Keagamaan

Ramadhan: Iltizam Resign Secara Diam-diam | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Pada tahun ini, umat Islam kembali dipertemukan pada bulan yang sangat agung, selalu dinantikan oleh seluruh muslim di dunia. Dengan kesempatan ini, banyak umat muslim yang beriltizam atau membuat komitmen pada bulan Ramadhan. 

Iltizam merupakan suatu komitmen yang dibangun seseorang dalam kehidupan, baik dari  segi pemikiran, pertuturan, sikap dan tingkah laku. Seperti mengkhatamkan Al-Quran selama bulan ramadhan, ada yang satu kali khatam dan bahkan ada yang menargetkan berkali-kali, selalu shalat berjamaah di Masjid dan Mushola serta mendirikan amalan sunnah seperti shalat tahajud, tarawih, dan lainnya. 

Komitmen tersebut sering dibuat sebelum memasuki bulan Ramadhan, biasanya sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Ada yang mencatatnya dan ada juga yang membuat buku agenda khusus untuk bulan Ramadhan. Tentu ini merupakan wujud bahagia dan semangat seorang muslim ketika bertemu dengan bulan yang mulia.

Maka timbullah pertanyaan, apakah iltizam itu dijalankan sesuai dengan apa yang telah diekspektasikan? Sudah sampai dimanakah bacaan Al-Quran kita? Nah, tentu dalam melaksanakannya banyak godaan dan tantangan. Seperti pada hari ini, tak terasa kita sudah lebih dari seminggu puasa ramadhan. 

Fonomena yang sering terjadi dari tahun ke tahun masjid dan mushala, pada awal ramadhan jamaah yang berdesakkan shafnya bahkan ada yang tidak dapat tempat shaf. Suara tadarus Al-Quran  yang bergemuruh setiap malamnya serta sedekah, infak yang terus bertambah. 

Namun itu hanya tinggal ekspektasi saja, ketika sudah memasuki bilangan puasa yang samakin tinggi, shaf shalat sudah surut kedepan, jamaah mulai menghilang satu-persatu, suara tadarus al-Quran di masjid dan mushala sudah mulai tak terdengar lagi .

 Yang biasanya membaca al-Quran setiap selesai shalat wajib dua atau empat lembar, akan tetapi ketika sudah memasuki bilangan puasa semakin tinggi, mulai menurun ghirahnya dalam menbaca al-Quran. Mirisnya, jangankan satu lembar yang akan dibaca setiap selesai shalat wajib, satu ayat pun sulit untuk membacanya.

 Ada yang beralasan karena sibuk kerja, berdagang, mencari pakaian untuk lebaran dan lain-lain. Padahal seorang muslim yang benar adalah seorang muslim yang menjalankan puasa dan menghidupkan Qiyamul Lail dengan penuh keimanan dan niat beribadah. Maka keimanan dan iltizamnya akan bersemai dalam hatinya untuk memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT. Sebagai mana sabda Rasulullah SAW, 

Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan perhitungan maka akan diampuni dosa-dosa yang terdahulu. (H.R. Bukhari No 37,Muslim No.759)

Tentu hal ini, bertolak belakang dengan para sahabat terdahulu, yang membuat iltizam dalam dirinya yang selalu istiqamah dan kuat keyakinan dalam beriltizam. Fakta sejarah membuktikan tatkala kisah 3 panglima perang yang gugur pada perang mu’tah, yang waktu itu melawan orang kafir yang berjumlah 200.000 orang. Sedangkan dari pasukan muslim hanya 3000 orang. 

Panglima pertama, Zaid bin Haritsa r.a gugur. Lalu bendara perang diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib r.a. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kananya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh. Panglima ketiga. Abdullah bin Rawahah r.a berperang hingga mati syahid. 

Kemudian Rabi bin Sulaiman berkata Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Quran pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali dan bulan lainnya sebanyak tiga puluh kali. Sufyan Al-Tsauri meninggalkan segala aktivitasnya dan mulai memfokuskan membaca Al-Quran. Al-Walid bin Abdul Malik mengkhatamkan Al-Quran setiap tiga hari dan selama bulan Ramadhan sebanyak tujuh kali.

Begitu kuatnya para sahabat dalam meneguhkan komitmennya kepada ajaran Islam. Berkorban waktu, tenaga, harta bahkan nyawa sekalipun, demi mendapatkan derajat takwa disisi Allah SWT. Lalu bagaimana dengan kita, apakah ingin mendapatkan derajat takwa dengan iltizam yang lemah dan goyah atau hanya dengan usaha sederhana saja? Tentu jawabnnya ada pada diri kita masing-masing. 

Oleh karena itu tanpa ada sifat iltizam yang kuat dalam diri untuk mendapatkan ridha Allah SWT  dalam meraih derajat takwa. Maka kita akan menemui kegagalan. Gagal dalam beriltizam bermakna kita beriltizam untuk gagal. 

Mari kita jaga dan perbaharui terus iman, iltizam dan ghirah kita dalam beribadah selama bulan Ramadhan ini, jangan sampai kita menyesal di akhir Ramadhan nanti. Karena inilah kesempatan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dengan cara luruskan niat hanya karena Allah SWT. Ingat! Jangan taat karena Ramadhan akan tetapi taatlah karena Allah SWT. Jangan sampai pandemi menghalangi kita dalam meraih takwa. (Baca: Agar Iman Kuat dan Kokoh, Perbanyak Baca Doa Ini di Bulan Ramadhan).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.