Keagamaan

Hukum Meng-Eja Bacaan Al-Qur’an | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Berikut penjelasan terkait hukum meng-eja bacaan Al-Qur’an. Pasalnya, banyak masyarakat Indonesia yang masih meng-ngeja bacaan Al-Qur’an. Yang belum lancar dalam mengaji.  

Al-Qur’an merupakan ibadah yang tidak lagi diragukan pahalanya sebab begitu banyak nash-nash sharih yang menjelaskan keutamaan membaca kitab suci al-Qur’an. Imam al-Nawawi dalam karyanya al-Adzkar al-Nawawi menyampaikan:

اعلم أن تلاوة القران هي أفضل الأذكار

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya membaca al-Qur’an ialah dzikir paling utama”.

Melihat begitu besarnya pahala yang didapatkan oleh para pembaca al-Qur’an, banyak orang baik dari kalang anak, dewasa maupun tua berupaya untuk selalu membacanya bahkan tidak sedikit diantara mereka yang belajar membaca tanpa memandang usia. 

Dan keadaan demikian dijadikan kesempatan emas bagi mereka yang telah mampu membaca dengan baik, benar dan fasih untuk menuai pahala mengajarkan al-Qur’an. 

Imam Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah al-Bukhari dalam karyanya Shahih al-Bukhari menyampaikan:

حدثنا أبو نعيم ، حدثنا سفيان ، عن علقمة بن مرثد ، عن أبي عبد الرحمن السلمي عن عثمان بن عفان قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم إن أفضلكم من تعلم القرآن وعلمه

“Bercerita padaku Abu Nu’aim bahwa bercerita padaku Sufyan dari ‘Alqamah bin Murtsad dari Abi ‘Abdi al-Rahman al-Salimi dari Utsman bin ‘Affan berkata bahwa Nabi SAW. bersabda: Sungguh lebih utamannya kalian ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya ”.

Untuk bisa membaca al-Qur’an dibutuhkan usaha keras dalam belajar dan meng-eja. Banyak diantara mereka yang belum bisa membaca dengan benar dan fasih, mereka berupaya belajar dan membaca dengan mengeja bacaan al-Qur’an dengan memutus-mutus bacaan perkata, kalimat bahkan perhuruf.

Imam ‘Abdul Hamid al-Makki al-Syarwani dalam karyanya Hawasyi alSyarwani juz 01 vol.154 memberikan wawasan hukum belajar dan mengajarkan bacaan  al-Qur’an dengan cara terputus-putus.

فرع آخر: الوجه جواز تقطيع حروف القرآن في القراءة في التعليم للحاجة إلى ذلك انتهى

“Furu’: Diperbolehkan memutus-mutus huruf al-Qur’an dalam membaca guna mengajar sebab diperlukannya”.

Imam Sulaiman bin ‘Umar al-Jamal menyampaikan pula dalam karyanya Hasyiyah al-Jamal :

 فرع ) الوجه جواز تقطيع حروف القرآن في القراءة للتعليم للحاجة إلى ذلك

“Diperbolehkan memutus huruf-huruf al-Qur’an dalam membaca guna mengajar karena dibutuhkan”.

Dan al-Sayyid Muhammad Haqqi al-Nazili menegaskan pula dalam karyanya Khazinah al-Asrar vol. 60 :

وكذا لا يكره التعليم للصبيان وغيرهم حرفا حرفا وكلمة كلمة مع القطع بين كل كلمتين 

“Begitupula tidak dimakruhkan mengajar anak-anak dan lainya dengan cara membaca perhuruf, perkalimat serta memutus-mutus diantara tiap dua kalimat”.

al-Sayyid Muhammad Haqqi al-Nazili kembali memaparkan bahwa membacaan al-Qur’an dengan memutus-mutus dan meng-ejannya merupakan cara baca yang menurut sudut pandang agama tidak dianggap membaca. Sehingga tidak makruh dan legal bagi para wanita membaca dengan cara demikian dalam keadaan haid dan nifas.

التهجي وتعليم الصبيان لا يعد قراءة ولذا لا يكره التهجي للجنب والحائض والنفساء للقرآن لأنه لا يعد قارئا 

“Meng-eja dan mengajar anak-anak tidak dianggap membaca, oleh karenanya tidak makruh meng-eja al-Qur’an bagi seorang yang junub, haid dan nifas karena mereka tidak dianggap pembaca”.

Ulama hanfiyah dalam karyanya al-Fatawa al-Hindiyah juga memberikan sudut pandang yang sama:

وَإِذَا حَاضَتْ الْمُعَلِّمَةُ فَيَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُعَلِّمَ الصِّبْيَانَ كَلِمَةً كَلِمَةً وَتَقْطَعُ بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ وَلَا يُكْرَهُ لَهَا التَّهَجِّي بِالْقُرْآنِ 

“Ketika seorang pengajar haid maka selayaknya mengajar anak-anak perkalimat dan memutus-mutus diantara dua kalimat, dan tidak makruh baginya meng-eja al-qur’an”.

Demikian hukum meng-eja bacaan Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam. (Baca: Beberapa Ayat Al-Qur’an Turun Disebabkan Orang Munafik, Siapa Saja?).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.