Serbaserbi

Sayyidah Shafiyah: Tawanan Perang, Putri Ulama Yahudi yang Dinikahi Rasulullah SAW

Sayyidah Shafiyah binti Huyai bin Akhtab adalah bangsawan Bani Nadhir, keturunan Nabi Harun as. Maknanya, jika ditarik garis nasabnya, Nabi Musa as terhitung sebagai pamannya.

Rasulullah pernah mengatakan padanya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi. Pamanmu pun seorang nabi. Dan engkau dalam naungan seorang nabi. Bagaimana kau tidak bangga dengan hal itu?”

Sayyidah Shafiyah lahir tahun 9 sebelum hijrah dan wafat 50 H. Tahun lahir dan wafat itu bertepatan dengan 613 M dan 670 M.

Sebelum memeluk Islam, Sayyidah Shafiyah pernah menikah dengan Salam ibn Abi Haqîq, kemudian dengan Kinanah ibn Abi al-Haqîq, penguasa Benteng al-Qumush, benteng yang paling megah di Khaibar. Keduanya adalah kesatria dan penyair terbaik dari kaumnya. Kala itu, penyair menempati posisi mulia. Mereka terhitung sebagai cerdik cendekia.

Ayah Sayyidah Shafiyah, Huyai bin Akhtab, adalah tokoh Yahudi sekaligus ulama mereka. Sang ayah tahu bahwa Muhammad bin Abdullah adalah seorang nabi akhir zaman. Ia tahu persis sejak kali pertama kaki Nabi yang mulia menjejak tanah Yatsrib (nama Madinah di masa lalu). Namun ia sombong dan menolak kebenaran. Karena apa? Karena nabi itu berasal dari Arab bukan dari anak turunan Israil (Nabi Ya’qub).

Keadaan ini diceritakan Sayidah Shafiyah sebagai berikut:

“Tak ada seorang pun anak-anak ayahku dan pamanku yang lebih keduanya cintai melebihi aku. Tak seorang pun anak-anak keduanya membuat mereka gembira, kecuali ia melibatkan aku bersamanya.

Ketika Rasulullah SAW tiba di Quba -perkampungan Bani Amr bin Auf-, ayah dan pamanku, Abu Yasir bin Akhtab, datang menemuinya di pagi buta. Demi Allah, mereka baru pulang menemui kami saat matahari menghilang. Keduanya datang dengan ekspresi layu, lunglai, dan jalan tergontai lesu. Aku berusaha membuat mereka gembira seperti yang biasa kulakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari keduanya peduli walau hanya sekadar menoleh padaku.

Aku dengar pamanku, Abu Yasir, bicara pada ayahku, “Apakah dia itu memang si nabi itu?

“Iya, demi Allah,” jawab ayah.

“Kau kenali dia dari sifat-sifat dan tanda-tandanya?” tanya paman lagi.

“Iya, demi Allah,” ayah memberikan jawaban yang sama.

“Lalu bagaimana keadaan dirimu terhadapnya?” tanya paman.

Ayah menjawab, “Demi Allah, permusuhan selama aku masih hidup.”

Diceritakan oleh Musa bin Uqbah az-Zuhri bahwa saat Rasulullah SAW di Madinah, Abu Yasir bin Akhtab datang menemui beliau. Ia mendengar ucapan-ucapan beliau. Setelah itu, ia kembali ke kaumnya dan berkata, “Taatilah aku. Sesungguhnya Allah telah mendatangkan pada kalian seseorang yang kalian tunggu-tunggu. Ikutilah dia! Jangan kalian menyelisihinya.”

Kemudian Huyai bin Akhtab yang merupakan pimpinan Yahudi segera beranjak menemui Rasulullah SAW. Ia duduk dan mendengar ucapan Nabi. Setelah itu pulang menuju kaumnya. Huyai adalah seorang yang ditaati. Ia berkata, “Aku telah datang menemui laki-laki itu. Demi Allah, aku akan senantiasa memusuhinya selamanya.”

Abu Yasir berkata, “Hai anak pamanku, ikutlah bersamaku dalam permasalahan ini. Selain urusan ini silahkan tidak bersamaku sekehendakmu. Kau tidak akan binasa.”

Huyai menjawab, “Tidak! Demi Allah! Aku tak akan menurutimu.”

Ia dikuasai oleh setan. Dan kaumnya mengikuti pandangannya (Ibnu Hisyam: as-Sirah an-Nabawiyah 1/519-520 dan Ibnu Katsir: as-Sirah an-Nabawiyah 2/298).

Setelah kejadian itu, Sayyidah Shafiyah mengetahui bahwa Rasulullah berada dalam jalan yang benar. Ternyata selama ini, kaumnya tidak memberitahukan tentang Nabi Muhammad kepada dirinya.

Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy

Perang Khaibar

Sejak Nabi tiba di Madinah, orang-orang Yahudi Khaibar telah bulat menolak ajakan damai. Kebuntuan tersebut tak dapat didobrak kecuali dengan perang.

Pada pertengahan kedua bulan Muharram Tahun 7 H, Rasulullah SAW berangkat bersama segenap pasukan Muslim disertai persenjataan dan perlengkapan perang yang lengkap menuju Khaibar. Begitu melihat mereka, Rasulullah berseru, “Allah Akbar! Hancurkan Khaibar! Sungguh ketika kami turun di halaman suatu kaum, amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang mendapat peringatan itu!”

Setelah pertempuran berdarah yang terjadi antara iman dan kekufuran itu berlangsung, perang berakhir dengan kemenangan di pihak kebenaran dan Islam yang mengalahkan kebatilan dan kekufuran.

Khaibar pun runtuh, benteng-bentengnya berhasil ditempus, para laki-lakinya terbunuh, termasuk Huyay bin Akhthab. Sedangkan para wanita menjadi sandera. Salah seorang wanita yang menjadi sandera adalah seorang bangsawan Bani Nadhir, Sayyidah Shafiyah binti Huyai ibn Akhthab. Ia adalah kembang para wanita Khaibar yang paling mulia bagi mereka dan saat itu Sayyidah Shafiyah belum genap berusia 17 tahun

Saat para tawanan dikumpulkan, Dihyah bin Khalifah al-Kalbi menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku seorang budak wanita dari tawanan ini.”

Nabi menanggapi, “Silahkan. Ambillah seorang budak perempuan.” Dihyah yang Malaikat Jibril suka menyerupainya ini memilih Shafiyah binti Huyai.

Lalu datang seseorang menemui Nabi. Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, Anda telah memberikan Dihyah seorang Shafiyah binti Huyai. Seorang tokoh Bani Quraizah dan Bani Nadhir. Wanita yang tidak layak untuk siapa pun kecuali Anda.”

Kemudian Nabi bersabda, “Panggil Dihyah bersama dengan Shafiyah.”

Dihyah pun datang membawa Shafiyah. Saat Nabi melihat Shafiyah, beliau berkata pada Dihyah, “Pilihlah tawanan wanita selain dirinya.”

Dahiyyah pergi tanpa membawa pulang Shafiyyah, dia memilih tahanan yang lain untuk dijadikan budak. Sementara Rasulullah mempunyai bagian harta perang, yang biasanya dikenal dengan istilah shafi (jarahan perang yang dipilih pemimpin untuk dirinya). Rasulullah bebas dalam memilih, apakah ingin memilih budak laki-laki, budak perempuan, atau kuda, selama belum melebihi seperlima.

Dalam deretan tawanan itu ada juga Kinanah ibn Rabi’, suami Shafiyah binti Huyai, yang saat itu menjadi penanggung jawab harta simpanan Bani Nadhir. Akhirnya ia diseret untuk menghadap Rasulullah SAW. Beliau menanyakan kepadanya tentang gudang kekayaan Khaibar itu, tetapi ia tidak mau memberitahukan di mana gudang itu berada. Ia bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak memegang rahasia tentang harta simpanan tersebut.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pun bersabda, “Jika ternyata kami menemukannya padamu, akankah kami membunuhmu?” Kinanah menjawab, “Ya.”

Tatkala Rasulullah menemukan bahwa harta itu memang disimpan di rumahnya, beliau mengirim Kinanah kepada Muhammad ibn Salamah agar dihukum pancung sebagai balasan untuk saudara Muhammad, Mahmud ibn Salamah, yang dibunuh oleh kaum Yahudi dalam perang tersebut.

Para wanita Qumush pun digiring sebagai tawanan. Rombongan itu dipimpin oleh Sayyidah Shafiyah ditemani oleh seorang saudari sepupunya. Mereka digiring oleh sang muazin Rasulullah, Bilal ibn Rabbah r.a. Bilal membawa para tawanan melewati medan pertempuran yang telah berakhir.

Medan itu dipenuhi oleh mayat orang-orang Yahudi yang terbunuh. Saudari sepupu Shafiyah itu pun menjerit dan histeris melihat pemandangan tersebut. la menutup wajahnya, lalu ia lumurkan debu di kepala sambil menjerit sekeras-sekerasnya, meratapi para laki-laki kabilahnya. Sementara itu, Sayyidah Shafiyah hanya terdiam, tetap tenang, dan tampak bersedih. Namun, ia sama sekali tidak bersuara atau meratap sedikit pun.

