syaikhah Fatimah bint Abbas, begitulah namanya dikenal banyak orang. Ia tidak hanya tumbuh sebagai guru yang memiliki tugas sebatas mengajar, lebih dari itu juga sebagai pembimbing yang selalu siap memberikan arahan kepada orang yang belajar padanya hingga benar-benar paham. Berikut penulis jelaskan nama lengkap dan rihlah intelektual dan spiritualnya.

Nama Lengkap Syaikhah Fatimah

Nama lengkap wanita yang satu ini adalah Fatimah bint Abbas bin Abil Fatah bin Muhammad al-Baghdadiyah al-Qahirah al-Mishriyah. Ia memiliki darah kebangsaan dari kota Baghdad (Ibu kota Irak yang menjadi kota terbesar di Timur Tengah setelah Kairo).

Kendati namanya sangat masyhur dan diabadikan dalam kitab-kitab sejarah, tidak ada catatan secara khusus dari para ulama ahli sejarah yang berhasil penulis temukan perihal tahun kelahirannya. Hanya saja, Syekh Salahuddin as-Shafadi dalam kitabnya menengarai bahwa ia dilahirkan pada abad keenam hijriah.

Kendati demikian, yang pasti dari wanita salehah yang satu ini, ia dilahirkan di kota Baghdad. Hanya saja, di akhir-akhir hayatnya sebelum wafat, ia dan keluarganya pindah ke Mesir, tepatnya di kota Kairo untuk, selain untuk menyebarkan ajaran Islam di negeri Kinanah tersebut, juga untuk menambah pengalaman spiritual kepada para ulama di kota tersebut.

Rihlah Intelektual dan Spiritual Syaikhah Fatimah

Syaikhah Fatimah benar-benar tumbuh menjadi wanita perubahan. Semangatnya yang tinggi dan cita-citanya yang menjulang langit, ia sangat semangat dalam belajar untuk memperdalam ilmu pengetahuan kepada para ulama saat itu di Baghdad.

Ia sangat sadar bahwa wanita memiliki peran yang sangat besar di balik perkembangan ajaran Islam. Ia juga melihat sejarah-sejarah wanita pendahulunya yang sangat banyak dikenal sejarah hingga namanya abadi, bahwa keabadian semua itu disebabkan luasnya intelektual dan sangat taat dalam spiritual.

Kesadaran itulah yang menjadi penyebab Fatimah untuk tidak berhenti dalam belajar. Banyak ulama yang ia datangi untuk menimba ilmu pengetahuan, sekaligus belajar perihal tata cara ibadah yang benar kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dengan kegigihan dan semangatnya yang tinggi untuk bisa paham ajaran-ajaran Islam, usaha Fatimah pada akhirnya menuai hasil yang sangat sempurna. Ia dikenal sebagai sosok wanita salehah yang sangat hebat, ahli ibadah dan sangat taat. Tidak sebatas itu, banyak wanita-wanita Baghdad yang berbondong-bondong mendatanginya hanya sebatas untuk menimba ilmu dan meminta nasihat kepadanya.

Orator Wanita yang Luluhkan Hati

Syekh Salahuddin as-Shafadi dalam salah satu kitabnya pernah mengungkap sejarah wanita hebat yang satu ini. Dalam kitabnya disebutkan bahwa ia tidak sebatas menjadi wanita pengajar, lebih dari itu juga ahli ceramah di atas mimbar,

كَانَتْ تَصْعُدُ الْمِنْبَرَ وَتَعِظُ النِّسَاءَ، فَيُنِيْبُ لِوَعْظِهَا، وَانْتَفَعَ بِوَعْظِهَا جَمَاعَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ، وَرَقَّتْ قُلُوْبَهُنَّ لِلطَّاعَةِ بَعْدَ الْقَسْوَةِ

Artinya, “(Syaikhah Fatimah) adalah wanita yang menaiki mimbar, memberi nasihat pada wanita, maka tumbuh (takwa) karena nasihatnya, para jamaah wanita mengambil manfaat dengan nasihatnya, bahkan hati mereka menjadi lunak untuk melakukan ketaatan setelah sebelumnya keras.” (Shalahuddin as-Shafadi, A’yanu al-‘Ushr wa A’wanu an-Nashr, [Beirut, Darul Fikr: 1998], juz II, halaman 170).

Keyakinannya sejak dahulu, bahwa wanita juga memiliki peran di balik perkembangan Islam benar-benar terwujud. Ia memiliki banyak peluang sebagai perantara untuk megembalikan hakikat ketakwaan seseorang. Bahkan, ceramahnya mampu memberikan semangat baru bagi mereka yang mengdengarkannya untuk semakin taat dalam menjalankan perintah.

