Keagamaan

Inilah Tujuan Nikah Menurut Imam Nakha'i | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Imam Nakha’i merupakan tokoh agama yang fasih di Indonesia. Ia banyak menjelaskan persoalan perempuan dan gender dengan pendekatan Islam. Berikut tujuan nikah menurut Imam Nakha’i, serta definisi nikah itu sendiri. 

Sebagai asumsi dasar, syari’at menetapkan bahwa melampiaskan dorongan seksual pada dasarnya adalah haram. Imam Syafi’i misalanya, mengatakan bahwa seluruh perempuan adalah haram kecuali apa yang telah dibolehkan oleh syari’at (Imam Syafi’i, al-Um:189/5, al-Risalah:343/1). 

Dalam kaidah yang lebih populer adalah, “Al-Aslu fi al-Abdha’ al-Tahrim” (pada dasarnya segala hubungan seksual haram). (Baca: Ulama 4 Mazhab yang Membolehkan Menikahi Perempuan Ahlu Kitab).

Akan tetapi, hal ini bertentangan dengan naluri kemanusiaan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada seluruh makhluknya, baik laki-laki maupun perempuan. karena salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi adalah biologis. Secara naluri manusiawi, seseorang harus melampiaskan kecenderungan seksualnya. 

K.H. Imam Nakha’i berpendapat bahwa sesungguhnya pensyari’atan nikah merupakan kritik syari’at terhadap praktik-praktik instansi penyaluran seksual yang tidak manusiawi pada masa jahiliyah, misalnya: praktik Syighar, al-Rahthi dan al-Istibdha’.

Macam-macam Penyaluran Seksual di Masa Jahiliyah

Wahbah al-Zuhaily mengatakan ada beberapa praktik penyaluran seksual di masa jahiliyah yang tidak sesuai dengan kehendak syariat karena cenderung merugikan perempuan. (Baca: Memahami Pernikahan Muslim dan Non-Muslim).

Pertama, al-Syighar, yaitu suatu hubungan seksual yang diperoleh seseorang dengan cara melakukan kesepakatan dengan walinya atau bapak yang sama-sama memiliki anak perempuan agar anaknya dibarter untuk dijadikan tempat penyaluran seksual masing-masing. sementara gantinya adalah vagina dari anaknya masing-masing.

Kedua, al-Rahthi, yaitu melampiaskan dorongan seksual kepada seorang perempuan secara rame-rame, setelah hamil dan melahirkan, perempuan tersebut memilih yang mana saja dari laki-laki yang telah menggaulinya sebagai bapak dari anaknya.

Ketiga, al-Istibdha’, yaitu pelampiasan seksual kepada istri seseorang karena suami dari perempuan itu ingin memperbaiki keturunan, baik dari segi ekonomi maupun kelas sosial yang tinggi. Sementara suaminya sendiri tidak menggauli istrinya sampai ia melahirkan.

Oleh karena itulah, syari’at datang dengan memberantas prektik-praktik tersebut dengan cara menggelindingkan nikah sebagai lembaga penyaluran seksual yang dilegitimasi.

Tujuan Nikah Primer Menurut Imam Nakha’i

Menurut Imam Nakha’i, Kritik syari’at tersebut diarahkan kepada tujuan nikah sebagai lembaga penyaluran seksual itu sendiri. Dalam al-Qur’an, secara tegas Allah swt. menjelaskan bahwa tujuan menikah hanya satu, yaitu sakinah. Ini bisa dipahami dari ayat al-Rum dan al-A’raf.

{هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا} [الأعراف: 189] 

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan dari Adam-lah, Dia mencitakan pasangannya agar Adam merasa tentram kepadanya…”

{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا} [الروم: 21] 

“dan termasuk tanda-tandanya, Allah swt menciptakan pasangan-pasangan untuk kalian dari jenis kalian sendiri  agar kalian merasa tentram kepadanya…”

Dari ayat di atas bisa disimpulkan bahwa tujuan pernikahan adalah sakinah (damai, tentram dan tenang). Jadi, tidak benar adagium dan doa yang sering kali diucapkan ketika acara pernikahan, “semoga samawa”.

Hal itu tidak benar sebab al-Qur’an hanya menandaskan bahwa tujuan menikah adalah sakinah (litaskunu). Hanya saja, syari’at memberikan seperangkat alat untuk memperoleh sakinah tersebut, yaitu Mawaddah dan Warahmah. 

Tujuan Nikah sekunder Menurut Imam Nakha’i

Tujuan menikah yang bersifat sekunder ini bisa dipahami dari ayat dan hadits Nabi secara implisit, yaitu mempunyai keturunan. Karena dengan keturunan, umumnya seseorang akan bahagia dalam artian sakinah, dengan keturunan pula maka estafet tugas khalifah di muka bumi terus terealisasi.

Dengan demikian, memiliki anak merupakan tujuan nikah selama tidak meruntuhkan terhadap tujuan pertama. Karena tidak sedikit terkadang seseorang justru tidak tenang karena memiliki anak.

Dalam surah al-Nahl, ayat 72, Allah swt. berfirman:

{وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً (72)} [النحل: 72]

“Allah menjadikan bagi kalian pasangan (pasutri) dari jenis kalian. Dan, menjadikan anak dan cucu dari pasangan kalian…”

{ وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (54} [الفرقان: 54]

“dan Allah yang menciptakan manusia dari air (sperma dan ovum) lalu menjadikan manusia itu mempunyai keturunan dan hubungan kekeluragaan dari pernikahan. Dan, Tuhanmu Mahakuasa…”

Sedangkan hadits Nabi menjelaskan bahwa, “nikahilah wanita yang subur dan bergairah karena aku akan bangga diri di hadapan umat-umat nanti di akhirat sebab kalian”.

Demikian catatan yang dirangkum dari pemikiran Imam Nakha’i tentang pernikahan dan tujuannya. (Baca: Nafkah Keluarga Boleh Ditanggung Bersama-Sama).

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.