Keagamaan

Berikut Larangan Allah Menjadi LGBT | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Belakangan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) tengah menjadi isu yang banyak diperbincangkan nitizen. Terlebih, salah satu Youtuber kondang mengundang pasangan gay untuk diwawancarai. Nah berikut larangan Allah menjadi LGBT. 

Segala sesuatunya oleh Allah diciptakan berpasangan, hatta sandal sekalipun, ada sisi kanan dan kirinya. Terlebih dalam konteks manusia, sudah jelas ada laki-laki dan perempuan. Namun sayangnya ada beberapa oknum yang dia memilih jalan yang anti mainstream, yakni menyukai sesama jenis.

Memang nikah itu harus sejenis, namun yang dimaksud adalah sesama manusianya, bukan dengan makhluk lainnya. Adapun pasangannya, maka harus beda jenis dari segi gendernya. (Baca juga: Ibnu Hazm, Ibnu Bajjah, dan Cinta Sejenis)

Entah karena didasari apa, seseorang bisa menyukai sesama jenis. Yang jelas ini adalah orientasi seksual yang menyimpang, naluri sehat manusia pun pastinya akan menolaknya. Apalagi ini juga dilarang oleh norma agama.

LGBT tidak dapat diterima sama sekali, adapun orang yang telah terjebak dalam LGBT, maka kita harus berusaha untuk menyelamatkannya. Namun jika ia sudah tidak bisa diarahkan, mari menempuh jalan ninja, yakni dengan berdoa agar ia tidak “menyimpang”.

Amat sangat banyak sekali larangan melakukan perbuatan menyimpang ini, larangannya disajikan dengan menceritakan kaum Nabi Luth As yang mana mereka terbiasa dengan perilaku ini. Kisah ini tertera dalam berbagai surat. 

Semisal Al-A’raf ayat 80-81, Al-Hijr 67-72, Hud 79, Al-Ankabut 33, Al-Syu’ara 167, Al-qamar 33 dan lain-lain. Berikut adalah salah sekian penjelasan para mufassirin terkait larangan melakukan perbuatan nira adab ini: 

قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: وأمطرنا على قوم لوط الذين كذبوا لوطًا ولم يؤمنوا به، مطرًا من حجارة من سجّيل أهلكناهم به= (فانظر كيف كان عاقبه المجرمين) ، يقول جل ثناؤه: فانظر، يا محمد، إلى عاقبة هؤلاء الذين كذبوا الله ورسوله من قوم لوط، فاجترموا معاصيَ الله، وركبوا الفواحش، واستحلوا ما حرم الله من أدبار الرجال، كيف كانت؟ وإلى أي شيء صارت؟ هل كانت إلا البوار والهلاك؟ فإن ذلك أو نظيرَه من العقوبة، عاقبةُ من كذَّبك واستكبر عن الإيمان بالله وتصديقك إن لم يتوبوا، من قومك.

 “Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 84 “dan telah kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka lihatlah bagaimana akibat yang diperoleh oleh orang-orang yang durhaka”.

Kemudian Mufassir juga menyampaikan “Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW dalam hadis qudsi “Lihatlah wahai Nabi Muhammad, bagaimana akibat yang diterima kaum luth, yang mana mereka mendustakan Allah dan rasul-Nya.

Mereka bermaksiat kepada Allah, melakukan perkara yang nira adab, juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah semisal homo seksual. Bagaimana keadaan mereka? Mereka jadi apa? Apakah mereka mendapatkan kebinasaan dan kehancuran?.

Yang demikian adalah akibat yang diterima oleh mereka yang mendusatakanmu (Muhammad) dan enggan untuk Iman kepada-Ku (Allah SWT), serta mempercayaimu Muhammad. (Abu Ja’far Jarir Al-Thabari, Jami’ al-Bayan atau biasa disebut dengan tafsir Al-Thabari

Secara leksikal khitab (lawan atau objek bicaranya) dari ayat ini adalah Nabi kita Muhammad SAW, Namun dijelaskan oleh Mufassir berikut:

{فَانْظُرْ} يا محمد {كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ} هؤلاء {الْمُجْرِمِينَ} وآخر أمرهم الذين كذبوا بالله ورسوله الذي أرسل إليهم، وعملوا الفواحش كيف أهلكناهم بعذاب مستأصل لهم، وهذا الخطاب، وإن كان للنبي صلى الله عليه وسلم، لكن المراد به غيره من أمته؛ ليعتبروا بما جرى على هؤلاء، فينزجروا بذلك الاعتبار عن الأفعال القبيحة والفواحش الخبيثة، والمعنى: فانظر أيها المعتبر هذا القصص وتأمله حق التأمل؛ لتعلم عذاب الأمم على ذنوبها في الدنيا قبل الآخرة.

Meskipun khitab dari ayat ini adalah nabi Muhammad SAW, namun ini juga berlaku general atas ummatnya beliau. Agar supaya mereka bisa belajar dari pengalamannya kaum sodom, dengan mengetahuinya, maka jauhilah perbuatan tercela dan nira adab itu.

 Maksudnya adalah maka lihatlah kisah ini wahai mu’tabir (orang yang mengambil pelajaran dari pengalaman), hayatilah dengan sepenuhnya, agar upaya kalian tau terhadap adzab kaum sebelummu yang sudah diberikan terlebih dahulu, yakni di dunia.  (Muhammad Al-Amin bin Abdullah Al-Alawi, Tafsir Hada’iq al-ruh wa al-Raikhan fi Rawabi Ulum al-Qur’an)

Tidak juga ketinggalan, Mufassir kebanggan nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid li Kasyf Ma’na al-Quran al-Majid menginterpretasikan ayat ini. Beliau mengatakan:

فَانْظُرْ كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (84) أي فانظر يا من يتأتى منه النظر كيف أمطر الله حجارة من طين مطبوخ بالنار متتابع في النزول على من يعمل ذلك العمل المخصوص، وكيف أسقط مدائنها مقلوبة إلى الأرض.

“Perhatikanlah wahai orang yang mengetahui fakta ini, yakni ketika Allah menghujani mereka yang melakukan sodomi ini dengan tanah yang dibakar dari api neraka, turunnya bersamaan dan menghujam, serta bagaimana desa mereka dibalik ke dalam perut bumi”. 

Secara tersirat, para mufassir melarang perbuatan ini. Karena memang sudah di luar nalar, ada orang yang melakukan ini. Sampai-sampai para ulama’ hanya menasehati dengan suatu kisah saja, tanpa menjelaskan secara spesifik.

Mungkin memang harus demikian, sebab kebanyakan manusia “bisanya” belajar dari pengalaman. Bahkan beberapa juga tidak mempan dengan metode demikian. Semoga kepekaan mereka selalu ada, atas nasehat-nasehat yang telah disiratkan kepada mereka.

Demikian penjelasan terkait  larangan Allah menjadi LGBT.Semoga bermanfaat. (Baca: Ayana Jihye Moon: Mualaf Asal Korea yang Berbeda Nasib dengan Kristen Gray).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.