Keagamaan

Sanksi Bagi Pelaku Sodomi | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Perilaku sodomi jelas menyimpang dari ajaran agama, norma Indonesia pun juga menolak untuk menormalisasi orientasi seksual yang menyimpang ini. Lalu dalam Islam, bagaimana sanksi yang diterima oleh para pelaku sodomi ini?

Dalam Al-Qur’an para kaum sodomi langsung disiksa, dengan dihujani batu yang terbuat dari api neraka. Memandang mereka adalah kaum terdahulu, adapun dalam konteks umatnya Nabi Muhammad SAW, siksa semacam ini ditunda dulu. Hanya saja Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو السَّوَّاقُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الفَاعِلَ وَالمَفْعُولَ بِهِ» وَفِي البَابِ عَنْ جَابِرٍ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ. وَإِنَّمَا يُعْرَفُ هَذَا الحَدِيثُ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ هَذَا الحَدِيثَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، فَقَالَ: «مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ القَتْلَ، وَذَكَرَ فِيهِ «مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى بَهِيمَةً»

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwasanya rasulullah saw bersabda “sesiapa dari kalian yang mendapati orang yang melakukan perbuatannya kaum Nabi Luth As, yakni sodomi, maka bunuhlah ia”. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda “orang yang melakukan sodomi itu akan dilaknat” (HR Sunan Al-Tirmidzi No. 1456)

Dalam kitab syarah hadis dijelaskan:

فِي شَرْحِ السُّنَّةِ فِي حَدِّ اللُّوطِيِّ، فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ فِي أَظْهَرِ قَوْلَيْهِ، وَأَبُو يُوسُفَ، وَمُحَمَّدٌ إِلَى أَنَّ حَدَّ الْفَاعِلِ حَدُّ الزِّنَا أَيْ إِنْ كَانَ مُحْصَنًا يُرْجَمُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُحْصَنًا يُجْلَدُ مِائَةً وَعَلَى الْمَفْعُولِ بِهِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ رَجُلًا كَانَ أَوِ امْرَأَةً مُحْصَنًا أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ ; لِأَنَّ التَّمْكِينَ فِي الدُّبُرِ لَا يُحْصِنُهَا فَلَا يَلْزَمُهَا حَدُّ الْمُحْصَنَاتِ، وَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ اللُّوطِيَّ يُرْجَمُ مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ، وَالْقَوْلُ الْآخَرُ لِلشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُقْتَلُ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ الْحَدِيثِ، وَقَدْ قِيلَ فِي كَيْفِيَّةِ قَتْلِهِمَا هَدْمُ بِنَاءٍ عَلَيْهِمَا، وَقِيلَ: رَمْيُهُمَا مِنْ شَاهِقٍ كَمَا فُعِلَ بِقَوْمِ لُوطٍ وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ يُعَزَّرُ وَلَا يُحَدُّ. اه وَقِيلَ: يُقْتَلُ بِالضَّرْبِ وَقِيلَ: الْحَدِيثُ مَحْمُولٌ عَلَى مُجَرَّدِ التَّهْدِيدِ مِنْ غَيْرِ قَصْدِ إِيقَاعِ الْقَتْلِ ; لِأَنَّ الضَّرْبَ الْأَلِيمَ قَدْ يُسَمَّى قَتْلًا، وَنَقَلَ كَمَالُ بَاشَا عَنْ شَرْحِ الْجَامِعِ الصَّغِيرِ أَنَّ الرَّأْيَ فِيهِ إِلَى الْإِمَامِ إِنْ شَاءَ قَتَلَهُ إِنِ اعْتَادَهُ، وَإِنْ شَاءَ ضَرَبَهُ، وَحَبَسَهُ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ) .

“dalam syarah sunnah dijelaskan mengenai sanksi sodomi, menurut Imam Al-Syafii dalam saah satu qaul adzharnya, Abu Yusuf (dari Madzhab Hanafi), dan Muhammad, bahwa pelau sodomi itu persis seperti zina, maka sanksinya juga sama. Yakni jika muhsan, dirajam, jika belum, maka dicambuk 100 kali. 