Semua itu tentunya ia dapatkan tidak dengan duduk santai tanpa rintangan yang berat. Perjuangannya dalam mencari ilmu tidak pernah ia sia-siakan dan selalu berusaha untuk bisa paham suatu pelajaran dengan sempurna dan mendalam. Oleh karenanya, ia paham betul ilmu tentang fiqih serta cabang-cabangnya,

كَانَتْ تَدْرِي الْفِقْهَ وَغَوَامِضَهُ اَلدَّقِيْقَة، وَمَسَائِلَهُ اَلْعَوِيْصَةَ، اَلَّتِي تَدُوْرُ مَبَاحِثُهَا بَيْنَ الْمَجَازِ وَالْحَقِيْقَةِ

Artinya, “(Fatimah) mengetahui (memahami) fiqih serta cabang-cabangnya yang dalam, serta permasalahannya yang rumit, yang pembahasannya berputar di antara majaz dan hakikat.” (as-Shafadi, A’yanu al-‘Ushr wa A’wanu an-Nashr, 2/170).

Kedalammannya dalam penguasaan ilmu fiqih, tentu tidak membuatnya gentar untuk menaiki mimbar-mimbar dalam rangka memberi nasihat kepada para jamaah. Akan tetapi, para ulama di masa itu tentu khawatir perihal perbuatan Fatimah tersebut, di antarany Ibnu Taimiyah.

Dalam suatu kisah, Ibnu Taimiyah hendak melarang Syaikhah Fatimah agar tidak naik mimbar untuk memberi nasihat, cukup sebatas majlis biasa saja. Pertimbangannya, (1) ia adalah wanita yang tidak kurang layak dengan semua itu; dan (2) masih banyak ulama laki-laki yang juga bisa memberi nasihat layaknya Syaikhah Fatimah. Namun, sebelum keinginan itu disampaikan, Ibnu Taimiyah bermimpi didatangi Rasulullah,

رَأَيْتُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ، فَسَأَلْتُهُ عَنْهَا. فَقَالَ: اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ

Artinya, “Aku (Ibnu Taimiyah) bermimpi melihat Nabi Muhammad dalam tidurnya. Kemudian ia menanyakan wanita tersebut (Fatimah), maka Rasulullah menjawab: wanita salehah.” (as-Shafadi, A’yanu al-‘Ushr wa A’wanu an-Nashr, 2/170).

Setelah kejadian itu, Ibnu Taimiyah tidak pernah berkomentar perihal Syaikhah Fatimah. Ia sangat sadar bahwa wanita tersebut bukanlah wanita sembarangan yang menaiki mimbar hanya untuk mendapatkan popularitas. Ia sangat ikhlas tanpa tujuan apapun, kecuali karena Allah dan untuk menyelamatkan umat Rasulullah.

Di akhir hayatnya, pindah ke Kairo Mesir untuk memberikan nasihat di kota tersebut, sekaligus disebabkan banyaknya permohonan wanita-wanita Kairo kepadanya untuk pindah tempat. Alhasil, ia mengiyakan permohonan tersebut dan pindah ke Mesir.

Di Mesir, namanya semakin masyhur. Ia sangat dikenal banyak orang, bahkan para ulama banyak yang segan kepadanya, hingga pada akhirnya banyak gelar yang disematkan kepada namanya, yaitu:

اَلشَّيْخَةُ الْمُفْتِيَّةُ الْفَقِيْهَةُ الْعَالِمَةُ الزَّاهِدَةُ الْعَابِدَةُ، اَلْبَغْدَادِيَّةُ الْحَنْبَلِيَّةُ الْوَاعِظَةُ

Artinya, “(Fatimah) adalah guru wanita, ahli fatwa, pakar ilmu fiqih, luas ilmu, zuhud (tidak cinta dunia), ahli ibadah, kebangsaan Baghdad, mazhab Hanabilah, ahli ceramah (orator).” (as-Shafadi, A’yanu al-‘Ushr wa A’wanu an-Nashr, 2/170).

Demikian Syaikhah Fatimah bint Abbas. Ia sangat dicintai oleh umat Islam saat itu, bahkan banyak wanita dari kota-kota luas Kairo yang datang berbondong-bondong hanya untuk menimba ilmu kepadanya. Bahkan, setiap majlis yang dihadiri olehnya akan selalu dipenuhi dengan ribuan jamaah untuk menimba nasihat darinya.

Saat itu, umat Islam benar-benar cinta dan senang akan nasihatnya. Bahkan, pada masanya itu, ia tidak ada duanya. Namun, di saat yang bersamaan Allah lebih cinta kepada wanita ahli ibadah yang satu ini. Dia tidak ingin Syaikhah Fatimah berlama-lama di dunia.

Tepat pada tahun 714 hijriah, Syaikhah Fatimah menghembuskan nafas terakhir di kota Kairo. Ia wafat bersamaan dengan hari Arafah, yaitu hari kesembilan pada bulan Dzulhijjah dan merupakan hari kedua dalam ibadah haji. Saat itu, ia pergi meninggalkan umat Islam untuk selama-lamanya menuju sang kekasih abadi, Allah ‘azza wa jalla.

Demikian biografi Ummul Khair Syaikhah Fatimah. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu teladan dan referensi, khususnya bagi para wanita, untuk semakin meningkatkan ibadah dan ketaatan sekaligus untuk menyatakan bahwa ia memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. (Baca: Perempuan Ahli Ibadah Masuk Neraka Gara-Gara Ini)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.