Serbaserbi

Beda Pendapat Rasulullah SAW dengan Umar Bin Khattab, Kadang Allah Benarkan Umar

Tak sekali dua kali Umar bin Khattab berbeda pendapat dengan Rasulullah SAW dalam berbagai urusan di masa permulaan penyebaran Agama Islam. Ijtihad Umar ini seringkali diikuti turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad . Wahyu itu justru membenarkan pendapat Umar.

Muhammad Husain Haekal dalam buku berjudul “ Umar bin Khattab ” menulis tatkala Rasulullah dengan kekuatan 300 orang Muslimin keluar menyongsong kaum kafir Quraish dan beliau tahu bahwa di pihak Mekkah yang datang dengan kekuatan lebih dari seribu orang, Rasulullah bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya: Akan tetap menghadapi perang dengan mereka atau akan kembali ke Madinah.

Umar dan Abu Bakar menyarankan lebih baik mereka dihadapi. Setelah pertempuran dimulai, dan perang pun berkobar, korban pertama di pihak Muslimin adalah Mihja’, bekas budak Umar bin Khattab.

Di tengah- tengah pertempuran itu Umar pun sempat membunuh saudara ibunya, al-As bin Hisyam.

Disebutkan bahwa ketika itu Umar bertemu dengan Sa’id, anak al-As, maka katanya:

“Saya lihat Anda seperti menyimpan sesuatu dalam hati Anda. Saya lihat Anda mengira saya sudah membunuh ayah Anda. Kalaupun saya bunuh dia, tidak perlu saya meminta maaf kepada Anda, sebab yang saya bunuh paman saya, saudara ibu saya al-As bin Hisyam bin al-Mugirah. Tentang bapak Anda, ketika saya melewatinya ia sedang mencari-cari sesuatu seperti lembu mencari tanduknya, saya menghindar dari dia. Lalu ia mendatangi Ulayya, sepupunya, maka dibunuhnya lah dia.”

Menurut Haekal, kata-kata yang diucapkan Umar ini merupakan yang pertama kali dikutip tentang dia dalam perang ini, perang yang telah membentuk sejarah Islam dan sejarah dunia ke dalam bentuk baru. Perang ini melukiskan pengaruh yang ditanamkan Islam ke dalam diri Umar dengan sangat jelas sekali.

Demi agama ini orang harus menganggap segalanya itu tak ada artinya, ia tak boleh ragu ketika terjadi jika ia harus berhadapan dengan saudara atau dengan kerabat dekat. Ia mempersembahkan hidupnya untuk Allah dan di jalan Allah. Dengan pertimbangan apa pun ia tak boleh ragu dalam membela agama Allah.

Beda Pendapat

Muslimin menawan 70 orang Quraisy, kebanyakan pemimpin-pemimpin dan orang-orang berpengaruh di kalangan mereka. Umar bin Khattab termasuk orang yang paling keras ingin membunuh para tawanan itu. Tetapi para tawanan itu masih ingin hidup dengan jalan penebusan.

Mereka mengutus orang kepada Abu Bakar agar membicarakan dengan Rasulullah untuk bermurah hati kepada mereka dan mereka bersedia membayar tebusan. Abu Bakar berjanji akan berusaha. Tetapi karena mereka khawatir Umar akan mempersulit keadaan, mereka juga mengutus orang kepada Umar dengan pesan seperti kepada Abu Bakar. Tetapi Umar menatap mereka penuh curiga.

Abu Bakar datang menemui Rasulullah dengan permintaan agar bermurah hati kepada para tawanan perang itu atau menerima tebusan dari mereka, yang berarti dengan demikian akan memperkuat Muslimin. Tetapi Umar tetap keras dan tegas. “Rasulullah,” katanya. “Mereka musuh-musuh Allah. Dulu mereka mendustakan, memerangi dan mengusir Rasulullah. Penggal sajalah leher mereka. Mereka inilah biang orang-orang kafir, pemuka-pemuka orang sesat. Allah sudah menghina kaum musyrik itu dengan Islam.”

Dalam hal ini Rasulullah bermusyawarah dengan Muslimin dan berakhir dengan menerima tebusan dan Nabi membebaskan mereka.

Tetapi tak lama sesudah itu datang wahyu dengan firman Allah ini:

“Tidak sepatutnya seorang nabi akan mempunyai tawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia. Kamu menghendaki harta benda dunia; Allah menghendaki akhirat. Allah Maha Kuasa, Mahabijaksana.” (Qur’an, 8:67).

Begitulah Umar, memberikan pendapatnya sekitar peristiwa Badar, seolah sudah melihat peristiwa itu sebelum terjadi. Dengan demikian, Nabi dan kaum Muslimin sangat menghargai pendapatnya, kedudukannya makin tinggi di samping Nabi dan di kalangan kaum Muslimin umumnya.

Pada suatu ketika, Mikraz bin Hafs hendak menebus Suhail bin Amr. Suhail ini seorang orator ulung. Melihat Mikraz melakukan tebusan, cepat-cepat Umar menemui Rasulullah seraya katanya: “Izinkan saya mencabut dua gigi seri Suhail bin Amr ini supaya lidahnya menjulur ke luar dan tidak lagi berpidato mencerca Anda di mana-mana.”

Rasulullah menjawab: “Saya tidak akan memperlakukannya secara kejam, supaya Allah tidak memperlakukan saya demikian, sekalipun saya seorang nabi.”

Menurut Haekal, ucapan Umar itu teras terang menunjukkan kegigihannya mengenai pendapatnya untuk tidak membiarkan para tawanan yang berkemampuan kembali mengadakan perlawanan kepada kaum Muslimin. la sangat menekankan pendapatnya itu kendati masyarakat Muslimin sudah memutuskan menerima tebusan.

Wahyu turun memperkuat pendapat Umar mengenai para tawanan perang. Ini juga yang membuat Umar makin dekat di hati Nabi. Ia menjadi pendampingnya seperti juga Abu Bakar.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.