Sayyidah Shafiyah dan saudarinya dibawa menghadap Rasulullah SAW. Saat itu ketenangan menyelimuti wajah Sayyidah Shafiyah yang cantik jelita. Sementara itu, rambut saudari sepupunya tampak tidak karuan dan berlumuran debu dengan baju yang tercabik-cabik. Ia tidak henti-hentinya meratap, menjerit, dan menangis di hadapan Rasulullah SAW

Selanjutnya, Rasulullah mendekati Shafiyah dan memandangnya dengan penuh simpati dan belas kasih. Beliau bersabda, “Wahai Bilal, apakah engkau sudah kehilangan belas kasih hingga mengajak kedua wanita ini melewati jasad para laki-laki mereka yang terbunuh?”

Dua Pilihan

Sayyidah Shafiyah adalah seorang wanita tawanan yang bertakwa, bersih dan suci. Ialah wanita yang memiliki dua mata yang berkaca-kaca, kejernihan yang paling jernih.

Rasulullah memberikan pilihan kepada Sayyidah Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Sayyidah Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau, dengan emas kawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Sayyidah Shafiyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”

Dalam suatu hadits dari Anas disebutkan bahwa saat membawa Shafiyah binti Huyai, Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Apakah engkau mau menikah denganku?” Shafiyah menjawab, “Wahai Rasulullah, ketika masih menjadi musyrik pun aku telah mengharapkan hal itu, apalagi jika Allah memberiku kesempatan untuk itu dalam Islam.”

Rasulullah SAW pun menunggu Shafiyah sampai suci dari haid. Setelah suci, beliau memerdekakan dan menikahinya. Kemerdekaannya itulah yang menjadi mas kawin bagi Shafiyah.

Setelah Rasulullah menikahi Shafiyah, beliau menunggu di Khaibar hingga Shafiyah menjadi tenang. Setelah itu, beliau memboncengkan Shafiyah menuju sebuah rumah di ujung Khaibar yang jaraknya kurang lebih 6 mil dari Khaibar. Rasulullah bermaksud menjadikan Shafiyah sebagai pengantin, tetapi Shafiyah menolak dan tidak mau jika Rasulullah melakukannya.

Penolakan dan keengganan Shafiyah memberatkan Rasulullah. Setelah itu, beliau kembali untuk menyiapkan pasukan dan segera kembali ke Madinah al-Munawwarah. Dalam perjalanan itu beliau melewati daerah Shahba. Selanjutnya, beliau perintahkan pasukan agar berhenti dan turun untuk sekadar istirahat di tempat tersebut. Saat itulah, beliau melihat Sayyidah Shafiyah tampak sudah siap menjadi pengantin.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Ummu Sulaim binti Malhan atau Ummu Anas bin Malik mendatangi Shafiyah lalu menyisir rambutnya, merias, dan memakaikan wewangian. Shafiyah pun muncul sebagai seorang pengantin yang cantik dan menawan hingga memesona seluruh mata yang memandang. Bahkan, Ummu Sinan al-Aslamiyah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat wanita yang lebih cerah daripada Shafiyah.

Madinah al-Munawwarah begitu bersinar oleh sukacita atas pernikahan Rasulullah SAW. Terselenggaralah walimatul ‘ursy (perjamuan makan dalam resepsi pernikahan) yang sangat ramai. Semua orang menikmati suguhan Khaibar yang lezat hingga kenyang. Setelah itu, Rasulullah SAW menemui Sayyidah Shafiyah dengan hati yang masih menyisakan sedikit duka dan tekanan atas penolakan Sayyidah Shafiyah sebelumnya untuk menjadi pengantin beliau.

Sayyidah Shafiyah binti Huyai, sang pengantin yang cantik itu, menyambut Rasulullah dengan wajah berseri.

Saat memandangnya, Nabi melihat ada bekas lebam di wajah istrinya itu. Beliau bertanya, “Apa ini?”

Sayyidah Shafiyah bercerita kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, pada malam pengantinku dengan Kinanah ibn Rabi’, aku bermimpi melihat purnama jatuh ke pangkuanku. Ketika bangun dari tidur, aku ceritakan mimpiku itu kepada Kinanah. Dengan marah ia berkata: ‘Hal itu terjadi tiada lain karena engkau mengharapkan si raja Hijaz, Muhammad! la pun menampar wajahku dan hingga kini bekas tamparan itu masih ada di wajahku”.

“Demi Allah, saat itu aku sama sekali tidak menyebut-nyebut dirimu”. (Ibnul Qayyim: Zadul Ma’ad, 3/291)

(mhy)Miftah H. Yusufpati

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.