Featured

Pakar Menjawab: apakah penyakit mulut dan kuku hewan ternak bisa menular ke manusia?

Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Indonesia kembali muncul dan mengancam ribuan hewan ternak. Padahal, pada 1986 atau lebih dari 30 tahun lalu Indonesia dinyatakan bebas dari PMK. Otoritas masih menyelidiki sumber wabah ini.

Secara ekonomi, wabah PMK bisa memukul ekonomi Indonesia karena akan muncul pembatasan pengiriman hewan ternak antardaerah. Selain itu, produksi susu dan daging sebagai produk turunannya akan ikut terdampak karena kesehatan hewan menurun.

Masalahnya bukan hanya dampak ekonomi, tapi juga menyangkut hubungan manusia, hewan ternak, dan lingkungan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa di Indonesia jumlah sapi potong sekitar 16 juta ekor, sapi perah hampir 600 ribu, dan kerbau hampir 900 ribu. Jadi total, ada sekitar 18 juta ekor hewan ternak. Hewan-hewan ini diternakkan dalam skala kecil perorangan dan skala besar yang dikelola sebagai industri peternakan.

Perdagangan hewan ternak tersebut antarkota dan antardaerah, antarnegara, juga terjadi. Lalu lintas hewan diduga berkontribusi pada menyebarnya wabah PMK, walau lokasi paling awalnya belum diketahui secara pasti. Pengendalian penyakit ini sungguh mendesak, apalagi awal Juli nanti ada perayaan Idul Adha yang membutuhkan hewan kurban dalam jumlah besar, setidaknya 1,7 juta ekor yang terdiri dari sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Gambar 1. Gambaran struktur virus penyakit mulut dan kuku (serotipe O) yang dideposit oleh Kotecha et al. (2017) di Protein Data Bank. rcsb.org

Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah virus penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak bisa menular ke manusia? Pertanyaan ini muncul dari kekhawatiran virus corona, yang menjadi penyebab COVID-19, diduga berawal dari hewan liar dan lalu melompat ke manusia dan menyebar ke seluruh dunia.

Untuk menjawab masalah tersebut, kami bertanya pada peneliti mikrobiologi terkait penyakit infeksi dan peneliti sains veteriner. Mereka menyatakan bahwa penularan virus penyebab PMK ke manusia kemungkinannya sangat kecil. Penyakit ini lebih banyak menimbulkan masalah dari sisi bisnis peternakan dan industri yang terkait, ketimbang kesehatan masyarakat.

PMK tidak menular ke manusia

Kambang Sariadji, peneliti mikrobiologi di Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan, Badan Kebijakan dan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, mengatakan PMK merupakan penyakit hewan ternak yang sangat menular antarhewan, walau tidak menular ke manusia. “Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menyatakan PMK bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat,” kata Kambang.

Penyebab PMK adalah FMD virus (FMDV). Virus ini masuk dalam genus Aphthovirus dari famili Picornaviridae, yang memiliki tujuh tipe (A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1) yang endemik di berbagai negara. Virus ini menyerang sapi, kambing, domba, dan hewan pemamah biak.

Virus bisa menular melalui lendir dan urine dari hewan, juga dari menghirup aerosol yang mengandung virus. Penularan tidak langsung melalui alat-alat yang terkait hewan ternak seperti kadang, bahan makanan, kendaraan pengangkut, dan pakaian dan alas kaki petugas kandang bisa menjadi medium penularan virus.

Secara teoritis, untuk menjadi penyakit yang menjangkiti manusia, virus harus melewati batas spesies dengan susah payah dan dengan dampak yang kecil.

Kasus manusia terakhir yang dilaporkan di Inggris terjadi pada 1966 dengan gejala ringan seperti demam, sakit tenggorokan, ada luka pada kaki dan mulut serta lidah. Umumnya penyakit ini sembuh dalam sepekan.

Selain itu, pada 1834, tiga dokter hewan tertular PMK karena sengaja meminum susu mentah dari sapi yang terinfeksi. Pada 2012, dilaporkan adanya orang yang terinfeksi saat wabah PMK di Libya .