Adapun korbannya, baik perempuan maupun laki-laki, maka ia dicambuk sejumlah 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal, pelaku sodomi baik muhsan atau tidak, dijatuhi hukuman rajam. Adapun pendapatnya Imam Syafi’I yang lain itu mengatakan bahwa sanksinya adalah dibunuh, sesuai literal hadis. 

Mengenai prosedur pembunuhannya, berbeda-beda. Ada yang mengatakan jika ia disuruh masuk ke ruangan, sehingga nanti gedungnya akan dirobohkan, yang kemudian mengenainya. Ada juga yang mengatakan dengan dilempari batu, seperti yang dialami kaumnya Nabi Luth As. Ada juga yang mengatakan dibunuhnya itu dengan dipenggal. 

Hanya saja ada ulama yang mengatakan bahwasanya hadis ini hanya sebatas tahdid (menakut-nakuti) saja, dengan tanpa adanya tujuan membunuh. Kamal Basya menuqil dari Syarah Jami’ Al-Shagir, bahwa pelaku sodomi jika sudah candu, maka ia dibunuh, dipukul atau dipenjara oleh imam (raja). ” (Mulla Ali Al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih, VI/2347)

Dalam literatur tafsir (exegesis), beberapa ulama ketika membahas ayat sodomi, beliau-beliau juga menyertakan pendapat ulama’ madzhab mengenai sanksi bagi pelaku sodomi. dijelaskan:

وفي تسمية هذا الفعل بالفاحشة دليل على أنه يجري مجرى الزنا يرجم من أحصن، ويجلد من لم يحصن، وفعله عبد الله بن الزبير: أتى بسبعة منهم، فرجم أربعة أحصنوا، وجلد ثلاثة، وعنده ابن عمر وابن عباس، ولم ينكروا به، وبه قال الشافعي. وقال مالك: يرجم أحصن أو لم يحصن، وكذا المفعول به إن كان محتلما، وعنده يرجم المحصن ويؤدب، ويحبس غير المحصن؛ وهو مذهب عطية وابن المسيب والنخعي وغيرهم. وعن مالك أيضا: يعزر أحصن أو لم يحصن؛ وهو مذهب أبي حنيفة. وحرّق خالد بن الوليد رضي الله عنه رجلا يقال له الفجاء عمل ذلك العمل، وذلك برأي أبي بكر وعلي، وإن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم أجمع رأيهم عليه، وفيهم علي بن أبي طالب ذكره أبو حيان.

Perilaku sodom ini tak ubahnya seperti zina, maka orang yang belum berkeluarga (ghoiru muhsan) dijatuhi hukuman cambuk. Sanksi ini dipraktekkan oleh Abdullah bin Zubair, beliau menghakimi 7 perilaku sodom. Yang 4 dirajam sebab mereka sudah berkeluarga (muhsan), dan yang 3 dicambuk. 

Kejadian ini disaksikan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, keduanya tidak mengingkari hal ini. Imam Al-Syafii mengikuti pendapat ini. Adapun menurut imam Malik, pelaku sodomi, baik muhsan atau tidak, ia disanksi rajam. Sebegitu juga korbannya, jika ia sudah ihtilam (mimpi basah).

 Menurut pendapatnya Ibnu Athiyyah, Ibnu Al-Musayyib, Al-Nakha’i dan lainnya, bahwa pelaku sodom jika muhson itu maka dijatuhi sanksi rajam dan direhabilitasi, adapun jika ia bukan muhsan, maka ia dipenjara. 

Dalam salah satu pendapatnya Imam Malik, pelaku sodomi baik muhsan atau tidak itu dihukum takzir (diasingkan dari desanya, diusir), Abu Hanifah juga berpendapat seperti ini. Adapun Khalid bin Walid itu membakar seorang sodomi yang bernama Fuja’, yang demikian atas pendapatnya Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. 

Para sahabat juga konsensus atas pendapat ini, yang demikian dituturkan oleh Abu Hayyan. (Muhammad Al-Amin bin Abdullah Al-Alawi, Tafsir hada’iq al-ruh wa al-raikhan fi Rawabi Ulum Al-Qur’an  IX/423)

Demikianlah penjelasan mengenai sanksi bagi pelaku sodomi, semoga dengan mengetahuinya, kita dijaga oleh Allah SWT dari perilaku keji ini. Wa Al-Iyadz Billah. (Baca juga: Berikut Larangan Allah Menjadi LGBT).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.