Keagamaan

Kebolehan Perayaan Ketupat, Berikut Ini Penjelasannya | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Perayaan ketupat di masa Idul Fitri atau lebaran identik erat dengan masyarakat Indonesia. Perayaan ketupat, menjadi budaya yang tak terpisahkan dengan masyarakat muslim di pelbagai daerah di Indonesia. 

Bulan Ramadhan 1443 H. telah usai. Kebiasaan sebagaimana terjadi di masyarakat Indonesia adalah melakukan halal bi halal. Satu sama lain saling memaafkan. Karena acapkali dalam mengarungi kehidupan terkadang penuh dengan perlombaan dan persaingan yang acapkali tanpa mengenal kata kawan dan lawan. 

Substansi dari serangkaian kegiatan halal bi halal di sini kemudian diaktualisasikan sebagai wujud konkret dalam meraih kerelaan untuk saling bermaaf-maafan sebagai pangkal tolak ukur kembali memulai kehidupan sebagaimana biasanya. 

Setelah ibadah halal bi halal, lalu ibadah apa lagi? Biasanya di masyarakat juga mempunyai tradisi kumpul berhemah di masjid dalam rangka menyambut hari ketujuh pada bulan Syawal. Pada hari ketujuh ini banyak yang menamainya sebagai hari ketupat. Ada lagi yang menamainya sebagai lebaran ketupat. Apapun itu acaranya, pada dasarnya adalah untuk bersama-sama semata-mata untuk melantunkan dzikir kepada Allah SWT serta pujian kepada-Nya sebagai manifestasi rasa syukur.

Sebagaimana tradisi halal bi halal yang memiliki pesan substansial tersebut, dalam perayaan ketupat tersebut sejatinya untuk menutup acara halal bi halal dengan sebuah serangkaian kegiatan yang di dalamnya diisi dengan pembacaan dzikir dan pujian serta sanjungan kepada Allah SWT.

Sebagaimana halal bi halal, setelah pembacaan dzikir, biasanya masyarakat kembali saling bermaaf-maafan. Tujuannya, setelah ini agar kesalahan tersebut benar-benar sudah bersih dan sama sekali tidak berbekas.

Selanjutnya, menghapus kesalahan kata Prof. Dr. Salman Harun (2016: 297) diungkapkan dengan kata al-safh, secara harfiah berarti lembaran, artinya ‘memberikan lembaran baru yang bersih untuk diisi’. Seperti tradisi yang telah dan sedang berlangsung di daerah Jawa Timur hingga saat ini adalah pasca-halal bi halal kemudian dilanjutkan dengan perayaan ketupat.

Perayaan Ketupat dan Hukumnya

Oleh sebagian orang, perayaan ketupat kemudian dianggap sebagai menambahkan ajaran baru atau ibadah baru. Sehingga tidak diperankan kemudian oleh sebagian yang lain dianggap sebagai sesuatu yang sesat dan menyesatkan. Dalam kamus bahasa jahiliyah dikenal dengan ‘bid’ah’.

Ma’tuf Khazin, pakar aswaja dari Jawa Timur memberikan respons terkait dengan tuduhan sesat dan atau populernya adalah ‘bid’ah’. Menurutnya, tuduhan tersebut sama sekali tidak mendasar dan tidak benar. Orang membaca dzikir kok dikatakan sesat? 

Dalam Hari Raya ketupat hanya sekedar bersilaturahmi ke tetangga dan kerabat dengan menyuguhkan makanan khas, ketupat, dinikmati bersama setelah puasa sunah 6 hari bulan Syawal. 

Menurut beliau, bahwa tidak ada larangan menampakkan rasa bahagia di selain dua hari raya. Selama larangan tersebut tidak ada, maka sah-sah saja dilakukan. Beliau merujuk pada Fatawa Al-Azhar, 10/160:

ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻧﺺ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﻔﺮﺡ ﻭاﻟﺴﺮﻭﺭ ﻓﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ، ﻓﻘﺪ ﺳﺠﻞ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺮﺡ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺑﻨﺼﺮ اﻟﻠَّﻪ ﻟﻐﻠﺒﺔ اﻟﺮﻭﻡ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻛﺎﻧﻮا ﻣﻐﻠﻮﺑﻴﻦ ” ﺃﻭاﺋﻞ ﺳﻮﺭﺓ اﻟﺮﻭﻡ “.

“Tidak ada dalil yang melarang untuk menampakkan rasa bahagia di selain 2 hari raya tersebut. Sungguh Al Qur’an telah menegaskan kebahagiaan umat Islam atas pertolongan Allah yang diberikan kepada Bangsa Romawi atas kemenangan mereka setelah sebelumnya mereka kalah, yang dijelaskan dalam permulaan Surat Ar-Rum” (Fatawa Al-Azhar, 10/160).

Selain daripada itu, beliau juga merujuk pesan gurunya, KH Muhyiddin Abdussamad Jember, Yang berpendapat bahwa pemberian ketupat ke tetangga adalah bagian dari menjalankan perintah Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

ﺇﺫا ﻃﺒﺨﺖ ﻣﺮﻗﺎ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﻣﺎءﻩ، ﺛﻢ اﻧﻈﺮ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﻣﻦ ﺟﻴﺮاﻧﻚ، ﻓﺄﺻﺒﻬﻢ ﻣﻨﻬﺎ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ

Jika kamu memasak kuah maka perbanyak airnya, lalu perhatikan keluarga tetanggamu. Kemudian beri bagian kepada mereka dengan baik” (HR Muslim dari Abu Dzar)

Alhasil, dalam perayaan ketupat ini sama sekali bukan menambahkan ibadah baru dalam agama Islam. Ia sejatinya merupakan serangkaian kegiatan ibadah sebagai manifestasi rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa sunnah 6 hari bulan Syawal.

Dengan demikian, apapun jenis perayaan tersebut selama itu baik dan tujuannya sesuai dengan syariah dan rangkaian kegiatannya masih dalam koridor Islam, maka itu boleh dilakukan. (Baca juga: Hukum Makan Ketupat di Hari Lebaran).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.