Namun, masalah sebenarnya bukan terkait penularan virus, tapi umur virus PMK yang bisa berumur panjang. Virus PMK dapat hidup dan bertahan lama di lingkungan, khususnya dalam kondisi terhindar dari matahari, suhu dingin dan adanya bahan organik yang berasal dari makhluk hidup.

“Jika pencegahan penyakit PMK tidak dilakukan, hal ini menyebabkan kasus PMK di Indonesia akan dapat menjadi endemik,” ujar Kambang.

Meski manusia jarang sekali terinfeksi PMK dan belum adanya kejadian tersebut di Indonesia, fakta sejarah tetap menyatakan bahwa manusia dapat terinfeksi dan virus penyebabnya dapat bertambah kuat.

Selain itu, kita harus mengingat bahwa penyebab PMK adalah virus yang dapat bermutasi. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap adanya kemungkinan wabah PMK kali ini dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat bagi manusia.

Perlu waktu lama untuk membasminya

Melihat sejarah wabah PMK di Indonesia, butuh waktu tahunan untuk menghilangkan wabah PMK ini. Jika wabah PMK ini berlangsung secara berkepanjangan, akan diikuti dengan penurunan produktivitas hewan ternak serta produk-produk turunannya. Hal tersebut memicu kelangkaan, kenaikan harga dan terganggunya kran ekspor-impor terhadap produk-produk tersebut.

Kerugian material dan non-material bagi peternak dan masyarakat luas menjadi tidak terhindarkan. Kerugian ini akan sangat terasa mengingat dalam dua bulan ke depan ada perayaan iduladha yang membutuhkan hewan ternak dalam jumlah besar untuk ritual kurban.

Karena itu, otoritas kesehatan hewan harus mengendalikan dan membasmi virus ini. “Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan pengawasan hewan ternak di wilayah Indonesia dan impor ternak dari negara yang belum bebas PMK,” kata Kambang.

Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan

Arif Nur Muhammad Ansori, kandidat doktor bidang Sains Veteriner, Universitas Airlangga mengatakan kemungkinan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan bisa menyerang dan menular ke manusia sangat kecil. “Potensinya sangat kecil dan tidak mematikan,” kata dia.

Virus penyebab PMK ini tidak bersifat zoonosis atau tidak menular ke manusia. Sampai saat ini, belum ada laporan adanya virus ini menular ke manusia. Walau demikian, kata Arif, karena virus bermutasi, kemungkinan menular ke manusia bisa terjadi. Tapi itu tadi, “hal itu sangat kecil kemungkinannya.”

Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap virus penyebab PMK. Penyakit ini lebih banyak menimbulkan masalah pada sisi bisnis hewan ternak dan produk yang berasal dari mereka.

Untuk menjaga keamanan makanan, jika membeli daging sapi, belilah daging yang masih segar dan belilah yang di tempat yang sehat. “Saat masak, panaskan daging hingga suhu 70°C selama sekitar 30 menit ,” ujar Arif. Dengan cara itu, daging sudah aman dikonsumsi karena virus mati.

Selain menginfeksi hewan ternak yang biasa kita kenal, seperti sapi, babi, domba, kambing, dan kerbau, virus ini juga dapat menyerang rusa, kijang, babi hutan, dan jerapah. Anjing, landak, beruang, gajah, dan kanguru juga dapat terinfeksi oleh PMK.

Virus ini, menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, dapat bertahan pada pakan ternak yang terkontaminasi dan lingkungan hingga sekitar satu bulan, tergantung pada suhu dan kondisi keasaman.

Untuk mencegah penyakit ini menular, ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh otoritas kesehatan hewan: memusnahkan hewan yang terinfeksi agar tidak menularkan ke hewan lain, karantina wilayah merah hingga hewan sembuh dan vaksinasi massal hewan ternak.

Jadi, jelas bahwa penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak ini sangat kecil kemungkinan bisa menular ke manusia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.