Keagamaan

Ada Wali Tapi Tidak Shalat, Ini Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub | Bincang Syariah

BincangSyariah.com– Berikut ini penjelasan ada wali tapi tidak shalat. Fenomena ini jamak di tengah masyarakat. Nah menanggapi itu, ini pandangan KH. Ali Musthafa Yaqub.

Seringkali beberapa kalangan beranggapan bahwa seseorang dicap sebagai waliyullah apabila ia memiliki kekeramatan dan kenyelenehan. Sehingga tindakannya yang secara lahir menyimpang dari syariat pun dianggap sebagai tanda-tanda kewaliannya.

Semisal seorang yang mendaku sebagai wali namun tidak menjalankan kewajiban shalat. Dalam hal ini, Dalam masalah wali tapi tidak shalat ini, bagaimana pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub?

Ali Mustafa Yaqub dalam suatu kesempatan ceramahnya menjelaskan ciri-ciri seorang waliyullah berdasarkan Q.S Yunus: 62-63:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ. الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ.

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa

Jadi, tanda-tanda waliyullah secara umum adalah beriman dan selalu bertakwa kepada Allah. Bertakwa artinya mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kiai Ali kemudian mengutip potongan hadis qudsi yang menjelaskan langkah untuk mencapai tingkat kewalian ini:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أَحَبَّهُ

“Tiada seoarang hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya” (HR. Al-Bukhari no. 6502)

Jadi untuk mencapai derajat kewalian, seorang hamba harus beriman, bertakwa dengan mengerjakan hal yang wajib dan meninggalkan yang dilarang, serta  senantiasa mengerjakan perkara sunnah. Tidak ada waliyullah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan Allah.

Jadi, orang yang meninggalkan kewajibannya sebagai muslim, seperti meninggalkan shalat, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai waliyullah. Sebab dengan dengan begitu, berarti ia tidak bertakwa kepada Allah.

Kyai Ali menjelaskan, Nabi Muhammad sudah mencapai pangkat kenabian yang tentu saja lebih tinggi daripada pangkat kewalian, namun beliau tidak pernah meninggalkan shalat, bahkan juga tidak pernah meninggalkan shalat berjemaah.

Ali Mustafa Yaqub mengingatkan bahwa hal-hal ajaib, aneh, luar biasa, dan kelebihan yang timbul dari seseorang, belum tentu merupakan karomah yang dimiliki seorang wali.

Sebab, Allah pun juga memberikan kelebihan dan hal luar biasa kepada orang yang tidak beriman sebagai bentuk istidraj, yaitu perangkap tersembunyi di balik kelebihan dan anugerah yang ia miliki yang berujung pada malapetaka kelak.

Oleh karena itu, beliau mewanti-wanti kita agar tidak mudah percaya dan mengikuti orang yang yang menampakkan berbagai kelebihan, namun di sisi lain ia meninggalkan apa yang telah disyariatkan Allah. Hal ini demi menjaga akidah dan selamat dari jerumus kesesatan.

Apa yang telah disampaikan oleh KH. Ali Mustafa Yaqub ini senada dengan pendapat ulama terdahulu. Imam al-Qusyairi menjelaskan dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyah (1/117):

 فَكُلُّ مَنْ كَانَ لِلشَّرْعِ عَلَيْهِ اعْتِرَاضٌ فَهُوَ مَغْرُوْرٌ مَخْدُوْعٌ

“Setiap orang yang perilakunya bertentangan dengan syariat, maka orang tersebut tertipu hawa nafsu dan terbujuk setan”

Terakhir, dinukil dari kitab Nataij al-Afkar al-Qudsiyyah (3/377) Syekh Zakariya al-Anshari juga menegaskan:

فَلَا يُرَاعَى فِيْ الوَلِيِّ إِلَّا الاِسْتِقَامَةُ عَلَى مَا ثَبَتَ بِالأَدِلَّةِ الصَّحِيْحَةِ. وَجَرْيَانُ خَوَارِقِ العَادَةِ عَلَى يَدِ العَبْدِ لَا يَدُلُّ عَلَى وِلَايَتِهِ، بَلْ قَدْ يَكُوْنُ مَمْكُوْرًا بِهِ وَكَذَّابًا عَلَى رَبِّهِ.

“Yang diperhatikan pada diri seorang wali adalah keistiqamahannya menjalani ibadah  berlandaskan pada dalil-dalih sahih. Keajaiban yang muncul dari seorang hamba tak lantas menunjukkan kewaliannya, bahkan jsutru ia sedang tertipu daya dan berdusta kepada Tuhannya”

Demikian penjelasan ada wali tapi tidak Shalat, ini pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Baca: Acara 1000 Hari Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub: Dari Diskusi Sampai Bedah Buku )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.